Pemerintah | 1 |

3.2K 316 109
                                        

Yoo guys!

Saya hanya ingin mengingatkan, jika ini adalah FIKSI!!!

Ini Hayalan saya saja!!
JIKA DI RASA KURANG REALISTIS, TIDAK PERLU ANDA BACA :)

Saya bukan bermaksud baperan atau apa, cuma kadang mikir, mungkin ada yang berpikir jika cerita saya ini tidak masuk akal atau kurang realistis, yah mau bagaimana lagi, ini kan hasil imajinasi saya ya :)

Pokoknya gitulah, saya tahu kok kadang cerita yang saya buat itu Gajenya astaghfirullah banget, :)

Yah tapi, buat kalian yang menikmati cerita saya, terimakasih banyak...

Udah mau nge vote sama ngedukung cerita ini!! Saya ucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya!!!

Lalu saya juga minta maaf buat kalian, karena saya sering menggantung kalian TT

Saya juga sering buat kalian marah-marah atau nangis gak jelas, hehe, tapi jujur saja saya suka hehe, karena itu artinya feel ceritanya dapet!

Nah, karena saya suka bikin kalian marah, sedih atau nangis saat baca cerita saya, khusus buat Part ini, kalian gak akan kayak gitu kayaknya ^^

Saya gak bisa jamin sih, tapi silahkan baca deh~

Oke, saya gak akan banyak bicara lagi~





























~HappyReading~
~JanganLupaFollowAkunSaya~






























Darah berceceran di atas tanah bersama potongan tubuh, bukan hanya satu atau dua, namun potongan itu sudah seperti sampah berserakan.

Di atas sana dua orang pemegang kursi tertinggi menatap datar anak-anak yang tersisa di bawah, sudut bibir salah satu dari mereka terangkat ke atas.

"Dia benih yang Bagus bukan? Mungkin dia penyandang Eksekutor selanjutnya," ucap pria bersurai cokelat yakin, sedangkan pria dengan surai perak di sampingnya tidak merespon.

"Dari awal kau sudah menandainya," ucapan itu keluar setelah keheningan melanda mereka selama beberapa menit, pria bersurai perak menatap tajam teman di sampingnya kala berbicara tadi.

"Ahahaha, kau tidak salah, aku memang sudah menandainya." kini Netra coklat itu menatap ke bawah, pada anak bersurai merah, seringainya keluar seketika. "Dia akan datang mencariku, lihat saja."

.

"Kita teman! Kumohon jangan lakukan itu..."

"Hehe, teman ya? Itu kalau diluar arena.. Yang ada di dalam sini hanyalah mangsa dan pemangsa..."

"Kumohon biarkan aku hidup..."

"Kau juga sudah banyak merampas hidup lain untuk tetap berdiri sejauh ini bukan?"

"Itu berbeda lagi..."

"Tenang saja... Aku akan membuatnya lebih cepat,"

"Tidak...!"

.

"Hari ini benar-benar melelahkan!" teriak seorang pemuda seraya menghempaskan tubuhnya ke atas sofa.

"Jangan tidur di sini Haechan! Cepat pergi ke kamarmu," tegur sang ketua pada anggota termudanya, "Biarkan aku meluruskan punggungku sebentar hyung," rengek Haechan.

Fullsun~🌻Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang