Azam melamunkan diri. Ia masih kepikiran dengan perhatian Zahra tadi.
Seperti pasangan suami istri pikirnya.
Lho lho!! Azam menghayalkan seperti pasangan suami istri?
Oalah zam-zam!!! Kamu tak sabar mau melepas lajang? Hihi!!
"Apakah suami istri juga seperti ini ya nantinya?" Azam berbicara tanpa sadar.
Zahra yang mendengarnya langsung melirik ke arah Azam.
"Maksud kamu apa seperti pasangan suami istri?"
Azam langsung kikuk! Apakah ia mengatakannya secara gamblang tadi? Ia pikir dalam batinnya.
"Eh ituu euh-enggak! Gak usah dipikirin." Azam merutuki dirinya! Bisa-bisanya ia berbicara seperti tadi. Sampai-sampai sudah bawa-bawa suami istri. Apa kamu sudah kebelet nikah zam? Haha wkwk!!
Zahra masih kepikiran dengan perkataan Azam barusan. Suami istri? Apa yang ada dipikiran Azam. Sehingga ia bisa berbicara seperti itu.
"Kamu mikirin sikap Zahra yang sebagai istri?"
Jleb!!
Perkataan Zahra tepat sasaran. Bagaimana ia bisa tahu?
Azam terdiam.
"Zam?" Panggil Zahra.
Azam mencoba memberanikan diri untuk menjawab pertanyaan Zahra.
"Yaaa dipikir sii.. kayak suami istri aja."
Sungguh perkataan Azam membuat hati Zahra semakin berdebar. Ia membuat Zahra semakin terpaku dengan jawabannya itu.
Bunda, ayah, dan Rey. Sebenarnya mereka sudah mendengar perkataan Azam yang menyebut sebagai pasangan suami istri.
Mereka berdiri di dekat pintu rumah. Jadi mereka bisa melihat sekaligus mendengarnya.
Bunda yang hanya senyum-senyum.
Ayah yang tersenyum juga. Dan begitu kagum dengan sosok lelaki ini. Yang bisa-bisanya sudah mengatakan sebagai pasangan suami istri.
Rey yang sedari tadi sudah tak tahan untuk meledakkan tawanya. Azam ini memang benar-benar membuat adiknya itu selalu gerogi.
Sejak Azam mengatakan perihal sebagai pasangan suami istri. Tak ada percakapan lagi diantara mereka.
Entah memang Azam yang salah menjawab. Atau jawaban Azam yang sudah menghebohkan isi hati Zahra.
Azam kemudian mencoba mencairkan suasana. Ia hampir lupa dengan pertanyaan yang kemarin ia tanyakan tapi belum terjawab oleh Zahra.
Sampai pertanyaan ini membuat tidur Azam tak nyenyak tadi malam.
"Oh ya ra! Kemarin kan pertanyaan saya belum terjawab."
"Pertanyaan apa?" Zahra melirik kearah Azam.
"Pertanyaan yang kenapa kamu gerogi kemarin?" Kali ini pun pertanyaan Azam membuat Zahra membeku. Tak tahu harus menjawab dengan apa.
"Gerogi itu.. karena.." apakah Zahra harus menjawab degan jujur? Kalau pun iya. Pasti Azam sudah salah paham nantinya.
"Yaa.. gapenting dijawab juga kan? Lupain aja!" Semoga dengan jawaban seperti ini Azam bisa puas. Agar tak bisa menanyakannya lagi.
"Penting! Harus dijawab. Ngapain juga saya kerumah kamu. Kalo gak menanyakan soal ini. Saya sampai gak tidur nyenyak semalaman ra! Pertanyaan itu terus terngiang-ngiang dikepala saya." Katanya dengan panjang lebar. Oopss!! Tapi Azam sudah keceplosan dengan mengatakan tidak tidur nyenyak akibat pertanyaan itu.
"Yaampun!! Serius sampe segitunya?" Zahra sedikit tertawa kecil.
Azam yang melihatnya pun, lagi-lagi ikut bahagia.
"Iyaa mangkanya. Kamu harus jawab." Azam kini menatap ke arah depan sembari memasukkan lengannya ke dalam saku celananya.
"Geroginya gara-gara kamu!"
Perkataan singkat padat dan jelas itu. Membuat jantung Azam sedikit berdebar.
Azam tak tahu bagaimana cara menghentikkan jantungnya ini.
"Saya? Kenapa?"
"Enggak papa."
Zahra malu sekali ketika ia berani mengatakannya. Semoga Azam tak salah paham padanya.
"Apa yang membuat Zahra gerogi dari diri saya?" Batin Azam.
"Tapi bisa saja Zahra bohong! Mana mungkin ia bisa menggrogikan dirinya karena saya." lanjut batin Azam.
"Beneran gara-gara saya? Masa si? Bohong ya?"
"Yaudah deh kalo gapercaya gausah dibahas."
"Iya-iya."
"Hmmm.. saya mau nanya. Zahra mau nikah diusia berapa?" Azam mengarahkan pembicaraannya tertuju dengan bahas tentang pernikahan?
Lho zam? Makin kebelet nikah iyeu jigana!!
"Ha?" Zahra membulatkan matanya tak percaya.
"Yaampun zam. Kok bahas ini?"
"Enggak papa."
"Ehh kenapa bahas gitu. Masih jauh."
"Kok masih jauh? Kalo jodohnya udah ada. Kita gak bisa ngomong masih jauh." Perkataan Azam membuat Zahra kagum.
Zahra hanya berdiam diri.
"Kalo nikah dengan anak saya siap gak kamu?" ayah yang sedari tadi hanya mendengar obrolan mereka. Sampai tak tahan untuk ikut mencampurinya. Rupanya puterinya ini bisa juga bahas-bahas tentang suami istri. Padahal lulus sekolah pun belum.
Perkataan ayah Zahra sungguh mengejutkan bagi Azam dan Zahra. Pasalnya, bagaimana ayah bisa tahu? Tepatnya disana juga ada Rey dan bunda.
"Pertanyaan saya belum dijawab." ayah mulai memancing agar Azam mau menjawabnya.
"Kalaupun berjodoh. Sejauh apapun berlari pasti akan ketemu. Kalaupun tidak hanya tetap disyukuri dan mendoakan semoga ia dapat kebahagiaan yang terbaik. Untuk itu, saya tidak tahu pak. Saya hanya bisa jawab sebisa saya." Azam menjawab seadanya. Ia tak tahu harus menjawab seperti apa. Kebanyakan mikir nanti disangka mau lagi!.
Ayah Zahra hanya menganggukinya saja.
"Lama juga ya ngobrolnya. Sampe bahas-bahas tentang suami istri. Masya Allah.. nak Azam sampe bahas juga soal Zahra kapan mau nikah diusia berapa. Udah 2 jam ngobrol sama Zahra. Gak baik terlalu lama, belum muhrim. Nanti jika sudah muhrim insya Allah sepuasnya bisa." Bunda menjelaskan dengan sangat ramah.
Azam pun tak menyadari akan hal ini. Sudah 2 jam ia mengobrol dengan Zahra? Sampai-sampai waktu sudah menunjukkan jam 9. Padahal sewaktu pagi, ia datang kerumah Zahra jam 7. Dikira Azam tidak akan selama ini.
"Afwan bun." kata Azam.
"Yaa.. sudah berani memanggil bunda." ejek sang ayah.
Zahra hanya tersenyum tipis. Begitu juga dengan bunda.
"Ehh maksud saya afwan bu. Saya sudah melanggar akan kaitan islami. Saya tidak sadar akan kelewat seperti ini."
"Masya Allah" Rey menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Yasudah. Kalo gitu saya pamit dulu. Assalamualaikum." pamit Azam dengan mencium punggung tangan ayah, bunda, dan Rey.
"Waalaikumsallam warahmatullahi wabarokatuh." jawab mereka.
____
Kali ini part dikit!!
Afwan yaa..
Yang nunggu part selanjutnya siapa?
#ayospamnextbisayaa):
KAMU SEDANG MEMBACA
Fatimah Azzahra Ramadhani (END)
Novela JuvenilNamanya Fatimah Azzahra Ramadhani. Seorang wanita yang cukup berilmu dalam agama. yang memilik wajah cantik, tapi ia selalu berkata "Percuma wajah cantik tapi tak berakhlak baik" Kadang memang sekarang. Wanita hanya berlomba-lomba untuk menjadi can...
