Ustadz Fahmi meminta untuk para pengajar dan pengurus pesantren. Agar berkumpul dalam ruangannya. Ada sedikit yang akan dibicarakan olehnya.
Tetapi, saat semuanya sudah kumpul. Hanya Azam yang belum datang. Mungkin masih dalam perjalanan. Sehingga membuat mereka menunggunya.
Membutuhkan waktu sekitar 20 menit untuk menunggu kedatangan Azam. Akhirnya pemuda itu datang. Dengan mengucap salam. Dan duduk di antara barisan para lelaki.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh." Salam Ustadz Fahmi.
"Waalaikumsallam warahmatullahi wabarokatuh." Jawab semua orang yang ada di dalam ruangan.
"Pertama-tama saya mengucapkan terima kasih. Untuk bisa hadir di ruangan saya. Saya tidak panjang lebar yah. Karena saya hanya punya sedikit waktu. Sedangkan saya dalam keadaan masih sibuk."
"Yang ingin saya sampaikan. Bahwa, ada pengajar baru dipesantren kita. Yaitu dua orang. Ustadz dan Ustadzah." Ucapan Ustadz Fahmi membuat yang lain di dalam ruangan. Menautkan halisnya. Mereka juga cukup asing dengan wanita bercadar. Dan lelaki muda yang baru datang tadi.
"Yang pertama, Ustadz Fachrul Azam Ramadhan. Biasa dipanggil Azam. Betul begitu?" Pertanyaan dari Ustadz Fahmi, hanya di angguki oleh Azam.
"Yang kedua, Ustadzah Fatimah Azzahra Ramadhani. Zahra ini keponakan saya."
Perkataan dari Ustadz Fahmi. Membuat Azam membulatkan matanya. Ia tak percaya dengan ucapan Ustadz Fahmi tersebut.
"Zahra?" Batin Azam.
Azam menautkan halisnya. Ia melihat wanita bercadar. Seperti pernah melihat, pikirnya. Tentu, ia mengingat betul. Tentang wanita bercadar itu. Di bandara beberapa hari lalu. Ia menginjak gamis wanita itu. Sampai-sampai ia juga dijemput oleh suaminya.
"Ustadzahnya yang bercadar, disebelah Aisyah."
Azam benar-benar tak menyangka. Zahra sekarang menjadi wanita bercadar? Ia sampai melirik sekejap. Lalu tersenyum kecil.
"Rupanya kamu telah bersuami ra." Batin Azam.
Ia sampai tak mengetahui dengan sosok Zahra sekarang. Ia hampir tak mengenalinya ketika di bandara waktu itu.
Waktu kemarin-kemarin pun. Azam hampir menabrak dengan sosok wanita bercadar itu. Tapi.. ini benar-benar tak percaya. Ia bisa sekebetulan ini. Bahkan, mereka pun nanti cukup sering bertemu.
"Itu saja yang saya sampaikan. Sekarang bisa dibantu. Untuk mengenal ruangan-ruangan yang ada disini."
"Aisyah bisa bantu Zahra? Gus Ali bisa bantu Azam?" Tanya Ustadz Fahmi.
Kemudian Aisyah dan Gus Ali. Mengangguki perkataan Ustadz Fahmi.
Kemudian Aisyah mengenali beberapa ruangan yang ada dipesantren Nurul Huda ini. Semuanya terbilang cukup luas. Karena pesantren pun bisa dibilang cukup besar.
"Nah yang ini dapur. Nanti jika sudah waktunya makan. Kita bisa masak disini." Ucap Aisyah yang mengenali ruangan yang banyak peralatan dapur itu.
Zahra hanya mengartikan ucapan Aisyah.
"Gimana udah hafal?" Tanya Aisyah.
"Belum. Tapi InsyaAllah mungkin bisa."
Aisyah mengelus bahu Zahra. "Iyaa. Pelan-pelan aja. Namanya juga baru."
Lalu Aisyah pergi ke lorong kelas santriwati. Dan ia mengenalkan beberapa kelas pada Zahra.
Sedangkan, Azam. Ia pun cukup terkesan dengan luasnya pesantren Nurul Huda. Ia sampai belum hafal nantinya. Tapi jika sudah terbiasa. Mungkin akan mudah.
"Ini kelas santriawan." Gus Ali menunjukkan kelas. Yang dimana terdapat santriawan yang sedang belajar.
"Syukron Gus." Ucap Azam berterima kasih pada Gus Ali. Karena sudah mengenali beberapa ruangan yang banyak dan luas.
Gus Ali tersenyum ramah. Iya hanya mengangguki perkataan Azam.
Lalu mereka melanjutkan perjalanannya. Tetapi mereka secara tidak sengaja. Bertemu Zahra dan Aisyah. Jadi kini mereka berhadapan. Hanya berjarak dua meter saja.
Zahra menundukkan pandangannya. Ia juga masih tak menyangka jika bisa bertemu Azam kembali. Tak disangka ia sudah tersenyum kecil.
Sedangkan Azam, ia menatap ke arah lain. Sekarang Zahra sudah mendapatkan pendamping yang terbaik. Jadi, tidak ada salahnya jika ia harus bersikap biasa saja.
KAMU SEDANG MEMBACA
Fatimah Azzahra Ramadhani (END)
Teen FictionNamanya Fatimah Azzahra Ramadhani. Seorang wanita yang cukup berilmu dalam agama. yang memilik wajah cantik, tapi ia selalu berkata "Percuma wajah cantik tapi tak berakhlak baik" Kadang memang sekarang. Wanita hanya berlomba-lomba untuk menjadi can...
