|RHTD 15| Sahabat Terbaik

8.6K 445 21
                                        

Di saat semuanya tak lagi ada, ada satu orang yang selalu membuat aku bahagia, terlepas dari apa yang aku alami saat ini, terlepas dari bagaimana hati menahan sakit dan perih.

|Raina Tasya|

🌴🌴🌴🌴🌴

Halo guys, gimana kabarnya? Semoga kalian selalu diberikan kesehatan, ya, amin. Terimakasih untuk kalian yang sudah komen, dan memberikan vote di part sebelumnya. Makasih banyak guys.
GIVE ME VOTMENT PLEASE 💜🌼
HAPPY READING 🌼

FOLLOW ME

🌴🌴🌴🌴🌴🌴🌴

*** 

Ada banyak hal yang aku rasa, hanya bisa di simpan rapi dalam hati yang hancur dan sudah tak berbentuk lagi. Berulang kali memaksa untuk menerima semua yang terjadi, tapi raga dan hati seolah saling memberi perlawanan pada diri. Jika di tanya apakah ia sakit? Sangat. Bagaimana rasanya jika seorang perempuan sudah kehilangan kehormatannya? Hidupnya tak lagi berwarna. Harapan dan cita-cita sudah terkubur dalam bersamaan dengan rusaknya harga diri dan dirinya. Sebagai seorang perempuan ia tak bisa menerima diri, sekuat apa pun ia menerima, pada saatnya semua orang akan tahu bahwa ia kotor dan rusak. Di saat itu terjadi, akankah ada seorang pria yang menerima dirinya dengan segala kekurangannya? Ia rasa tak ada.

Hal yang ia takuti setelah ini adalah jika ia hamil anak Dion nanti. Usianya yang masuk ke dalam masa kesuburan di mana organ reproduksi sudah berfungsi dan berjalan dengan semestinya, membuat ia takut kemungkinan itu akan terjadi, apa lagi saat ini ia masuk dalam masa subur. Satu kebohongan bahkan sudah ia lakukan, tepat ketika sang Abang menjemput dirinya dengan wajah yang kedinginan berdiri di depan mobil, ia tega mengatakan bahwa ia sudah pulang dan menginap di rumah Saskia. Ia tak sanggup bertemu dengan abangnya saat ini.

"Ini apartemen gue, lo bisa mandi dulu kalau lo mau," ucap Saskia membuat Raina mengangguk dan segera pergi dari sana.

Raina masuk ke dalam kamar mandi Saskia. Perempuan itu menyalakan keran dengan suara yang begitu kuat berpadu dengan lantai keramik. Tubuh Raina luruh ke bawah, diam menikmati guyuran air yang menyapa tubuhnya . Ia terus menggosok-gosok kuat tubuhnya. Menggosok dengan sekuat tenaga untuk menghilangkan segala deritanya. Menghilangkan bayang-bayang di mana tiga pria termasuk Dion menikmati tubuhnya tanpa rasa bersalah, tertawa dan senyuman yang membuat ia muak seketika. Berulang kali ia membenturkan kepalanya ke tembok, berusaha untuk menghilangkan semua ingatan buruknya, tapi kembali lagi ingatan itu seolah tak mau sirna dalam dirinya.

"Kamu bodoh Raina. Kamu udah kotor sekarang, kamu terlalu percaya, kalau Dion adalah pria baik, seharusnya kamu gak percaya sama pria seberengsek Dion. Kamu salah ....."

Walau bukan sepenuhnya salah, Raina terus menyalahkan dirinya yang terlalu percaya bahkan menaruh rasa pada pria seburuk Dion. Permintaan maaf dan permohonan yang ia lakukan sebelum kejadian, membuat ia bisa menilai bahwa Dion adalah pria yang buruk. Pria yang tak tahu malu dan pria yang suka merusak perempuan sebelum waktunya.  Jika dari awal ia bisa merubah waktu dan keadaan, ia ingin menghapus rasanya, menghapus pertemuan pertamanya yang membuat ia berdebar, dan perhatian Dion pada dirinya.

Semuanya hanyalah kenangan yang tak bisa ia ubah atau lupakan begitu saja. Akan tetap ada bersamaan dengan nadinya yang masih bernyawa. Raina yang menyadari sesuatu pun segera berjalan ke bath tub. Ia mengarahkan shower untuk mempercepat pengisian bak mandi yang lumayan besar itu. Setelah sudah terisi penuh, tanpa basa basi Raina berendam di dalamnya, dengan tubuh yang bahkan tak terlihat lagi. Kepalanya ia dorong kedalam, menyatu dengan air yang penuh, tak peduli dengan rasa sesak yang ia rasakan saat ini, yang terpenting adalah bagaimana nadinya bisa berhenti, dengan begitu rasa malu dan apa yang ia rasa saat ini bisa terhenti.

Raina, Hujan Telah Datang (NEW VERSION)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang