Semua bersorak heboh ketika membuka surat kelulusan mereka masing-masing. Zahra tersenyum melihat suratnya yang menandakan LULUS. Begitu juga yang lainnya.
Semuanya lulus. Yang lainnya berjingkrak-jingkrak akibat senang. Akhirnya angkatan sekarang lulus semuanya. Dan juga guru-guru mengucapkan selamat kepada murid-muridnya. Yang sudah berjuang untuk mendapatkan hasil yang memuaskan.
Bu Runi memeluk sang putera.
"Alhamdulillah, kamu lulus Zam." Ucap Bu Runi merasa bangga pada puteranya itu.
Dan Azam mencium punggung tangan kedua orang tuanya.
"Alhamdulillah. Bu, pak. Ini juga berkat doa ibu sama bapak." Ucap Azam.
Alhamdulillah acara demi acara sudah terlewati dengan lancar. Sekarang siswa kelas XII sedikit demi sedikit sudah pulang.
Rey melihat Syukron. Matanya memanas melihat lelaki itu. Lalu, ia menghampiri lelaki itu yang sepertinya ingin pulang.
Zahra melihat abangnya ingin menghampiri Syukron. Lalu, ia pun menyusulinya.
"Assalamualaikum." Salam Rey. Kemudian Syukron yang ingin pulang harus menundanya dulu. Orang yang di hadapannya adalah abang dari orang di cintainya.
"Waalaikumsallam warahmatullahi wabarokatuh." Jawabnya.
"Cowok pengecut!" Ucap Rey sedikit pedas.
Syukron menautkan halisnya. Ia tak percaya abang Zahra bisa berbicara seperti ini. Apa maksudnya?
"Maksudnya apa bang?" Ucapnya yang tak menyadari kesalahannya.
Perkataan yang baru saja keluar dari mulut Syukron. Membuat emosi Rey sedikit menaik. Zahra sudah sampai dimana abang dan Syukron berada. Rey melirik sekejap ke arah Zahra.
Rey meninju perut Syukron. Membuat Syukron memegang perutnya. Merasakan sakit. Zahra menutup mulutnya dengan tangan kanannya.
"Kamu mau coba macam-macam sama adik saya." Ucap Rey jari telunjuknya. Menunjuk ke wajah Syukron.
Aldi melihat Zahra dan abangnya. Ia melihat abang Zahra mengucap amarah pada Syukron. Lalu ia menghampiri keberadaan mereka.
"Ada apa ini?" Tanya Aldi yang baru saja sampai.
Semua melihat ke arah Aldi. Zahra hanya menunduk ketika kedatangan Aldi.
"Bang, jangan pake emosi." Zahra memegang lengan kiri Rey.
Rey mengusap wajahnya. Ia mengucapkan istighfar. Rey biasanya tidak seperti ini. Tapi entah mengapa jika ada yang bermacam-macam pada adiknya. Ia tak mau melepasnya begitu saja. Ia harus sedikit memberi pelajaran.
"Saya minta maaf bang." Ucap Syukron. Yang masih memegang perutnya.
"Lo beneran minta maaf?" Tanya Aldi tak percaya. Bisa saja ia bohong pikirnya.
Syukron mengangguki. "Waktu itu saya kehasut setan. Sampe-sampe mau berbuat tak senonoh pada Zahra."
"Afwan ra." Syukron menyesali perbuatannya.
Zahra masih tetap menunduk. Untuk menatap Syukron saja sudah membuat Zahra takut. Tapi ia harus memaafkannya. Bagaimana pun Syukron pernah menjadi teman sekelasnya.
Zahra mengangguk. "Sudah di maafin." Lalu Zahra pergi.
Rey menepuk bahu Syukron. "Maafin saya juga. Sudah kasar." Ucapnya.
Syukron mengangguki. Lalu Syukron pamit pada Rey dan Aldi. Ia ingin pulang ke rumahnya.
____
Zahra pergi ke arah loker. Ia ingin mengambil barang-barangnya disana. Masih ada buku dan peralatan sekolahnya di dalamnya.
Ada dua surat terselip disana. Zahra mengambilnya. Ia melihat ada nama A dikedua surat tersebut. Ia melirik kiri, kanan. Tidak ada orang disini. Lebih baik ia masukkan ke dalam tasnya.
Zahra memutuskan untuk pergi ke parkiran. Keluarganya sudah menunggunya disana. Tetapi..
"Jangan lupa dibaca suratnya." Ucap dua lelaki tersebut. Membuat langkah Zahra terhenti.
Suara itu..
Zahra membalikkan tubuhnya. Ya Allah.. Azam sama Aldi? Bisa berbicara secara bersamaan?
Azam dan Aldi saling melirik. Azam menyilangkan lengannya ke belakang. Aldi memasukkan lengannya ke dalam saku celananya.
Apa maksudnya ini? Jadi mereka menaruh surat itu dilokernya? Disana terdapat huruf A.
"Gue pulang duluan. Assalamualaikum." Ucap Aldi berat. Setelah ini, ia tak akan pernah bertemu dengan Zahra. Wanita yang harus ia lupakan begitu saja.
Azam menatap kepergian Aldi. Ia memikirkan tentang perasaan mereka. Apa semuanya sama-sama memiliki perasaan yang sama?
"Saya pamit dulu. Assalamualaikum ra." Ucap Azam lalu pergi meninggalkan Zahra, yang sepertinya masih kelihatan bingung.
Zahra menghela nafas. "Waalaikumsallam warahmatullahi wabarokatuh."
Zahra masih aneh dengan dua orang lelaki ini. Ada apa dengan mereka? Yang secara sama memberinya surat.
Zahra sebaiknya pergi. Mungkin keluarganya sudah menunggunya terlalu lama.
____
Zahra berdiri mematung dibalkon rumahnya. Ia masih ragu untuk membaca surat-surat itu. Tapi ia juga cukup penasaran dengan isinya. Akhirnya ia pergi ke kamarnya. Dan memutuskan untuk membacanya.
Ia membuka satu surat. Yang didalamnya terdapat nama Muhammad Aldi Pradika.
"Assalamualaikum ra. Ingat begini, lo selalu ngingetin gue untuk jangan lupa mengucap salam dulu kan? Gue gak pengen panjang lebar. Gue orangnya gak suka basa-basi. Termasuk perasaan gue. Pertama gue masuk ke SMA MERAH PUTIH. ngeliat lo, gue langsung tertarik ra."
"Gue langsung jatuh cinta sama lo. Dan dari pertama lihat gelagat lo sama Azam. Semuanya udah berbeda. Gue pikir lo emang mempunyai perasaan sama dia."
"Oke. Jadi disini gue ibarat HARUS MELEPAS, PADAHAL MENGGENGGAM SAJA BELUM. Eitss!! Jangan khawatir dengan isi surat dari gue. Santai.. jangan dibawa pikiran ra. Gue cuma ngasih tahu perasaan gue sebenarnya. Sebelum kita saling jauh. Dan mungkin gak akan pernah ketemu."
"Makasih banget buat lo yang udah berhasil buat gue jatuh cinta sendiri . Yang udah melebar di dada gue. Gue mau kuliah di amerika. Gue juga bakal belajar agama sedikit demi sedikit ra. Makasih untuk rasa yang hanya gue rasain sebelah pihak."
"Wassalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh."
Muhammad Aldi Pradika.
____
Dalem bangat ya surat dari Aldi?🙂
Gimana nih sama surat yang satunya lagi? Penasaran ga?
KAMU SEDANG MEMBACA
Fatimah Azzahra Ramadhani (END)
Teen FictionNamanya Fatimah Azzahra Ramadhani. Seorang wanita yang cukup berilmu dalam agama. yang memilik wajah cantik, tapi ia selalu berkata "Percuma wajah cantik tapi tak berakhlak baik" Kadang memang sekarang. Wanita hanya berlomba-lomba untuk menjadi can...
