Zahra beristirahat di hotel dengan sang bunda. Ayahnya dan Rey masih sibuk dengan hal-hal yang terkait dengan pernikahannya. Takut bila ada yang tertinggal atau tidak ada sesuatu yang sudah mereka rencanakan.
Selesai shalat dzuhur pun. Rama dan Rey masih saja meeting di kamar hotel milik Rey. Mereka mau pernikahan Azam dan Zahra terlihat sempurna tanpa ada kendala.
Sampai jam 13:15 meeting pun selesai. Rey dan Rama membaringkan tubuhnya di ranjang. Merasa sangat lelah ketika harus meeting dengan manager dan pengurus wedding Azam dan Zahra.
Saat itu juga mereka menutup matanya untuk beristirahat siang sejenak. Aurel pisah kamar karena ia membawa pengasuh untuk mengasuh Al Fatih pada saat acara Azam dan Zahra besok.
Aurel pun tidur siang dengan Al dan pengasuhnya itu. Mereka tertidur pulas. Karena ikut melihat konsep wedding Zahra dan Azam ketika waktu pagi.
Beberapa jam kemudian adzan ashar berkumandang. Zahra sebelum adzan pun sudah terbangun. Ia sudah membersihkan dirinya dan segera melakukan shalat asharnya.
Melihat puterinya sudah bangun. Rita juga langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Beberapa menit usai shalat ashar. Zahra menatap pada jendela. Melihat pemandangan dibawah. Bibirnya tersenyum tak menyangka esok ia akan menjadi istri sah Azam.
Dulu rasanya sangat tak menyangka jika dirinya akan menjadi pendamping sah Azam. Sekarang, ia begitu tak menyangka benar-benar akan menjadi pendamping halalnya Azam.
Memang kehidupan banyak cerita dan versi masing-masing. Ada yang dulunya belum bisa move'on, dan sekarang sangat menyesali tentang masa lalunya.
Ada yang dulu terlalu mengharapkan seseorang. Sampai sekarang ia begitu menertawakan saat-saat dulu.
Hehe.. ada yang pengalaman gak ya? Xixi!!
Oke lanjut!
Bundanya menghampirinya. Memegang bahu Zahra.
"Kenapa sayang?" Tanya bunda.
Zahra menggeleng. "Enggak bun."
"Ayo makan dulu. Bunda udah masak. Tolong kamu panggilin abang dan ayah kamu sama Aurel."
"Siap bun." Zahra keluar dari kamar hotel dan menuju kamar Rey. Zahra mengetuk pintu kamar Rey. Rey membukanya.
"Ada apa?" Tanya Rey.
"Makan dulu. Bunda udah masak." Ucap Zahra.
"Oke otw."
"Yaudah Ara panggil kak Aurel dulu."
"Jangan. Aurel biar abang yang panggil. Al biar sama mbak kiki."
"Yaudah."
Kemudian sarapan sore sudah disantap. Mereka menikmati masakan bunda Rita yang begitu enak.
"Besok, pasti Ara enggak makan sama kita lagi bun." Ucap Rama meneguk air putihnya menyudahi sarapannya itu.
"Iya. Sudah mau menjadi istri. Jadi kita bakal kangen banget pasti." Ucap bunda.
Zahra tersenyum. "Ayah, bunda meskipun nanti Ara udah pisah rumah. Tapi sering main juga kok."
Bunda tersenyum. "Jadi istri yang baik ya sayang."
Rey tersenyum dan sedikit bersedih. Nanti ayah dan bundanya akan tinggal berdua. Sedangkan Zahra besok ia akan menjadi istrinya Azam. Jadi ayah dan bunda pasti sedikit sulit untuk melepaskan anak perempuannya.
Zahra lagi-lagi mematung usai makan sore tadi. Bundanya dan Aurel mengajak Al bermain. Sedangkan Ayah, berbicara dengan managernya lewat telepon.
Rey menghampiri Zahra. "Ciee yang mau nikah."
Zahra menatap pada abangnya lalu tersenyum.
"Pasti bahagianya berkali lipat. Karena menikah dengan impiannya waktu sekolah dulu." Ucap Rey.
"Iya bang. Memang Allah tahu mana yang terbaik buat Zahra. Dan semoga Azam memang benar-benar terbaik buat Ara."
"Iyaa.. jadi istri yang baik yaa.. harus nurut sama Azam."
"Do'ain ya bang. Semoga besok di lancarkan." Zahra memeluk sang kakak.
Rey mengusap punggung Zahra. "Aamiin.. yaudah sebentar lagi mau maghrib. Siap-siap dulu."
Zahra menghela nafas sambil mengangguk. "Iyaa.."
KAMU SEDANG MEMBACA
Fatimah Azzahra Ramadhani (END)
Teen FictionNamanya Fatimah Azzahra Ramadhani. Seorang wanita yang cukup berilmu dalam agama. yang memilik wajah cantik, tapi ia selalu berkata "Percuma wajah cantik tapi tak berakhlak baik" Kadang memang sekarang. Wanita hanya berlomba-lomba untuk menjadi can...
