|RHTD 29| Peristirahatan Terakhir

11.2K 530 109
                                        

Takdir Sang Pencipta itu tak bisa di ubah. Kematian yang rahasia dan terkesan tiba-tiba, bencana yang melanda, atau pun masa depan yang tak sempurna, itu sudah suratan takdir untuk manusia. Sementara kita yang diberikannya? Hanya bisa menerima walau sulit untuk di terima.

***
KALAU KOMEN KALIAN TEMBUS 100 AKU UP 1 PART LAGI MALAM INI HEHEHE. TAPI KALAU GAK TEMBUS AKU TETAP BERTERIMA KASIH SAMA KALIAN KARENA BERSEDIA SPAM KOMEN ♥️

Halo? Gimana kabar kalian? Semoga selalu baik-baik aja ya guys. Oh, iya, terima kasih untuk kalian yang sudah memberikan komentar di part sebelumnya. Terimakasih juga untuk kalian yang sudah bersedia baca. Semoga selalu diberikan kesehatan ya guys, amin.

***
EH KALIAN UDAH FOLLOW AKUN INI?
BELUM? YA, ALLAH PADAHAL BACA CERITANYA.
GAS FOLLOW ME 💜
HAPPY READING BESTI

Mobil melaju dengan kecepatan sedang, tak ada pembicaraan atau pun interaksi selain hanya bisa terdiam dan fokus dengan pikiran. Raina yang sudah merasa lega, sementara Dion yang terus memikirkan bagaimana caranya agar Raina kembali pada dirinya dan berinteraksi seperti dulu lagi, sebelum insiden itu terjadi. Melihat sorot matanya yang hanya melihat jalan tanpa melihat nya membuat ia paham bahwa Raina masih menyimpan rasa kecewa. Ya, tentu saja karena dirinya. Ia juga tak tahu pasti, bagaimana itu bisa terjadi dan kenapa ia tak bisa mengendalikan dirinya sendiri. Ia sudah gila? Tentu saja. Ia gila karena kecantikan Raina.

Mobil Dion memasuki jalanan yang sepi dengan pohon rindang yang terus ia lihat sepanjang jalan. Hanya ada beberapa kendaraan yang melalui jalanan ini. Dion dengan tiba-tiba memberikan sen dan berhenti tepat di bibir sebelah kiri jalanan yang sepi. Melihat mobil yang terhenti, membuat Raina sontak menolehkan kepalanya pada Dion. Ia memegang jari jemari tangannya begitu erat. Apakah itu akan terulang lagi?

"Tenang aja. Gue gak akan ngapa-ngapain. Gue berhenti karena mau ngomong sama lo," ucap Dion ketika melihat ekspresi takut itu timbul lagi dari Raina.

Dion menghela napasnya. Sesusah itu mengembalikan rasa percaya? Kalau ternyata Raina membenci nya, ia tak akan lagi bisa memandangi wajahnya atau bahkan berdekatan lagi dengan Raina. Yang ingin ia semogakan atas kesalahannya adalah Raina bisa menerima dirinya seutuhnya dan melupakan kenangan buruk yang pernah tercipta. Namun tentu saja itu susah.

"Ekspresi takut itu buat gue merasa bersalah. Bisa, gak? Lo terima gue lagi? Terima gue sebagai Dion bukan sebagai penghancur masa depan lo," tanya Dion pada Raina yang terus saja menatap jendela.

Raina terdiam. Tak ada jawaban. Dion yang melihat itu pun hanya tertawa ringan. "Ada apa, sih? Apa lebih indah di luar sana dari pada muka gue?"

Raina tak menjawab. Dion yang sudah sangat kesal atas aksi Raina yang terdiam pun meraih kepala Raina. Ia menangkup pipi cabi Raina yang sekarang mulai tirus akibat kurang tidur dan pikirannya. Retina mata mereka saling memandang satu sama lainnya. Tangan Dion yang masih ada di sana membuat Raina tak bisa berbuat apa-apa selain menatap Dion dengan tatapan marah dan kebencian yang masih ada.

"Gue tahu lo benci sama gue, kesel, atau kecewa sama gue, tapi gue mohon sama lo, jangan jauhin gue. Jawab kalau gue ajak lo ngomong. Gue tahu mengembalikan rasa percaya itu susah, tapi apa lo gak akan lakukan itu untuk gue yang mau merubah semuanya?" tanya Dion menatap dalam retina mata Raina.

"Setelah apa yang kamu lakukan sama aku, apa pantas aku percaya lagi sama kamu? Jujur, aku nyesel ketemu sama kamu, interaksi bahkan dekat sama kamu. Kalau aku tahu kamu bakal hancurkan semuanya, lebih baik aku mati saat itu juga," timpal Raina dengan mata yang begitu tajam menatap Dion yang kemudian melepaskan tangannya.

Raina, Hujan Telah Datang (NEW VERSION)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang