Rasa itu tak bisa di pungkiri keberadaannya
Berulang kali menahan sesak, walau pada dasarnya ingin bahagia
Harus terluka kembali pada satu kondisi yang tak bisa dijelaskan oleh sebuah kata.
***
Halo guys? Gimana kabar kalian? Semoga selalu baik-baik aja ya guys. Jangan lupa untuk berikan komen dan vote ya. Aku tunggu guys.
***
UDAH FOLLOW AKUN WP INI?
BELUM? HA? KOK BELUM
BURUAN YUK LAH FOLLOW ME
HAPPY READING
"Biarin dia pergi," cegah Raina membuat Saskia yang ingin mengejar Anita harus menghentikan langkahnya. Ia kembali terduduk, menatap Raina yang terlihat menundukkan kepalanya. Ia tahu apa yang Raina rasakan saat ini. Baginya, Raina adalah wanita hebat yang bisa menahan semuanya, tapi tidak dengan dirinya yang justru merasa sedih melihat Raina yang harus berpura-pura baik-baik saja padahal hatinya terluka.
"Dia harus di jelasin, Na. Anita pasti salah paham, karena dia gak tahu kejadian yang sebenarnya," ucap Saskia membuat Raina mengangkat kepalanya. Raina menatap sahabatnya dengan senyuman yang terbit kala hatinya bahkan merasa terluka karena tindakan salah satu sahabat nya.
"Untuk apa? Orang yang mengerti, tanpa perlu di jelaskan juga akan paham. Percuma kita ngejelasin ke Anita, kalau rasa percaya Anita ke aku udah pudar. Ternyata gini, ya? Bukan cuman lingkungan aja, tapi keluarga dan sahabat pun gak mau dengerin penjelasan dari aku. Mereka cenderung menyalahkan, menghina, merasa tidak percaya, pada korban yang seharusnya diberikan dukungan, bukan celaan," jelas Raina membuat Saskia mampu terdiam.
Sekarang Raina merasakan betul apa yang korban lainnya rasakan. Pantas saja setiap ia melihat televisi, banyak sekali korban yang ingin mengakhiri hidupnya karena depresi dan kehilangan motivasi untuk hidup lagi. Salah satu penyebabnya adalah perkataan. Alias kekerasan verbal yang sering korban dapatkan, entah dari lingkungan, keluarga, teman, atau bahkan sahabat sendiri. Jika saat itu Dion tak datang dan membawa ia ke psikolog, mungkin nasibnya akan sama seperti korban yang ada di televisi. Mau bagaimana lagi? Sudah kehilangan semuanya, ditambah dengan kehilangan rasa percaya dari orang-orang yang mungkin tak tahu kejadian sebenarnya.
Korban selalu di sudutkan, padahal sepenuhnya bukan salah mereka. Sementara pelaku? Terus di agung-agungkan. Pelaku masih bisa sekolah, hidup dengan damai, menikmati hidup tanpa rasa malu atau merasa hina, sementara korban harus menahan malu dan berhenti sekolah untuk melahirkan anaknya. Terkadang hukum di Indonesia tak adil untuk korban di luar sana, termasuk dirinya. Mungkin jika ia melaporkan semuanya, bukti dan penjelasannya akan kalah dengan uang atau pun kesepakatan untuk menikahi korban. Jelas percuma bukan? Kita yang ingin memperjuangkan harus di jatuhkan oleh realita dan fenomena yang sudah terjadi di kalangan masyarakat. Pada dasarnya rasa itu, hinaan dan apa yang ada di pikiran orang akan terus melekat di dirinya sampai ia kembali hidup dengan normal.
"Maafin Anita. Maafin gue juga, gue gak tahu kalau dia ----"
Raina menggelengkan kepalanya. "Kenapa harus minta maaf? Kamu gak salah. Kebohongan akan terungkap pada waktunya, jadi, mungkin ini adalah waktu yang tepat untuk semuanya."
Saskia yang melihat ketegaran itu dalam hati dan tatapan mata Raina merasa malu dan merasa bersalah. Sampai sekarang ia tak mengetahui kabar apa pun dari kakaknya, tak mengetahui bahwa Dion akan bertanggung jawab atau tidak ke depannya. Ia merasa kasihan pada Raina yang harus menanggung semuanya. Menanggung malu dan sakit yang harus ia rasa, sampai pada akhirnya anak itu lahir ke dunia.
KAMU SEDANG MEMBACA
Raina, Hujan Telah Datang (NEW VERSION)
Fiksi PenggemarDipatahkan oleh keadaan Dianggap sampah oleh lingkungan sekitar Dijauhkan dari masa depan dan kebahagiaan Kata orang hal yang paling bahagia adalah bisa meraih segala asa. Satu persatu tujuan hidup tercapai, adanya kebahagiaan dan terus berjalan u...
