67

214 22 0
                                        

Rencananya hari ini Zahra dan Azam akan  balik lagi ke pesantren. Hari ini diantar oleh ayah Rama. Rey dan bunda hari ini menemani Aurel dirumah sakit. Karena dua hari yang lalu Aurel sudah melahirkan anak pertamanya yang berkelamin laki-laki. Diberi nama Muhammad Al-Fatih Arrizky.

Ayah Rama dan Zahra duduk di depan. Sedangkan Azam, ia duduk dibelakang. Ayah Rama meminta agar berangkatnya untuk bersama. Jadi Azam setuju-setuju saja dengan Ayah Rama yang menyuruhnya untuk berangkat bersama.

Mobil sudah melaju. Di dalam perjalanan kendaraan cukup ramai. Pasti membuat mereka sedikit terlambat untuk menuju pesantren nanti.

"Macet nih." Ucap Ayah Rama.

"Iya yah." Ucap Zahra.

Zahra merasa mulai haus. Jadi ia meminum air mineral yang ia bawa dari rumah. Zahra melirik ke arah samping, rupanya Azam sedang berdzikir memutar tasbihnya.

Zahra ingin memberinya ia minum. Tapi dengan begini, akhirnya ia membuka ponselnya dan memberi pesan pada Azam.

Ponsel Azam berbunyi. Ia juga tersenyum ketika membuka isi chat tersebut. Sudah ia duga bahwa Zahra pasti akan memberinya pesan. Ia juga melihat gerak-geriknya tadi.

Zahra menyuruhnya untuk menerima air mineral pemberiannya. Tapi Azam menolak. Ia juga membawa air dari rumahnya sebelum berangkat.

Akhirnya Zahra merasa lega. Ia takut jika Azam nanti kehausan.

Sudah beberapa menit. Akhirnya perjalanan sudah tak padat. Rama melajukan mobilnya lagi.

Beberapa jam kemudian. Akhirnya perjalanan pun terhenti. Mobil sudah sampai diparkiran pesantren. Mereka turun, lalu menuju ruang tamu pesantren.

Zahra pergi ke dapur untuk membuatkan teh hangat untuk ayahnya dan Azam.

"Alhamdulillah sudah sampai." Ucap Rama menjatuhkan dirinya disofa ruang tamu pesantren.

"Iya yah alhamdulillah." Ucap Azam membuat Rama tersenyum hingga menepuk bahunya.

"Nah, gitu dong panggil ayah. Gapapa belum nikah juga. Nanti sebentar lagi kan juga kamu jadi anak saya. Jangan menunggu nikah baru panggil ayah." Ucap Rama membuat Azam tersenyum malu.

"Apa saya tadi memanggil ayah?"  Batin Azam.

"Hmmm.. jika begitu. Saya seperti tidak sabar untuk menjadi suaminya Zahra."  Batinnya lagi.

Xixi sabar ya pak. Sebentar lagi kok. Udah kebelet aja nih. Wkwks!!.

Zahra memasuki ruang tamu membawa nampan berisi dua gelas teh hangat untuk Ayahnya serta Azam.

Rama dan Azam menikmati teh hangat pembuatan Zahra. Tubuhnya lebih segar sesudah minum teh hangat tersebut.

1 jam kemudian. Rama berpamit untuk pulang. Akhirnya Zahra dan Azam mengantarnya sampai parkiran.

"Ayah pulang dulu ya."

"Hati-hati ya yah. Jangan ngebut." Ucap Zahra sambil mencium punggung tangan ayahnya.

"Iyaa.."

"Hati-hati dijalan yah." Ucap Azam membuat Zahra sedikit terkejut dan tersenyum kecil dibalik cadarnya.

"Iya.. kalian juga hati-hati disini. Ayah pamit dulu ya. Assalamualaikum."

"Waalaikumsallam warahmatullahi wabarokatuh."

Kemudian mobil ayah Rama melaju untuk balik lagi ke rumahnya.

Azam berjalan lebih dulu untuk menuju kamarnya. Zahra dibelakang sambil menundukkan pandangan.

Tiba-tiba Aisyah, Gus Ali, Ning Anisa, Lisa, Laila, Gus Ilham dan Gus Faqih menghampiri mereka. Membuat langkah keduanya terhenti.

"Assalamualaikum." Salam mereka.

"Waalaikumsallam warahmatullahi wabarokatuh." Jawab mereka. Dan Zahra menghampiri posisi perempuan.

"Kamu kapan sampe ra?" Tanya Aisyah.

"Satu jam yang lalu." Ucap Zahra.

"Cieee anu rek nikah. Meni sosweet pisan nya." Ucap Laila. Membuat Zahra dan Azam menautkan halisnya. Bagaimana mereka bisa tahu? Itu yang ada dipikiran Azam dan Zahra.

"Gus Ali juga mau menikah sama Nisa. Aisyah juga katanya gitu. Seer pisan euy nu rek nikah."  Ucapnya lagi.

"Kamu mau menikah? Sama siapa?" Bisik Zahra pada Aisyah.

Aisyah tersenyum. "Nanti aku ceritain dikamar kamu."

"Laila jeng saha atuh nikahna."  Gadis yang berbicara bahasa sunda itu membuat semua orang tertawa.

"Masih ada saya. InsyaAllah saya akan menseriuskan niat saya untuk menjadi pendampingnya Laila." Ucap Gus Ilham membuat Laila sontak menatapnya.

Yang lain hanya tersenyum-senyum.

"Nanti pada nyusul-menyusul yaa.." ucap Lisa.

"Emang kamu mau menikah sama siapa Lis?" Tanya Ning Anisa.

"Sama saya." Jawab Gus Faqih.

"Waaahhhh!!!!."

"Jadi nikahannya mau nyusul menyusul ni?  Tapi yang paling cepat Zahra dan Azam. Kemungkinan kita hanya beda bulan atau beberapa minggu." Ucap Gus Ali.

Membuat semua orang menganggukinya. Dan kembali ke kamar masing-masing.

Zahra dan Aisyah sedang duduk diranjang milik Zahra. Aisyah sudah berjanji akan membahas tentang pernikahannya.

"Kamu mau nikah sama siapa?" Tanya Zahra. Membuat Aisyah tersenyum-senyum.

"Sama Akbar."

"Kamu tahu kok orangnya. Yang waktu itu pas kita lagi ngobrol pagi-pagi. Terus ada mobil datang kan? Itu yang melamar aku pada hari itu ra."

Zahra hanya menganggukan kepalanya. Mengerti perkataan Aisyah.

"Terus rencananya mau kapan?" Tanya Zahra lagi.

"Dua minggu setelah pernikahan kalian." Ucap Aisyah.

"Waahhh alhamdulillah."

"Waktu itu aku sempat belum siap ra. Aku sempat punya keinginan untuk menolak. Sebelum aku menerima lamaran Akbar. Aku berdoa sama Allah, apa ini yang terbaik? Terus entah kenapa hati aku memang kayak tertuju pada Akbar. Padahal belum kenal, baru pertama ketemu udah dilamar." Ucap Aisyah.

"Bagus juga syah. Semoga Akbar bisa membuat kamu bahagia selamanya ya syah. Zahra seneng banget lho ngedenger kamu mau nikah."

Aisyah dan Zahra saling berpelukan. Mereka akhirnya sama-sama akan menikah dalam jarak yang tak terlalu jauh. Semoga Akbar bisa menjadi pengganti Azam yang sudah menyakiti hatimu syah. Semoga ini yang terbaik buat kamu.

Fatimah Azzahra Ramadhani (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang