|RHTD 61| Aku Ingin Bertemu Ayah

9.7K 533 428
                                        

Tiada kata yang bisa menggambarkan betapa rasa sakitnya ketika hidup terus di uji oleh duka, tanpa bahagia. Hanya bisa terus menangis walau tanpa air mata yang mengalir di sana. Pura-pura bahagia pun tak bisa merubah apa-apa. Hanya berdiam diri memikirkan apa yang terjadi ke depannya. Membiarkan takdir menemukan sandaran terakhirnya.
Pada dasarnya aku pernah berjuang menyakinkan orang-orang tentang sebuah kebenaran, tapi garis akhirnya selalu di salahkan. Kembali pada titik dimana aku menyerah pada takdir yang memberikan semua harapan, dalam kepergian yang aku yakini akan memberikan sebuah kebahagiaan.

🌼🌼🌼

Happy Reading. Dengarkan lagu usik sembari baca ini guys. Pasti langsung kena emosinya 😭 jangan lupa tinggalkan jejak kalian di kolom komentar. GIVE ME 300 KOMENTAR HEHEHE. 
🌼🌼🌼

"Sakit, Sas," lirih Raina merasakan bagaimana rasa sakit yang ada di perutnya. Pegangan tangan yang semakin erat tak bisa ia lepaskan kala rasa sakit itu melanda. Hanya Saskia yang saat ini duduk di sampingnya dengan kata-kata semangat yang terus menguatkannya.

"Sabar, ya. Gue yakin Lo bisa." Mata Saskia bahkan sudah menitikan air mata. Melihat bagaimana sahabatnya berbaring lemah di perjalanan menuju rumah sakit dengan rasa sakit yang ada membuat ia tak bisa membayangkan bagaimana rasanya berada di posisi Raina.

Kejadian di apartemen itu membuat Saskia segera menelepon ambulance rumah sakit terdekat untuk mengantarkan proses persalinan Raina. Malam ini adalah saksi dimana seorang Raina mempertaruhkan hidupnya untuk anak tercinta. Mempertahankan seorang bayi yang bahkan tak pernah di anggap ada oleh Dion yang sudah banyak menorehkan luka untuknya. Hari dimana hidup dan matinya akan menjadi sebuah keputusan paling akhir sepanjang hidupnya. Hanya kekuatan dan doa yang Raina butuhkan saat ini. Bersama keluarganya ia yakin ada keajaiban untuk ia melewati semua proses persalinan yang ada.

"Pak bisa di percepat gak? Tolongin sahabat saya," pinta Saskia pada sopir dan beberapa bidan yang ada dalam mobil.

"Sabar, ya, dek. Kita lagi berusaha," balas sopir itu membuat Saskia tak tenang. Walau ada bidan yang mendampingi Raina saat ini, tetap saja ia khawatir dengan kondisi Raina.

"Sudah bukaan 5," ucap bidan itu pada Saskia yang tak tahu apa-apa.

"Apa pun itu, tolong bantu sahabat saya. Saya gak mau Raina kenapa-kenapa," balas Saskia pada bidan yang kemudian menganggukkan kepalanya.

Beberapa menit kemudian mobil ambulance itu tiba di sebuah rumah sakit tempat dimana Raina akan melakukan persalinan. Rumah sakit Harapan Bunda yang berada dekat di kediaman Dion yang baru saja menolehkan luka. Bahkan kala Raina di dorong untuk memasuki rumah sakit, genggaman itu tak pernah lepas dari tangannya. Genggaman penuh harapan bahwa Saskia mampu menghilangkan rasa sakit yang ada. Raina di bantu bidan dan dua perawat rumah sakit memasuki ruang persalinan. Semua alat medis sudah terpasang di tubuh Raina, termasuk beberapa obat penguat janin yang sempat lemah di detik-detik Raina yang akan melahirkan.

"Maaf, apakah ada keluarganya? Atau suaminya?" tanya bidan itu sembari mengecek kondisi Raina.

"Keluarganya sedang berada di jalan menuju ke sini, Bu," balas Saskia yang selalu berada di samping Raina.

"Baik. Nanti kalau sudah datang tolong temui saya, ya. Sekarang masih bukaan 5 menunggu beberapa bukaan lagi agar bisa melahirkan dengan normal. Saya akan tetap pantau. Saya permisi," ucap bidan itu membuat Saskia menganggukkan kepalanya.

Raina, Hujan Telah Datang (NEW VERSION)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang