Lingkungan yang sama, rumah yang berdekatan atau biasa disebut bertetangga. Di setiap tokoh memiliki kisahnya masing masing begitu juga mereka yang akan menjadi pameran cerita ini.
Persahabatan mereka layaknya sebuah keluarga. Saling melindungi dan...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
🥂 🥂 🥂
• • •
Yeji membuka tirai jendelanya dengan kening mengerut, langit terasa lebih cerah dengan matahari yang bersinar hangat. Yeji mengedipkan matanya terheran, kemarin hujan dan menurut berita cuaca hari ini juga akan hujan,namun—ah sudahlah, yeji menggelengkan kepalanya.
Untuk apa memusingkan itu. Cuaca kan memang seperti itu.
"Pagi dek,tidur mu nyenyak?" Sambutan dari sang papa setibanya yeji memunculkan eksentensi nya dimeja makan.
Yeji tersenyum tipis, lalu mengangguk. "Pagi pa. Nyenyak." Balasnya,"Papa mau kopi? Teh? Yeji buatin ya?"
"Tidak. Tidak, yeji kamu duduk disana." Mama muncul, setelah menampakkan dirinya dengan celemek yang menghias tubuhnya. Meletakkan segelas kopi di depan papa setelahnya berkacak pinggang. "Bagiamana kondisi mu? Masih sakit? Masih demam?"
Yeji menggeleng,"Udah sehat."
Benar, yeji tiga hari kemarin terserang demam karena terkena hujan setelah kembali dari butik nya.
"Baguslah." Mama tersenyum, mengelus rambut panjang anak bungsu kembarnya.
"Kak yeji! Susu mau?"
Terdengar suara yang membuat yeji menoleh—oh somi—"Hai somi–" yeji membekap mulutnya, berpura-pura terkejut."—loh kok udah disini?"
"Iya nih, dari jam lima tadi udah di dapur bantuin mama." Mama menimpali.
Yeji memiringkan kepalanya,"Umumnya pengantin baru biasanya keluar kamar kalau matahari udah diatas." Guraunya.
Somi memajukan bibirnya, pipinya sedikit bersemu. "Ihh, kak yeji! Apanya yang pengantin baru! Udah seminggu lebih." Bantahnya dengan salah tingkah.
Papa,mama dan yeji terkekeh geli yang mana membuat somi tambah salah tingkah.
"Udah-udah. Kasian somi, jangan digodain gitu." Akhirnya papa melerai, tidak tega juga melihat raut anak mantunya yang seperti akan menangis.
Sampai pada akhirnya mereka mempersiapkan sarapan dan sembari menunggu hyunjin yang katanya keluar sebentar.
Siang nya yeji memutuskan untuk memeriksa kondisi butik bersama lia, butik tersebut milik mereka berdua yang merupakan cita-cita mereka sejak jaman SMA.
Saat mereka berdua memasuki butik, para pegawai menyambut dengan ramah. Mereka pun belajar mengelola butik ini bersama jennie sebab, jennie sendirilah yang memaksa ingin mengajari mereka.
Setelah butik tidak ada masalah mereka memutuskan untuk mampir ke cafe sebelum pulang. Pojok dan dekat dengan WiFi membuat mereka betah ditambah obrolan-obrolan ringan.
"Li,gue mau es krim. Masa gak boleh?!"
Lia melotot, menatap yeji galak. "Gak! Lo baru aja sembuh ya! Mana bisa makan es krim. Bisa bisa gue yang kena omel."