Taemin juga Taeyeon benar-benar dalam masalah. Saat ini nama mereka juga nama sang Ayah terpampang jelas pada mading sekolah dan juga mading kelas. Bahkan meja mereka juga penuh dengan coretan yang mengatakan jika mereka anak pembunuh.
Jaewook melipat kedua tangannya. Ia tak lagi takut saat Taeyeon tak henti mengumpatinya. Ia justru berdecih. "Bagaimana bisa kau tetap masuk sekolah saat Ayahmu seorang pembunuh?"
"Yak! Jaga ucapanmu! Ayahku tidak bersalah!"
Sebisa mungkin Taemin menahan Taeyeon agar tak menyerang Jaewook. Ia yakin keadaannya akan sangat kacau jika Taeyeon dan Jaewook bertengkar.
"Berhenti membuat keributan!" Teriakan Chaeyoung membuat Taeyeon berhenti. "Taeyeon, kau dan Taemin akan belajar di rumah selama satu minggu. Ini perintah dari kepala yayasan."
"MWO?!" Taeyeon melirik Naeun yang kini tengah sibuk membaca buku seakan tak peduli dengan keributan yang terjadi. Ia memang punya masalah dengan Taeyeon. Namun, kali ini ia malas ikut campur.
"Kau yang meminta Ayahmu untuk mengeluarkanku 'kan? JAWAB AKU KIM NAEUN!" Taeyeon memukul meja, membuat Naeun melepas earphone-nya. Ia menatap Taeyeon dengan tatapan jijik.
"Kau berteriak padaku untuk melimpahkan kesalahan Ayahmu? Yak! kau pikir aku serendah itu? Terima saja kenyataan jika kau putri dari seorang pembunuh," ujar Naeun, membuat Taeyeon hampir menampar gadis itu. Namun, Taemin segera menghentikannya kemudian menggeleng.
"Lebih baik kita pulang saja," ujar Taemin kemudian membawakan tas sang Adik. Emosi Taeyeon sedang meledak-ledak saat ini. Ia takkan biarkan Taeyeon melakukan hal bodoh dan membuat mereka berdua semakin berada dalam masalah.
Taemin Segera melindungi sang Adik saat teman seangkatan mereka melempari kertas pada Taeyeon. Bahkan mereka juga mendapat banyak umpatan.
"Berhenti!" Chaeyoung memberikan tatapan tajam, membuat para siswa tak lagi merundung Taeyeon juga Taemin. Saat ini Ayah mereka memang ditahan. Namun, belum ada kepastian mengenai statusnya yang masih sebagai seorang saksi atau tersangka.
"Taemin, kau baik-baik saja?" tanya Chaeyoung membuat Taemin segera mengangguk. Namun, sepertinya Taeyeon tak baik-baik saja. Gadis itu terlihat kesulitan bernapas sebelum akhirnya tak sadarkan diri.
"Aku akan membawanya ke rumah sakit, ssaem. Tolong hubungi Ibuku."
Sana masih menangis, membuat Taehyung benar-benar tak bisa mengendalikan diri. Namun, apa daya? Ia tak bisa keluar dan memeluk istrinya meski hanya sebentar.
"Sana-ya, aku baik-baik saja." Dengan suara gemetar, Sana yakin suaminya juga tengah menahan tangis. Ini sungguh pemandangan memilukan untuknya. Andai ia bisa, ia ingin menemani Taehyung di dalam penjara. Namun, ia memikirkan soal Taemin dan juga Taeyeon.
Taehyung mengatur napas sambil menyeka air mata yang jatuh. Ia mencoba tersenyum agar Sana menghentikan tangis. "Yeobo, maaf karena aku membuatmu dalam masalah yang besar. Bahkan kau tidak bisa kembali ke Athena dalam waktu dekat. Bagaimana jika kau ke rumah kita yang dulu? Bawa Taemin dan juga Taeyeon bersamamu."
Sana langsung menolak saran Taehyung dengan tegas. Bagaimana bisa ia pergi ke Amerika saat sang suami berada di dalam penjara? "Aku tidak akan melakukannya."
"Percayalah padaku, tak lama lagi aku akan menyusul. Sepertinya lebih baik kita kembali ke sana seperti sebelumnya," ujar Taehyung.
"Jam besuk sudah habis."
"Sana-ya, kau pulang saja ke rumah sekertarisku. Aku sudah memberitahunya agar kau dan anak-anak bisa tinggal di sana selama aku ada di sini. Jaga dirimu." Taehyung tak melawan saat polisi itu kembali membawanya masuk. Bahkan ia terus mengatakan jika ia baik-baik saja pada Sana. Terlebih saat Sana mulai menangis lagi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Athena✔️
Hayran Kurgu"Sejatinya, peperangan bukan untuk saling melenyapkan. melainkan untuk mengembalikan keteraturan serta perdamaian." Dalam hidup setiap orang perlu menghadapi peperangan mereka masing-masing. Tak terkecuali para penghuni apartemen mewah--Athena palac...
