|RHTD 21| 2 Korban

9.5K 494 49
                                        

Tak perlu bersusah payah untuk membuat mereka mengerti, tidak perlu meminta untuk di pahami dan membuang harga diri. Sebab suatu hari nanti kita akan di pertemukan oleh seseorang yang benar-benar mengerti, memahami, dan mendengarkan tanpa menghakimi.

***
Guys. Jangan lupa siapkan tisu kalian 😚 jangan lupa kasih komen ke aku walau cuman kak semangat gitu, biar aku seneng tahu kalau kalian benar-benar baca part yang baru saja di update 🤗

CERITA INI UP SETIAP HARI JANGAN SAMPAI KETINGGALAN

Kalian bisa baca cerita aku yang lain sembari nunggu cerita ini up ya. Bisa baca cerita Secret Wife. Terima kasih atas dukungan kalian

FOLLOW AKUN INI YA GUYS 

***
Oke. Happy Reading!

Malam ini kondisi Raina semakin memburuk. Nafsu makannya hilang, makanan kesukaannya bahkan tak tersentuh sama sekali. Pikirannya begitu kacau sekarang, hanya bisa berdiam diri ditengah kasih sayang yang terus mengalir untuk dirinya saat ini. Tatapan matanya begitu kosong, ingin berbicara namun ia tak bisa, ingin menangis rasanya ia sudah lelah. 

"Apa yang di rasakan? Bilang ke bunda," tanya Irin pada anaknya.

Raina tak menjawab. Ia hanya bisa diam dengan tatapan kosong miliknya, sebelum sentuhan lembut dari seorang ibu menyadarkannya. 

"Ada yang sakit? Raina harus bilang ke bunda. Bunda khawatir lihat Raina diam dan melamun seperti ini," ucap Irin begitu khawatir dengan kondisi anaknya. 

Suara pintu kamar yang terbuka membuat Raina menolehkan kepalanya. Ia melihat jelas ada tiga orang yang baru saja masuk ke dalam kamarnya. Orang itu adalah Kak Dina, abangnya, dan seorang dokter yang akan memeriksa kondisinya. 

"Kita mulai, ya? Keluhan yang kamu rasakan apa? Pusing? Ada demam juga, gak?" tanya Melda sebagai dokter pada Raina.

"Aku gak sakit apa-apa. Kayaknya Raina gak usah di periksa, deh, Bun," sahut Raina cepat seraya menghindar untuk diperiksa. 

Irin mencegah tindakan anaknya yang akan turun dari kasur, wajah Raina begitu panik seolah takut akan diperiksa oleh dokter. Padahal setiap kali sakit ia selalu meminta dokter untuk menyembuhkannya, tapi kali ini ia menemukan hal yang berbeda dari Raina anaknya. 

"Silahkan di periksa, Dok," ucap Irin pada Dokter Melda, membuat ekspresi takut itu semakin terlihat jelas di sana.

"Aku izin periksa kamu lebih dalam, ya," ucap dokter Melda membuat Raina mengangguk dengan ragu.

Dokter berparas cantik itu sudah mulai bekerja saat ini. Memeriksa bagian tubuh Raina selayaknya dokter memeriksa pasiennya. Namun tangan dokter Melda terhenti tepat di perut Raina. Ia menoleh cepat pada Dina yang juga cemas di tempatnya. Dokter Melda yang merasakan sesuatu segera menegakan tubuhnya. Ia melambaikan tangan, membuat Dina yang paham pun segera mendekatinya.

"Coba kamu periksa, Din. Aku takut salah tangkap," ucap Dokter Melda memberikan izin untuk Dina sebagai dokter kandungan memeriksa Raina yang sudah cemas saat ini.

"Kok Dina yang periksa? Ada apa sebenarnya, Dok?" tanya Irin mulai mencium hal ganjal.

"Kita tunggu hasil Dina, dulu, ya, Bu," balas dokter Melda berusaha untuk tenang.

Raina, Hujan Telah Datang (NEW VERSION)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang