|RHTD 8| Separah Ini

9.2K 574 382
                                        

Mau diam juga tak bisa

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Mau diam juga tak bisa. Mau beralasan orang lain akan tahu kebenarannya. Terkadang hidup itu menyedihkan, harus berpura-pura tak terjadi apa-apa, padahal hati remuk tak terhingga. 

[Dion Bagaskara]

***
Halo, apa kabar? Semoga kalian tetap baik-baik aja ya guys. Please banget yang baca offline dukung aku setidaknya kasih vote dan komen satu aja guys itu udh buat aku senang, dan tahu kalau kalian baca cerita ini😍

***
GIVE ME VOTE DAN FOLLOW YA GUYS. 

"Lo bakal berhenti, kan?" Dion bertanya pada dirinya sendiri. Ia menatap wajah tampannya melalui pantulan kaca mobilnya. "Lo bakal berhenti setelah dapetin Raina, kan? Lo harus bisa sembuh. Lo harus bisa, Yon!"

Kata-kata itu menjadi tamparan untuk dirinya. Diam bukan berarti tak memikirkan, dalam hati yang paling dalam ia berusaha untuk bersahabat dengan segala kemungkinan yang ia dapatkan. Berulang kali ia terus berkonsultasi, pada dasarnya ia tak bisa lari. Ia tak bisa berlari kemana pun, sebelum ia bisa mengendalikan dirinya sendiri. Hampir setiap hari ia merasa bahwa dirinya ini gila. Harus ada satu perempuan yang mau dan menjadi korbannya. Padahal ia masih waras untuk memikirkan semuanya.

Tiga tahun ia terpisah dari keluarganya, hidup sendiri dengan keadaan yang seolah gila. Hanya bisa terdiam selepas pulang sekolah untuk menjaga dirinya dan orang yang ia cinta. Mereka pikir hidupnya bahagia? Tentu saja tidak. Hidup bergelimang harta membuat ia tak bisa merasakan betapa indahnya hidup di dunia. Tentu saja karena gangguan seksualitasnya. Jika remaja pada umumnya mencari pacar untuk menikah, beda dengan dirinya yang mencari pacar untuk kebutuhan dirinya.

Tatapan mata Dion teralihkan pada dua remaja perempuan yang berdiri di bibir jalan raya. Salah satu dari mereka sudah menaiki mobilnya, sementara yang lainnya berdiri sembari menunggu angkutan umum tiba. Dion melajukan mobilnya, berhenti tepat di depan Raina yang terkejut dengan kedatangan Dion yang  tiba-tiba menarik tangannya.

"Masuk," pinta Dion dengan suara dingin.

"Gak mau! Raina mau pulang!" seru Raina yang tentu saja memberontak karena Dion menarik secara  paksa dan menutup pintu mobilnya tanpa persetujuan dirinya. "Kita mau kemana, kak?"

"Lo diam!" sentak Dion seolah tak bisa mengendalikan dirinya.

Hasrat itu kembali muncul. Hanya dengan melihat Raina, ambisi untuk mendapatkannya tak bisa ia cegah. Berulangkali ia berusaha untuk mengendalikan dirinya, yang ada justru sebaliknya. 

"Kak, aku mau pulang." Raina melihat jalanan yang ia lalui dari jendela mobil. "Kita mau kemana?"

Dion tak bergeming sedikitpun. Ia terus saja melajukan mobilnya pergi menuju kawasan apartemen tempat dirinya tinggal. Tentu saja dengan segala rasa yang tak bisa ia jabarkan dan ia harapkan untuk ada saat ini. Dion segera memarkirkan mobilnya,  ia membuka pintu mobil dan menarik Raina untuk mengikuti dirinya. Kali ini yang perlu ia lakukan adalah sesuatu yang bisa memuaskan dirinya. Tak peduli dengan sentakan tangan yang berulang kali ia dapatkan, tak peduli dengan tangisan Raina yang sudah pecah karena dirinya. Ia sudah tak peduli lagi akan itu semua.

Raina, Hujan Telah Datang (NEW VERSION)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang