Bunda, Ayah, dan Rey , Aurel dan keluarga Azam masih menunggu kedatangan Zahra yang tak turun juga. Rey sudah memberi pesan agar Zahra segera turun. Tapi adiknya itu tak membaca pesannya.
Azam pamit untuk ke toilet. Tak lama kepergian Azam dari toilet. Zahra menuruni tangga. Semua orang menatap pada Zahra. Rey menghela nafas lega ketika Zahra sudah turun.
Zahra merasa aneh dengan keberadaan ibu dan bapaknya Azam. Lalu ia mencium punggung tangan bu Runi dan pak Ali. Setelah itu duduk disamping bundanya.
Azam keluar dari toilet rumah Zahra. Ia menuju ke ruang tamu lagi. Azam membenarkan kancing baju kemejanya. Ia seketika menatap ke depan. Jantungnya berdebar ketika melihat Zahra sudah berada di ruang tamu.
Azam duduk ditengah-tengah kedua orang tuanya. Zahra gerogi dengan situasi seperti ini. Jantungnya berdetak sangat cepat.
Rey tercengar-cengir melihat adiknya yang terus menunduk itu. Mungkin ia gerogi pikirnya.
"Maksud kedatangan kami kesini. Mau melamar nak Zahra." Ucap pak Ali sontak membuat Zahra terkejut bukan main.
"Apakah ini mimpi?" Batin Zahra.
Bunda Rita memegang lengannya sembari mengangguk.
"Apakah Fatimah Azzahra Ramadhani bersedia menyempurnakan separuh agama saya?" Tanya Azam. Membuat tubuh Zahra gemetar.
Aurel tersenyum menatap Zahra. Zahra lagi-lagi dibuat terkejut hari ini. Apa Azam benar-benar melamarnya? Bukannya ia akan menikah dengan Aisyah?.
"Tidak usah kepikiran dengan Aisyah. Perjodohan itu sudah dibatalkan." Ucap pak Ali.
Zahra menunduk. Mungkin Aisyah sekarang sangat kecewa dan patah hati. Pantas ia belum balik-balik ke pesantren. Ternyata ini masalahnya.
Di satu sisi, Zahra merasa bersalah dan tak enak hati pada Aisyah. Di satu sisi juga. Zahra sangat mencintai Azam.
"Nak Zahra? Apa bersedia menerima lamaran putra kami?" Tanya bu Runi.
Kini Ayah Rama memegang lengan Zahra. Mengangguk dengan memberi kode agar cepat menjawabnya.
"InsyaAllah. Zahra bersedia menyempurnakan agama dengan Azam." Ucap Zahra membuat semua orang yang ada diruang tamu mengucap hamdalah.
"Alhamdulillah.."
Kemudian bu Runi memakaikan cincin pada jari manisnya. Air mata Zahra sudah jatuh begitu saja. Ia menangis bahagia. Rasanya seperti mimpi jika Azam benar-benar melamarnya hari ini.
Azam sedikit melirik pada Zahra. Ia melihat air matanya. Sedikit tersenyum, Azam menyimpulkan jika air mata itu air mata bahagia.
Zahra mengusapnya. Bundanya memeluk Zahra, begitu juga dengan Ayah.
Lalu kedua keluarga yang akan menjadi besan itu menyantap teh hangat dan beberapa kue yang tersedia diatas meja.
Azam memberi pesan pada ponsel Zahra. Zahra yang mendengar suara getaran ponselnya itu dengan cepat membuka isi pesan tersebut.
"Terima kasih. Saya sangat bahagia hari ini."
Isi pesan tersebut rupanya dari Azam. Azam tak bisa berbicara langsung pada Zahra. Sehingga ia berkomunikasi lewat ponsel.
"Kamu harus jelasin bagaimana bisa kamu melamarku dan memutuskan perjodohan dengan Aisyah."
Balas Zahra. Kemudian Azam membacanya.
"Ini bukan waktu yang tepat. Nanti saya akan ceritakan. Oh ya, kemarin sebelum pulang. Apa kamu membaca surat saya yang ada dibawah pintu kamar kamu?"
Tulis Azam membalas pesan Zahra.
"Oohh Zahra sudah baca. Itu surat dari Ustadz ternyata."
Azam mengetiknya lagi.
"Kok panggilnya Ustadz?"
"Memang mau panggil apa? Kan kamu Ustadz Fachrul Azam Ramadhan ganteng!"
Azam tersenyum melihat isi pesan Zahra.
"Eh afwan." Tulis Zahra lagi.
"Gapapa."
Rey meminum teh hangatnya. Ia melihat Azam dan Zahra saling memegang ponselnya masing-masing. Rey juga membuka ponselnya ingin memberikan pesan pada adiknya yang akan menjadi pendamping sah Azam itu.
"Sudah dulu chattingannya. Jika sudah sah pasti akan leluasa untuk mengobrol. Nikmati dulu teh hangatnya, nanti keburu dingin." Kirim Rey pada Zahra dan Azam.
Lalu Zahra dan Azam menuruti pesan Rey yang menyuruh mereka untuk menikmati teh hangat dan beberapa kue dimeja.
Sudah setengah jam mengobrol tentang tanggal pernikahan putra putri mereka itu. Akhirnya keluarga Azam berpamit untuk pulang. Waktu maghrib sebentar lagi akan tiba. Jadi keluarga Azam berpamit untuk pulang.
"Kami pamit dulu yaa.. Assalamualaikum." Ucap bu Runi pak Ali dan Azam.
"Waalaikumsallam warahmatullahi wabarokatuh."
Setelah menutup pintu sejak mengantar keluarga Azam pamit di depan pintu. Aurel langsung memeluk Zahra.
"Kakak seneng. Kamu akhirnya mau nikah sama seseorang yang kamu cintai." Ucap Aurel melepaskan pelukannya.
"Kakak tahu dari mana kalo Azam itu.."
"Tahu dari abang kamu."
"Ih.. abanggg." Rey hanya tersenyum-senyum.
"Rey juga malam mau pulang bun. Mau nyiapin keperluan buat lahiran Aurel." Ucap Rey.
"Oh iya. Lahirannya dua hari lagi ya?" Ucap bunda.
"Iya bun. Doain semoga lancar." Ucap Aurel mengusap perutnya yang sebentar lagi akan melahirkan anak pertamanya.
"Pasti sayang."
KAMU SEDANG MEMBACA
Fatimah Azzahra Ramadhani (END)
Подростковая литератураNamanya Fatimah Azzahra Ramadhani. Seorang wanita yang cukup berilmu dalam agama. yang memilik wajah cantik, tapi ia selalu berkata "Percuma wajah cantik tapi tak berakhlak baik" Kadang memang sekarang. Wanita hanya berlomba-lomba untuk menjadi can...
