Usai shalat maghrib berjamaah. Zahra ragu dengan niatnya yang ingin berbicara dengan Aisyah. Aisyah tadi menatapnya dengan wajah seperti masih kesal. Zahra merasa bersalah. Seharusnya ia sudah bisa bersikap biasa saja dan sedikit menjauh. Tapi Azam yang terus menerus memberi perhatian palsu terhadapnya. Sudah mempunyai calon istri, tetapi ia lebih mementingkan perhatian kepadanya.
"Syah boleh bicara sebentar?" Akhirnya Zahra memberanikan diri untuk mencoba ngobrol dengan Aisyah.
Aisyah menunduk. Ia masih kecewa dan kesal dengan Zahra.
Aisyah mengangguk.
"Kamu di undang sama Jessica dan Aldi?"
Aisyah menatap ke arahnya. "Enggak, memangnya ada apa?" Meski nada bicaranya sedikit datar. Tetapi Aisyah masih bisa berbicara dengan Zahra.
"Mereka mau menikah."
Aisyah tersenyum miris. "Iyalah aku gak di undang. Aldi kan dulu cowok nyebelin. Jessica juga cewek gak bener. Gak pake jilbab. Cocok sih mereka kalo bersatu." Ucap Aisyah, lalu melengos begitu saja.
"Astaghfirullah!" Zahra mengusap dada.
"Memang mereka dulu belum baik. Tapi Aldi pernah bilang akan belajar agama. Insyaa Allah pasti akan berubah."
"Aisyah kok bicaranya sekarang aneh."
Zahra menghela nafas. Ketika ia ingin pergi ke kamarnya. Zahra melihat Gus Ali dengan Ning Anisa. Ia tersenyum, dan juga merasa bersalah dengan ungkapan perasaan Gus Ali yang tak bisa ia balas. Tapi ia juga cukup senang. Gus Ali bisa dekat dengan Ning Anisa.
Akibat ia terus memandangi keberadaan Gus Ali dan Ning Anisa. Sampai-sampai mereka selesai mengobrol pun Zahra masih berada di tempatnya. Ning Anisa juga sampai menyusuli keberadaan Zahra.
"Assalamualaikum Ustadzah." Salam Ning Anisa.
"Waalaikumsallam warahmatullahi wabarokatuh."
"Ustadzah belum masuk ke kamar?" Ning Anisa melihat Zahra masih memeluk sejadah dan mukenanya.
"Belum."
"Kamu suka sama Gus Ali?" Ning Anisa terkejut. Dan langsung menoleh pada Zahra.
"B-bagaimana Ustadzah bisa tahu?" Ucap Ning Anisa dengan gelagatnya.
Zahra tersenyum dengan mengelus bahu Ning Anisa. "Alhamdulillah. Semoga kalian berjodoh ya Nis. Kamu juga harus bisa membuat Gus Ali sama dengan perasaan kamu."
Ning Anisa tersenyum malu. "Syukron Ustadzah."
Dengan asyik berbincang. Sampai-sampai ada santri putri yang menghampiri keberadaan mereka.
"Assalamualaikum." Ucap salah satu santri putri yang bernama Azmya.
"Waalaikumsallam warahmatullahi wabarokatuh."
"Ada apa Azmya?" Tanya Ning Anisa.
"Oh ini, ada surat buat Ustadzah Fatimah." Azmya mengulurkan surat itu pada Zahra.
Zahra menautkan halisnya. Surat dari siapa pikirnya.
"Surat dari siapa Azmya?" Tanya Zahra. Sambil menerima surat dari tangan Azmya.
Azmya menggeleng. "Azmya pamit dulu ya kak Anisa, Ustadzah Fatimah, Assalamualaikum."
"Waalaikumsallam warahmatullahi wabarokatuh."
Ning Anisa berdehem. "Surat dari seseorang ya Ustadzah."
"Eh enggak tahu nih."
"Yaudah Nisa pamit dulu ya Ustadzah. Assalamualaikum."
"Waalaikumsallam warahmatullahi wabarokatuh."
Zahra menghela nafas. Ia penasaran surat dari siapa. Cepat-cepat ia melangkahkan kakinya untuk menuju ke dalam kamarnya.
Sesampainya di depan kamarnya. Zahra melihat ada kotak kecil dibawah pintu kamarnya. Ia mengambil dan melirik samping kiri dan kanan.
"Kotak apa ini?" Ucap Zahra sambil membuka pintu kamar.
Zahra membalikkan tubuhnya. Ia terkejut sampai-sampai kotak tersebut terjatuh. Ada Gus Ali di dalam kamarnya. Bagaimana bisa?"
"K-kamu kenapa disini?" Tanya Zahra panik. Jantungnya sudah berdebar kencang akibat takut.
"Kenapa? Aku gak boleh masuk kamar kamu?" Tanya Gus Ali sambil tersenyum miris.
Zahra dengan cepat membuka pintu kamar. Tetapi lengan Gus Ali menutup cepat pintu kamar itu.
Zahra semakin takut. Kejadian ini mengingatkan padanya dengan kejadian waktu sekolah dulu. Syukron yang mau membuat dirinya menjadi kotor.
Zahra terpaksa menendang perut Gus Ali. Ia cepat-cepat membuka pintu kamarnya. Aisyah yang baru saja memasuki kamarnya melihat Zahra berlari dengan kencang.
Lalu Aisyah juga melihat Gus Ali yang baru saja keluar dari kamar Zahra. Aisyah membulatkan matanya. Ia menutup mulutnya dengan lengannya. Tak percaya pikirnya.
"Bagaimana bisa seorang wanita terhormat bisa berdua dengan pengajar pesantren disini? Gak menyangka aku ra. Aku pikir kamu baik, ternyata enggak!." Ucap Aisyah lalu ia menutup pintu kamarnya. Tak jadi masuk tetapi ia ke kantor.
Zahra terus berlari Gus Ali juga berada dibelakangnya menyusuli Zahra.
Zahra mengetuk pintu rumah Ustadzah Fahmi dan Zainab. Lalu dibuka oleh Ustadzah Zainab.
"Ustadzah cepat ayo kita masuk!"
"A-ada apa ini Zahra?"
Lalu dengan cepat Ustadzah Zainab dan Zahra memasuki rumah. Mereka duduk disofa ruang tamu.
Ustadzah Zainab merasa aneh dengan sikap Zahra. Ia seperti ketakutan.
"Zahra ada apa? Kenapa kamu kayak ketakutan?" Tanya Zainab penasaran.
Zahra masih terus menangis. Ia memeluk dirinya sambil bersandar disofa.
Ustadzah Zainab memeluk Zahra. "Zahra kenapa? Ayo cerita sama Ustadzah. Kalo gini kan Saya juga ikutan sedih."
Ustadz Fahmi yang hendak keluar sambil membenarkan kopyahnya. Ia melihat Istrinya serta keponakannya di ruang tamu. Fahmi juga melihat Zahra seperti menangis. Akhirnya ia menghampiri mereka.
"Bu kenapa dengan Zahra?" Tanya Ustadz Fahmi panik, lalu duduk di sebelah istrinya.
Zainab menggeleng. "Enggak tahu yah. Zahra belum mau bicara."
"A-apa Zahra sudah kotor om?" Zahra mulai berbicara. Sambil dengan tangis tersengguk.
"M-maksud Zahra apa? Tanya Fahmi tak mengerti.
"Tadi ada Gus Ali di kamar Zahra." Ucapan Zahra membuat pasutri itu terkejut mendengarnya.
"Bagaimana bisa? Ikhwan kan tidak boleh memasuki kamar akhwat bila belum muhrim."
"Zahra enggak tahu om. Zahra dapet surat dari santri putri, lalu ditanya surat itu. Santri putri yang bernama Azmya tidak tahu. Terus Zahra langsung masuk ke dalam kamar. Melihat ada kotak kecil di bawah pintu Zahra. Zahra mengambil dan membuka pintu kamar Zahra, lalu terdapat Gus Ali. Dengan cepat Zahra menendangnya lalu keluar pergi begitu saja." Ucap Zahra menceritakan kejadian yang membuat dirinya takut berlebihan.
Fahmi dan Zainab saling menatap.
"Gimana bisa Gus Ali memasuki kamar Zahra?" Ucap Ustadz Fahmi.
"Iya yah. Ibu juga merasa aneh."
Zahra masih menangis. Zainab lagi-lagi mengelus bahu Zahra.
"Sudah, sekarang istirahat di rumah kami saja." Lalu Zainab mengantar Zahra ke kamar tamu.
Zainab meminta agar Zahra berhenti untuk menangis dan mengistirahatkan dirinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Fatimah Azzahra Ramadhani (END)
Fiksyen RemajaNamanya Fatimah Azzahra Ramadhani. Seorang wanita yang cukup berilmu dalam agama. yang memilik wajah cantik, tapi ia selalu berkata "Percuma wajah cantik tapi tak berakhlak baik" Kadang memang sekarang. Wanita hanya berlomba-lomba untuk menjadi can...
