Sejatinya perkiraan manusia akan menjadi nyata jika kita percaya. Hal yang perlu dilakukan sebenarnya adalah antisipasi karena dengan antisipasi kita bisa menjaga diri kita.
***
Halo, sebelum baca part nya, tolong berikan vote, komen, dan tinggalkan jejak komentar kalian ya. Satu komentar dari kalian adalah penyemangat bagi author walau hanya komen next saja.
***
UDAH FOLLOW ME? KALAU BELUM GAS FOLLOW HEHE.
"Cowok tadi siapa, Na?" tanya Surya pada adiknya.
Raina menoleh. Ia segera mematikan ponselnya dan menggelengkan kepalanya. "Aku gak kenal banget, sih, bang. Tapi tadi dia ngajak kenalan, kakak kelas Raina katanya."
Surya menganggukan kepalanya. Ia yakin ada hal yang tidak beres. Mulai dari perilaku yang menunggu adiknya, tatapan mata, dan bagaimana ia terus mengajak adiknya berbicara menandakan rasa ketertarikan pada adiknya.
"Kita mau kemana bang?" tanya Raina saat melewati rumahnya tanpa berhenti.
"Makan geprek, yuk," ajak Surya pada adiknya. Dari tatapan mata yang berbinar-binar, ia yakin tak ada penolakan.
"Asik! Tahu aja kalau Raina lapar," balasRaina membuat Surya mengelus kepala adiknya.
Mobil yang dikendarai oleh Surya melaju dengan kecepatan sedang. Beberapa ruko dilewati, sampai pada akhirnya sebuah plang yang berada dipinggir jalan terlihat jelas "Geprek Bensu" Ya, disanalah mereka akan menikmati geprek. Ketika mobil sudah terparkir di depan ruko, Surya terlihat turun dengan payung yang ada di tangannya saat ini.
"Kamu duduk dulu. Biar abang yang pesan," ucap Surya membuat Raina mencari tempat duduk, sementara dirinya memesan geprek saat ini. Setelah pemesanan, Surya pun duduk di hadapan Raina yang tengah memainkan ponselnya saat ini.
"Abang boleh tanya sama kamu?" tanya Surya tiba-tiba membuat Raina menganggukkan kepalanya.
"Olimpiade sains kamu berapa Minggu lagi?"
"Dua minggu lagi, bang. Raina udah mempersiapkan diri kok. Doain menang biar bisa dapat beasiswa kuliah," balas Raina penuh harap.
"Abang bisa bantu biaya kuliah kamu kok. Jangan terlalu memaksakan diri."
Persiapan adiknya tidak main-main. Ia harus begadang tiap malam untuk belajar, seolah tidak peduli dengan kesehatan dirinya sendiri. Sakit tetap belajar, semuanya dilakukan sang adik demi mendapatkan beasiswa kuliah. Padahal ia masih mampu untuk membiayai adiknya.
"Abang, ini bukan perihal biaya. Raina suka aktivitas ini. Raina juga mau melanjutkan pendidikan dengan usaha Raina sendiri," balas Raina dengan kata-kata lembutnya seraya tersenyum pada abangnya.
"Permisi, maaf ini pesanannya," ucap pelayan yang mengantarkan ayam geprek pesanan mereka.
"Makasih mbak." Mata Raina menatap ayam geprek level 5 yang ia pesan, seolah tidak sabaran untuk melahapnya. "Makan dulu yuk, bang. Laper, nih."
Ditengah guyuran hujan yang tak kunjung terang, kakak beradik itu terlihat begitu lahap memakan ayam geprek yang telah mereka pesan. Sesekali Raina tampak tertawa ketika wajah abangnya memerah karena kepedesan. Namun dalam diamnya, ada hal yang terus ia syukuri dalam hidupnya. Pertama ia merasa beruntung karena memiliki makanan kesukaan yang sama dengan abangnya. Kedua, ia merasa bersyukur karena abangnya begitu menyayangi dirinya.
"Wah, enak banget! Alhamdulillah kenyang," ujar Raina ketika makanannya sudah tandas sekarang. Ia melihat kulit ayam yang sengaja di singkirkan oleh sang Abang untuk di makan paling terakhir. Dengan senyuman yang licik, Raina pun menatap kulit ayam itu dengan tatapan lapar. "Boleh aku minta kulit ayamnya, bang?"
"Kan, kamu, udah makan tadi," ucap Surya pada adiknya.
"Tapi kurang. Abang tahu sendiri, Raina suka banget sama kulit ayam," balas Raina dengan tatapan yang sangat menginginkan kulit ayam itu.
Dengan tatapan dan tangan yang terpaksa ia menyodorkan kulit ayam itu tepat di hadapan bibir adiknya. Raina yang melihat itu pun tertawa lepas, suka sekali jika abangnya merajuk karena dirinya yang selalu mengganggu acara makannya.
"Raina bercanda bang. Makan aja, nanti nangis ngadu sama kak Dina lagi. Kasihan kak Dina harus nanganin bayi besar mulu," ucap Raina sembari tertawa membuat Surya menatapnya dengan tatapan yang tak percaya.
"Sabar, untung sayang. Kalau enggak udah gue tendang ke Pluto kali, biar gak bisa balik," ujar Surya sembari melahap kulit ayam itu.
"Alah, nanti kangen. Soalnya Raina, kan, ngangenin anaknya," ucap Raina membuat Surya hanya mengangguk saja.
"Abang bayar dulu, ya," ucap Surya membuat Raina hanya menganggukkan kepalanya. Namun suara notifikasi membuat Raina membuka ponselnya.
+629678******
Sve nomor gue ya, Dion.
Raina berpikir sejenak. Dion? bukankah itu kakak kelasnya? hal yang lebih aneh baginya adalah dari mana kakak kelasnya itu mendapatkan nomornya.
"Mau pulang?" tanya Surya pada adiknya.
"Bang, Raina di chat cowok," ucap Raina menghentikan langkah kaki Surya yang kemudian melihat pesan itu.
"Siapa ini?" tanya Surya pada Raina yang kemudian terduduk lagi.
"Kakak kelas Raina yang tadi nemenin Raina neduh di halte. Raina gak tahu dia dapat nomor Raina dari mana," balas Raina membuat Surya mengangguk lalu memberikan ponsel adiknya.
"Udah Abang blokir nomornya," ucap Surya membuat Raina menatap tak percaya.
"Kok di blokir? Nanti di kira Raina sombong lagi bang."
"Enggak. Abang tahu itu modus dia buat deketin kamu."
Surya kemudian menatap mata adiknya. "Na, saat ini kamu masih sekolah. Kejar apa pun yang kamu mau, abaikan yang akan menganggu diri kamu. Fokus sama tujuan, abang takut kalau kamu berhubungan sama cowok itu akan merusak fokus kamu."
"Untuk sekarang gak boleh dekat sama cowok dulu ya bang?"
"Bukan tidak boleh, hanya saja kita perlu menjaga jarak agar tidak merugikan diri kita sendiri. Sampai sini paham maksud abang?" tanya Surya seraya mengelus rambut adiknya.
Raina menganggukan kepalanya. Bahkan ia tersenyum ketika mendengar nasehat dari abangnya. Tidak ada yang salah.
#TBC
Gimana part kali ini guys? Semoga bisa di ambil pesan dan bermanfaat ya guys.
Jangan lupa untuk berikan vote dan komen ya guys.
Jangan lupa untuk follow:
Instagram: Shtysetyongrm
Tik tok: Seblakkerupuk56
Sampai bertemu di part selanjutnya. Terimakasih.
Kalian tahu cerita ini dari mana guys?
Raina & abangnya
KAMU SEDANG MEMBACA
Raina, Hujan Telah Datang (NEW VERSION)
FanficDipatahkan oleh keadaan Dianggap sampah oleh lingkungan sekitar Dijauhkan dari masa depan dan kebahagiaan Kata orang hal yang paling bahagia adalah bisa meraih segala asa. Satu persatu tujuan hidup tercapai, adanya kebahagiaan dan terus berjalan u...
