Mungkin kata-kata ini terlihat alibi, tapi nyatanya perasaan yang ada pada diri tak bisa di pungkiri. Aku mencintainya dalam hati.
[Dion Bagaskara]
***
Halo, sahabat Arum. Please beri aku komen juga selain vote 😍 jangan lupa ya guys kasih aku komen juga biar aku semangat.
***
Udah follow akun ini? Kalau belum cus lah follow sekarang juga.
Senja sudah muncul ke permukaan, pertanda bahwa perubahan hari akan datang. Suara adzan yang berkumandang tak membuat Dion menepikan mobilnya. Berdua bersama adik kelasnya membuat debaran jantung ia rasakan saat ini. Padahal adik kelasnya itu hanya diam, tapi kenapa debaran jantungnya ada? itu lah yang ia rasakan saat ini.
"Lo suka sate?" tanya Dion secara tiba-tiba membuat Raina menolehkan kepalanya.
"Suka aja kak."
"Kalau sama gue udah suka belum?" tanya Dion sembari mengedipkan matanya.
"Enggak, kak. Aku gak suka sama siapa pun."
Dion tertawa. Jawaban Raina begitu mengekspresikan bagaimana kepribadiannya. Ia yang polos, suka berterus terang adalah hal yang bisa ia tangkap dari seorang Raina sekarang. Mengenalnya dalam beberapa hari, membuat ia ingin mengenal sosoknya lebih dalam lagi.
Raina menjelajah saat mobil yang ia tumpangi singgah di taman kota. "Mau ngapain kak?"
"Turun."
Dion yang sudah turun dari mobil lebih dahulu membuat Raina ikut serta. Langkah kaki Dion yang memasuki tenda sate kaki lima semakin membuat Raina bingung ditempatnya.
"Kenapa bengong? sini duduk. Kita makan sate dulu," ucap Dion sembari menyodorkan salah satu kursi untuk Raina duduk di sampingnya.
"Minum dulu," ucap Dion lagi seraya memberikan air mineral pada Raina yang sudah duduk di hadapannya.
"Makasih, kak," balas Raina sembari membuka minuman itu.
"Orang tua lo suka sate, kan? Soalnya gue udah pesan banyak buat kita berdua sama orang di rumah lo," tanya Dion pada Raina.
"Gak usah repot-repot kak," sahut Raina yang merasa tak enak hati pada Dion.
"Gak apa-apa. Hitung-hitung itu rasa berbakti gue sama calon mertua. Harus di latih sekarang dong, biar gak kaget nantinya," ujar Dion sembari tersenyum membuat Raina malu untuk menatapnya.
Raina sibuk berpikir keras dalam pikirannya. Apakah Dion berbeda? Melihat bagaimana baiknya pria ini membuat ia sedikit bisa menerima kehadirannya, walau kesan pertama kali mereka kurang baik untuk Raina. Dion yang sangat sayang keluarga dan perhatian membuat hati kecilnya merasa tertarik untuk mengenal Dion lebih jauh. Padahal saat ini bukan sesuatu yang penting bagi dirinya untuk menjalin hubungan dengan siapa pun, tapi tak salah bukan jika ia hanya ingin berteman saja.
"Permisi, ini pesanan nya," ucap salah satu karyawan menyodorkan dua piring sate dan beberapa bungkus sate yang sudah siap di bawa pulang.
"Makasih, ya, kak," balas Raina sembari menerima itu semua.
"Di makan ya. Lo suka sate ayam, kan?" tanya Dion membuat Raina menggangguk saja.
Mereka berdua sama-sama menikmati makannya. Dion yang tak fokus pun terus menatap bagaimana Raina memakan lahap sate miliknya. Raina begitu lucu baginya, cantik dan baik. Padahal jika di lihat ia tak terlalu pantas untuk bersanding dengan Raina. Dion terus menolehkan kepalanya, sampai ketika ia melihat noda kacang itu ada di bibir Raina. Mata Dion lagi-lagi terfokus pada bibir merah milik Raina.
"Ada saus kacang di sudut bibir lo," ucap Dion memberi tahu Raina yang langsung menghentikan aksi makannya.
"Masih ada kak?"
"Ck .... Masih, lah. Sini gue bantu." Ibu jari Dion pun terulur untuk menghapus noda itu tepat di ujung bibir Raina. Perempuan yang merasa bahwa Dion menyentuhnya pun tak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya bisa menatapnya, menatap bagaimana indahnya retina mata Dion yang juga saling bertubrukan dengan retina mata miliknya. Raina tak berkedip, keduanya sama-sama menikmati aksi saling tatap, hingga seorang pria yang datang membuat mereka berdua tersentak.
"Raina!" panggil seorang pria yang membuat Raina mengalihkan pandangannya dan berdiri seketika.
"Loh, kak Leo? Ngapain di sini kak?" tanya Raina dengan senyumannya, saat melihat ketua osis di sekolahnya ada di tempat yang sama.
"Anjir ganggu aja," lirih Dion merasa tak suka dengan kehadiran Leo.
"Gue mau beli makan, kebetulan kos gue dekat dari sini. Lo sendiri ngapain di sini?" tanya Leo sembari menatap sinis Dion yang juga menatapnya.
"Aku di ajak makan sama kak Dion, kak. Ayo kalau mau makan bareng kak, malah seru loh," ajak Raina membuat Dion tak percaya bahwa Raina begitu ramah tanpa tahu Leo sangat menyukai dirinya.
"Jangan. Dia bakal ganggu acara kita," sahut Dion cepat sembari menatap Leo yang kemudian tersenyum pada Raina.
"Boleh. Kebetulan banget, gue butuh teman soalnya," balas Leo cepat tanpa mengindahkan peringatan dari Dion yang sudah mengibarkan bendera peperangan.
"Ayo sini duduk kak."
Pasrah itulah yang menggambarkan bagaimana perasaannya saat ini. Raina terlalu baik, hingga tak menyadari pria yang hadir ditengah-tengah mereka juga menyukai dirinya.
"Lo sama Dion statusnya apa?" tanya Leo basa-basi.
"Maksudnya kak?" tanya Raina tak mengerti arah pembicaraan.
"Lo sama ----"
"Gue sama Raina pacaran. Kenapa?" Dion tiba-tiba menyahut dengan gaya tengilnya.
"Eh! Enggak!" sahut Raina cepat. Ia bahkan tak mau pacaran dengan siapa pun.
"Mulai sekarang kita pacaran. Ayo pulang. Abang lo nyuruh gue pulangkan lo dengan selamat." Dion tiba-tiba menarik tangan Raina untuk berdiri. Ia kemudian menatap Leo dengan tatapan tajamnya. "Jangan harap lo berteman baik."
"Kak aku duluan, ya."
"Iya, hati-hati." Leo yang melihat bagaimana Dion memperlihatkan kasih sayangnya pada Raina hanya bisa tersenyum tipis. Tak apa-apa sebelum janur kuning melekung ia tak akan pernah mundur untuk mendapatkan Raina. Ia janji itu.
#TBC
Hayo gimana part kali ini guys?
Kalian bakal dukung siapa? Dion atau Leo? Cus lah komen di bawah guys.
Jangan lupa untuk follow:
Instagram: Shtysetyongrm
Wattpad: Shtysetyongrm
KAMU SEDANG MEMBACA
Raina, Hujan Telah Datang (NEW VERSION)
FanfictionDipatahkan oleh keadaan Dianggap sampah oleh lingkungan sekitar Dijauhkan dari masa depan dan kebahagiaan Kata orang hal yang paling bahagia adalah bisa meraih segala asa. Satu persatu tujuan hidup tercapai, adanya kebahagiaan dan terus berjalan u...
