|RHTD 53| Di Pagi Hari

5.3K 337 134
                                        

Mau tahu seberapa besar kasih sayang seseorang pada diri kita? Amatilah sikap mereka ketika kita sedang tertimpa musibah dan masalah.
🌼🌼🌼

Happy Reading! Jangan lupa untuk follow akun ini dan komen ya 🌼

GIVE ME 100 KOMENTAR DI PART INI AKU UP LAGI MALAM INI SATU PART. AKU TUNGGU TEMBUS KOMEN DULU YA. 

🌼🌼🌼

"Bunda mau kemana? Kok bawa tas besar?" tanya Raina yang baru saja turun dari tangga, menemukan sang bunda sedang bersiap-siap seperti akan pergi dari rumah.

Wanita paruh baya yang diketahui bernama Irin itu menghentikan aktivitasnya. Melihat bagaimana anaknya saat ini menatapnya dengan tatapan penuh tanda tanya. "Bunda mau nginap satu Minggu tempat Abang kamu. Mereka mau ada syukuran rumah dan kumpul keluarga. Gak mungkin bunda gak datang."

Raina yang mendengar itu tersenyum senang. Kumpul keluarga? Itu berarti ia bisa mengenal seluruh keluarga dari kak Dina tanpa terkecuali.

"Raina ikut, ya? Raina mau kenal sama keluarga baru Abang juga," tanya Raina dengan ekspresi semangatnya.

"Kamu di rumah aja, ya. Jaga rumah kita. Bunda gak lama kok, cuman satu Minggu aja," balas Irin sembari merapikan penampilannya dihadapan sebuah kaca besar yang terletak di ruang tamu rumah mereka.

"Rumah ini gak akan kemana-mana bunda. Please, Raina ikut, ya? Raina mau kenal sama keluarga kak Dina juga," balas Raina berusaha untuk membujuk sang bunda.

Irin menatap Raina dari pantulan kaca. Senyuman itu membuat ia seolah marah. Terlihat bagaimana cara Irin menatapnya begitu tajam seolah tak senang jika Raina harus ikut bersama dirinya.

"Bunda, please, Raina mau ikut," pinta Raina seraya menyatukan kedua tangannya.

"Kalau keadaan kamu masih sama, mungkin bunda akan ajak kamu. Tapi apa kamu gak lihat diri kamu? Bunda harus bilang apa nantinya? Kalau Keluarga kak Dina tanya soal keadaan kamu?"

Tanpa ia sangka-sangka jawaban itu sangat menusuk relung hatinya. Teramat sakit untuk dirasakan seorang anak yang baru saja mendapatkan hinaan sendiri dari seorang ibu yang bahkan telah melahirkan dirinya ke dunia.

"Jadi bunda malu, ya? Makanya bunda gak ajak Raina?" tanya Raina dengan senyuman yang masih sama, namun tatapan matanya berkaca-kaca.

"Ya, udah, deh. Raina jaga rumah aja. Bunda hati-hati, ya," balas Raina tersenyum.

"Maaf, ya. Bunda cuman gak mau mendapatkan hinaan lagi karena kondisi kamu. Kamu juga harus menjaga mental kamu. Bunda pergi dulu. Jaga rumah jangan kemana-mana. Assalamualaikum."

"Walaikumsallam."

Bertepatan dengan kepergian sang bunda yang sudah meninggalkan rumahnya, air mata yang sudah ia bendung luruh seketika. Matanya terus menatap sang bunda yang bahkan sudah pergi menggunakan mobil meninggalkan dirinya yang hanya bisa meratapi betapa nasib malangnya di rumah. Mungkin ini bukan yang pertama, tapi rasanya tetap sama. Perasaan sakit yang amat besar kala sang bunda malu dengan kondisinya. Kalau roda kehidupan bisa di putar, mungkin saat ini ia bisa berkumpul dengan keluarganya untuk mengenal satu sama lain dengan keluarga baru abangnya. Kalau saja ia tak hamil dan ayahnya masih ada, mungkin saat ini ia masih bisa bercengkrama dengan baik dengan bunda dan ayahnya. Tapi mau bagaimana lagi? Yang terjadi hanya bisa dikenang tanpa bisa di perbaiki kembali.

Raina, Hujan Telah Datang (NEW VERSION)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang