Dipatahkan oleh keadaan
Dianggap sampah oleh lingkungan sekitar
Dijauhkan dari masa depan dan kebahagiaan
Kata orang hal yang paling bahagia adalah bisa meraih segala asa. Satu persatu tujuan hidup tercapai, adanya kebahagiaan dan terus berjalan u...
Kejujuran itu memang menyakitkan, tapi lebih sesak dan berat lagi, ketika kita menyimpan sebuah kebohongan besar.
🌴🌴🌴🌴
BACA VERSI AU DI AKUN TIK TOK: Seblakkerupuk56 / Instagram: Shtysetyongrm
GUYS YUK BANTU AKU BERIKAN KOMEN DAN VOTE SATU KOMEN DARI KALIAN BERARTI SANGAT BUAT AKU LOH 😩😁 YUK JANGAN PELIT KOMEN 🌴🌴🌴🌴🌴
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Kebohongan tak akan membuat kita tenang. Namun kejujuran begitu menyakitkan untuk di ungkapkan. Manusia hidup di antara kebimbangan, bergelut antara pikiran, perasaan, dan logis yang selalu di kedepankan. Bertindak sesuka hati, menutupi apa yang memang harus di tutupi untuk kebaikan diri sendiri. Padahal yang baik untuk kita, belum tentu sesuai dengan kehidupan kita ke depannya. Mungkin perasaan itu yang saat ini di rasakan oleh Raina. Butuh dua hari ia mengumpulkan keberanian diri. Keberanian di mana ia berkumpul dan duduk di tengah-tengah keluarganya yang saat ini sedang menonton televisi.
Kepala itu terus menoleh ke kanan dan ke kiri. Layar televisi yang menyala, dengan dua laptop yang selalu di pegang oleh dua pria dewasa, sudah menjadi bagian dari keluarga Raina. Sementara ibunya sibuk dengan acara yang ada di hadapannya. Sesekali sang kakak Surya mengajaknya berbicara, tentu saja tentang masa depan, yang bahkan kini sudah tidak bisa di harapkan.
"Gimana? Olimpiade nya lancar?" tanya Surya membuka percakapan.
"Hm ... Di undur. Seharusnya Minggu kemarin, tapi di undur Minggu ini. Lima hari lagi bang," balas Raina membuat Surya mengangguk saja.
"Jangan lupa jaga kesehatan loh, nak. Ini kesempatan kamu untuk dapatkan beasiswa impian," tutur Irin, sebagai seorang ibu memberikan saran untuk anaknya yang sedang berjuang.
"Makasih bunda," balas Raina pada bundanya, sembari tersenyum cerah di sana.
Hening. Tak ada lagi kata-kata yang Raina ucapkan pada keluarganya. Kedua matanya justru terarah pada perkumpulan yang saat ini terjadi. Pikirannya terus dilanda perasaan bersalah pada keluarganya, hatinya merasa sakit. Bagaimana bisa ia berterus terang pada keluarganya, sementara dirinya sendiri belum bisa menerima kenyataan pahit yang singgah dalam hidupnya.
"Kamu kenapa? Kok nangis? Kamu bukan satu kali ini aja loh nangis. Sepulang dari pensi kamu berubah. Abang sadar perubahan kamu. Kamu jadi lebih pendiam, di ajakin kemana-mana gak pernah mau, terus nangis secara tiba-tiba. Kenapa? Cerita ke Abang siapa yang nyakitin kamu?"
Pertanyaan Surya bukan tanpa alasan. Ia kerap kali menemukan Raina berdiam diri dikamar sendirian dengan pintu kamar yang terkunci, wajahnya murung, lebih suka menangis, tidak nafsu makan, bahkan lingkaran hitam di mata adiknya terlihat jelas seolah kekurangan tidur.