Emosi | 2 | End! {DITERBITKAN}

2.9K 310 67
                                        

Uhmm...
Halo semuanya~
Sebelumnya, saya ingin meminta maaf sebesar-besarnya...

Maaf kan sayaaa...
Karena saya udah lama gak Up dan saat Up malah promosi hehe...

Yah gimana yah, saya nulisnya sesuai mood, jadi gak terjadwal gitu...
Makanya, kalau ada ide saya pasti up...

Sekali lagi sorry yaa...

Terimakasih yang selalu dukung saya~

Saya tadinya mau double up, tapi pasti nanti kelamaan, saya gak enak kalo harus diundur terus up nya,

Minggu depan kalau bisa saya up, kalau bisa yaa... Soalnya minggu depan saya mulai UTS TT_TT

Jadi tolong dimaklumi yaa....
Ini chapter lumayan panjang lhoo...
Saya usahain buat panjang banget, ampir 4 ribu kata hehe...

Dah yaaa... Jangan lupa Vote&Comment~

See You~


















~JanganLupaFollowAkunSaya~
~HappyReading~



















15 tahun lalu.

Bocah kecil bersurai cokelat madu keluar dengan gontai dari satu ruangan, air mata tidak hentinya menetesi pipi tembamnya yang kini memerah.

Langkahnya pelan menuju sudut ruangan yang biasa dipakai untuk menonton TV, dengan sesenggukan dia berdiri menghadap tembok. Begitu menyedihkan untuk anak berumur 5 tahun.

Dia kembali dihukum setelah sebelumnya di marahi habis-habisan, hanya karena tidak sengaja tampil dihadapan kolega sang Ibu ketika pesta kemarin. Padahal, kolega Ibunya itu tidak sadar kalau yang dia lihat bukanlah Dongsuk melainkan Donghyuck. Bocah yang kini tengah dihukum.

"Hei! Ayo belmain denganku!" satu bocah berumur 5 tahun lain mendekatinya, di kedua tangan mungilnya terdapat dua mobil-mobilan.

Masih ditemani air mata Donghyuck menggeleng, lantas tersenyum. "Hyuck dihukum... Jadi gak bisa main..." jawabnya,

"Kau tidak asik! Ngapain juga nulut sama olang dewasa saat kita gak salah!" jeritnya kesal dan tak sengaja melemparkan mobil itu ke arah sang saudara.

"Dongsuk hyung... I-ini sakit... Maaf hiks," ia kembali terisak merasakan perih di dahi, Dongsuk gelagapan, dia cepat-cepat mendekat lalu meniup dahi sang adik yang memerah akibat ulahnya.

"Masih sakit?" tanya bocah itu khawatir dan Donghyuck menggeleng, senyum diwajahnya mengembang. "Tidak!"

"Baguslah! Datang ke kamarku nanti malam ya! Jangan sampai umma tahu," serunya dan pergi dari sana meninggalkan Donghyuck sendiri.

.

Malamnya dengan riang Donghyuck mengetuk pintu kamar sang Kakak setelah yakin tidak ada orang. Ini sudah lewat jam tidur jadi Donghyuck tidak khawatir akan ada yang memergokinya main ke kamar sang Kakak.

Walau matanya berat ingin tidur, dia masih ingat Dongsuk memintanya datang. Dan tak lama pintu kamar terbuka. "Ayo masuk!"

Donghyuck menurut lalu masuk, di dalam tepatnya di atas kasur tersedia berbagai cemilan. Mulai dari coklat, susu kotak, permen, roti, keju, sosis, kue dan berbagai hal lain.

"Ayo kita main sambil makan!" Dongsuk menarik tangan sang adik membawanya ke atas kasur. "Tapi nanti... Umma malah..."

"Itu tidak masalah, umma sudah tidul jadi tidak akan tahu," balas Dongsuk yang masih ngeyel ingin main dengan sang adik, walau sudah lewat tengah malam.

Fullsun~🌻Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang