|RHTD 50| Anala dan Cerca

6.7K 376 107
                                        

Mereka hanya bisa menilai
Hanya bisa berkata
Hanya bisa melihat
Tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi. Terkadang yang membedakan kehidupan kita dengan manusia lainnya adalah takdir dan nasib. 

🌼🌿🌿🌼

Selamat membaca sahabat Raina. Terima kasih atas dukungan tak terhingga di part sebelumnya. DI PART INI JANGAN LUPA KOMEN GUYS TEMBUSIN 100 DONG. PULANG KERJA AKU NULIS . MOHON BANTUAN DARI TEMAN-TEMAN YA HEHEE. MAKASIH YANG SUDAH KOMEN. 

Happy Reading
Jangan lupa komen
Follow Wattpad me
Khamsahamida

🌼🌿🌿

Mau tahu apa yang lebih jahat di dunia ini? menilai kehidupan orang lain tanpa mengenal, membicarakan keburukan orang lain tanpa melihat, dan menghancurkan orang lain melalui perkataan. Terkadang manusia hanya penasaran, namun penasaran itu justru menyakiti orang yang mendengar. 

Mobil Saskia baru saja terparkir di halaman hijau milik Raina. Mereka berdua bahu membahu mengangkat belanjaan baju bayi, lalu membawanya masuk ke dalam. Aktivitas mereka berdua menjadi sorot seorang ibu yang hendak beraktivitas diluar. Tawa dan senyuman yang terpancar membuat dua ibu-ibu berdiri di depan pagar rumah Raina. 

"Habis belanja, Na?" salah satu ibu-ibu terlihat bertanya pada Raina. 

"Iya, mbak. Habis belanja baju bayi," balas Raina dengan senyuman ramahnya. 

"Baju bayi neng?" tanya Yuni. 

"Iya, Bu. Baju bayi," balas Raina ragu.

Wati yang tak lain tetangga dekat Raina tertawa dan berbisik pada Yuni yang menatap Raina remeh. Dilingkungan dirinya saat ini, sudah banyak yang mengetahui tentang kehamilan dirinya. Gosip itu tersebar begitu kuat ketika ayahnya meninggal dunia. Banyak yang mengatakan bahwa ia adalah penyebab nya, tapi memang benar yang mereka katakan. Semua fakta itu tak bisa ditutupi untuk tiada dan lenyap begitu saja. Mungkin jika dirinya tak hamil, ayahnya masih ada. Keluarganya tidak menanggung malu dan kondisi dirinya masih baik-baik saja, tapi mau bagaimana lagi? Semua yang terjadi tak bisa kembali dan di perbaiki.

"Kamu adik tingkat Anita, kan?" tanya Wati pada Raina yang kemudian menganggukan kepala. 

"Anita sekarang sudah kuliah. Kamu suka lihat dia berangkat, kan?" tanya Wati lagi, membuat Raina kembali menganggukan kepalanya. 

"Sayang banget, ya, Na. Harusnya sekarang kamu kelas 3 SMA, tapi malah pilih takdir hamil duluan dan jeda sekolah. Padahal ayah kamu selalu bangga-banggain kamu di hadapan kita semua."

Deg. Hati Raina terasa sesak saat kata-kata itu dilontarkan. Bahkan jari tangannya menggengam erat belanjaan yang ia bawa. Perasaannya bergemuruh. Ia hanya bisa diam berharap dua orang yang ia hormati ini tak lagi melanjutkan kata-katanya. 

"Maaf, bu. Menurut Saskia kata-kata ibu sudah keterlaluan. Memilih takdir? siapa, sih, bu orang yang mau pilih takdir kaya gini? Raina juga sebenarnya gak mau, bu. Tapi mau bagaimana lagi? nasib orang, kan, gak ada yang tahu." Melihat Raina yang terdiam tanpa perlawanan membuat Saskia berbicara. Ia rasa tak seharusnya seorang ibu yang mempunyai anak menghancurkan mental orang lain karena kondisinya. 

Raina, Hujan Telah Datang (NEW VERSION)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang