64

185 20 0
                                        

Sudah pukul 09:50. Waktunya sarapan. Para pengajar dan para santri-santri bersarapan. Peraturan selama makan tidak boleh ada yang berbicara, kecuali ada kepentingan.

Beberapa menit kemudian sarapan telah selesai. Para santri dan pengajar sudah keluar dari dapur. Kini para pengurus di dapur sedang membersihkan piring serta gelas-gelas yang kotor.

Zahra. Ya, seorang wanita bercadar. Yang selalu rajin dan siap melakukan hal apapun. Ia juga sempat memasak serta mencuci piring-piring kotor. Bagaimana tidak rajin? Ia selalu mempunyai prinsip jika hanya berdiam diri itu tidak enak. Ia lebih suka untuk melakukan banyak pergerakan.

"Sudah, kamu istirahat saja." Ucap Ustadzah Zainab.

Zahra menggeleng. "Enggak papa."

"Mmm.. Aisyah kemana ya? Kok dia belum balik lagi kesini? Kamu tahu?" Tanya Ustadzah Zainab.

Zahra menautkan halisnya ketika merapihkan sebagian piring yang ia sudah cuci.

"Pulang? Zahra enggak tahu. Memangnya sudah berapa hari?"

"Sudah tiga hari. Waktu pamit pulang. Dia cuman bilang sehari dirumah. Setelah itu besoknya ia akan balik lagi kesini. Tapi kemarin juga belum datang-datang."

"Hmm.. ada apa ya? Aku takut terjadi apa-apa sama Aisyah."  Batin Zahra.

"Yasudah, saya pamit dulu mau ke rumah. Assalamualaikum." Pamit Ustadzah Zainab.

"Waalaikumsallam warahmatullahi wabarokatuh." Jawab Zahra ketika baru saja menyelesaikan cucian piringnya.

"Apa Zahra telepon Aisyah?" Ucapnya hanya seorang diri.

Lalu Zahra mengeluarkan ponsel miliknya lalu mencari nama Aisyah dan menekan tombol panggil.

Sudah 3x Zahra menelepon Aisyah, tapi tak kunjung di angkat juga. Akhirnya ia mengakhiri teleponannya itu. Ia menutup pintu dapur pesantren dan menuju kamarnya.

Sesudah sampai dikamarnya. Lagi-lagi ada surat dibawah pintu kamar Zahra. Ia menjadi takut jika melihat seperti ini. Ia juga mengingat-ngingat tentang kejadian Gus Ali itu.

Tapi.. jika dipikir. Lumayan penasaran. Akhirnya Zahra mengambil surat itu. Dan membuka pintu kamarnya. Lalu ia duduk di ranjangnya. Perlahan membuka surat entah dari siapa.

Fatimah Azzahra Ramadhani♥️

Tak ada kata-kata lain yang berada di surat tersebut. Hanya ada nama panjangnya yang tertera disana.

Zahra perlahan menghela nafas. Ia takut jika ada yang bermacam-macam padanya. Akhirnya ia menyimpan surat tersebut di atas meja dikamarnya.

Tak lama, ponselnya bergetar. Menandakan ada pangilan masuk. Tertera nama Rey disana.

"Hallo. Assalamualaikum ra." Ucap Rey lewat telepon.

"Waalaikumsallam warahmatullahi wabarokatuh. Ada apa bang?"

"Kamu dikamar? Abang ada dipesantren di ruang tamu. Abang tunggu disini ya. Assalamualaikum." 

"Waalaikumsallam warahmatullahi wabarokatuh." Zahra menurunkan ponselnya yang tadi berada ditelinganya itu.

Ia perlahan berfikir. Mengapa abangnya tidak mengabari jika mau ke pesantren dulu?

Tak ambil pusing. Akhirnya Zahra keluar kamar dan menguncinya. Lalu dengan bergegas menuju ruang tamu pesantren. Setelah sampai. Benar, Rey berada disana duduk disofa ruang tamu.

Zahra mengucap salam. Lalu dijawab oleh Rey. Kemudian ia mencium punggung tangan Rey.

"Ada apa bang? Kenapa abang ke pesantren." Tanya Zahra.

Rey menatap lekat wajah Zahra. Ia masih memandang wajah adiknya itu meski separuh tertutup oleh cadar. Rey menghela nafas.

"Kita sekarang pulang." Ucap Rey sedikit tersenyum tipis.

Zahra menautkan halisnya. "Pulang? Memangnya ada apa?"

"Pulang dulu."

"T-tapi bang."

Rey menggeleng menandakan Zahra harus menuruti perkataannya.

Zahra lagi-lagi menautkan halisnya. Ia penasaran dengan abangnya yang menyuruhnya untuk pulang. Zahra juga cukup aneh dengan abangnya ini. Mengapa ia tidak terus terang saja.

Zahra menghela nafas. "Yasudah, Zahra mau pamit dulu sama om Fahmi."

"Tidak perlu. Abang udah bilang tadi."

"Kamu siap-siap. Abang tunggu disini." Ucap Rey. Lalu diangguki oleh Zahra.

Zahra berjalan menuju kamarnya. Ia cukup khawatir dengan Rey yang menyuruhnya untuk pulang. Dadanya bergemuruh. Perasaan khawatir serta hal aneh yang mengganjal di hatinya.

Ketika hanya membawa tas ransel miliknya. Zahra mengunci pintu kamarnya. Ketika ingin pergi menuju ke ruang tamu. Ia lagi-lagi melihat surat itu.

Zahra mengambil surat itu. Ia mulai membacanya.

Bismillah, Fatimah Azzahra Ramadhani.

Lagi-lagi surat itu menganehkan isi pikiran Zahra. Surat yang di dalam terisi kata yang sangat singkat. Hanya ada kata bismillah dan nama panjangnya. Siapa yang menaruh surat ini dibawah pintu kamarnya?.

Zahra hanya memasukkan surat itu ke dalam tas ransel miliknya. Ia cepat-cepat berjalan ke ruang tamu untuk menghampiri abangnya itu.

Tiba-tiba dikoridor kelas santri putri. Ning Anisa menyapanya. Lalu membuat langkah Zahra terhenti.

"Assalamualaikum, Ustadzah mau pulang?"

"Waalaikumsallam warahmatullahi wabarokatuh. Na'am."

"Ooh.. yasudah Nisa pamit dulu. Hati-hati dijalan. Assalamualaikum "

"Na'am. Waalaikumsallam warahmatullahi wabarokatuh."

Zahra melangkahkan kakinya lagi. Ia sudah sampai diruang tamu.

"Sudah?" Tanya Rey.

Zahra mengangguk.

Lalu Rey dan Zahra menuju pakiran pesantren. Dan memasuki mobil Rey. Setelah memasang seat beltnya masing-masing. Rey tak melajukan mobilnya dulu.

Ia membuka ponselnya dan mengirim pesan pada seseorang.

"Assalamualaikum. Kami mau berjalan."

Lalu seseorang itu membalas pesan dari Rey.

"Waalaikumsallam warahmatullahi wabarokatuh. Iya bang, saya melihat. Saya juga mau jalan."

Rey memasukkan ponselnya. Lalu mulai melajukan mobilnya yang akan menuju rumah orang tuanya.

Beberapa jam perjalanan. Akhirnya Rey dan Zahra sampai dirumah orang tuanya itu.

Zahra dan Rey mengetuk pintu dan mengucap salam. Setelah itu dibuka oleh Bundanya.

"Sayang.. ayo masuk." Ucap Bunda Rita memegang lengan Zahra.

Lalu mereka memasuki rumah dan duduk disofa ruang tamu.

"Bang Rey menyuruh Ara agar pulang. Memangnya ada apa bun?" Tanya Zahra.

"Eh sudah Adzan ashar ya.. yuk bersih-bersih, setelah itu shalat yah."

Zahra langsung mengerutkan keningnya. Pertanyaannya tak dijawab sebab Adzan ashar telah berkumandang. Tapi.. dipikir-pikir Bunda dan Rey sangat menganehkan.

"Pakai baju ini ya.. sesudah rapih. Kamu langsung turun dan duduk disofa ruang tamu." Ucap Bunda dan memberikan gamis dengan motif sedikit brukat. Serta cadar dan hijab yang senada dengan baju gamis itu.

"Baju Zahra kan banyak bun. Tapi ini sedikit mewah. Kan lagi dirumah, pakai yang biasa aja." Ucap Zahra.

Bunda Rita menggeleng. "Pakai yang ini. Bunda mau ke kamar mau mandi dan shalat ashar. Turuti kata bunda ya.."

Lalu Bunda Rita dan Rey meninggalkan Zahra yang masih kebingungan. Zahra merasa aneh dengan sikap Rey dan Bundanya itu.

Akhirnya ia membawa tas ransel dan baju yang diberikan bundanya. Ia menaiki tangga. Dan masuk ke dalam kamarnya untuk membersihkan diri.

Fatimah Azzahra Ramadhani (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang