Ternyata masa remaja itu sulit, ya. Bertahan sekuat baja, dihempas oleh realita, kembali di bangkitkan oleh asa dan cita-cita.
(Raina Hujan Telah Datang)
***
Halo besti. Selamat membaca, semoga kamu suka dengan alur cerita dan tokohnya. Silahkan tinggalkan jejak kalian berupa vote, dan komen guys. 1 komen berati sekali buat aku ya guys. Terimakasih.
FOLLOW AKUN INI
🌴🌴🌴🌴🌴🌴🌴🌴🌴🌴🌴🌴🌴🌴
Perkumpulan tiga sahabat disebuah apartemen tentu menjadi rutinitas yang kerap kali mereka lakukan sebagai bentuk persahabatan. Meja yang ada di hadapan mereka tak lepas dengan minuman bersoda dan rokok di atasnya. Sesekali dua diantaranya saling melempar canda, sementara satu orang yang tak terlibat seolah tengah memikirkan sesuatu di tempat duduknya.
"Lo mikirin apa, sih?" tanya Vino seraya menatap Bagas.
"Gue bingung. Raina susah banget di dekati," balas Bagas mengutarakan apa yang ada dalam pikirannya.
Rian tersenyum. Ia selalu mengatakan Raina akan sangat susah didapatkan, apa lagi pria yang mendekatinya Dion. Sangat mustahil jika siswi berprestasi terpesona dengan playboy.
"Gas, ketua osis aja gak di gubris, apa lagi lo. Nyerah aja udah," sahut Rian membuat Vino tertawa renyah.
Dion terdiam. Apa yang dikatakan Rian adalah fakta. Ketua osis saja diacuhkan, apa lagi dirinya yang tak sebanding? huft, rasanya ia ingin menyerah. Namun bagaimana harga dirinya?
"Gue ada ide," ucap Vino membuat Rian dan Bagas menoleh otomatis.
"Apaan?" tanya Bagas.
"Setahu gue, Raina tertarik banget sama beasiswa sekolah. Kenapa lo gak minta tolong bokap buat dekat sama Raina?" tanya Vino pada Bagas.
"Mustahil. Bokap gue gak akan mau."
"Bokap lo pasti mengabulkan. Bilang aja lo mau berubah, lo mau belajar sama dia. Guru-guru juga akan setuju karena bokap lo pemegang saham tertinggi di sini," jelas Vino lagi. Ia seolah memberikan ide yang tak pernah dipikirkan oleh Dion.
Dion tersenyum lebar. "Pinter juga."
"Pakai otak makanya. Dekati orang yang pintar, melalui jalan yang pinter juga."
"Apa gak keterlaluan lo berdua?" tanya Rian yang seolah tak setuju kalau mereka berdua menjadikan Raina sebagai bahan taruhan.
"Lo gak usah sok suci! Lo juga sering main sama pacar lo anjir!"
"Beda konteks. Gue sama pacar gue melakukan karena sama-sama mau, kalau Raina? karena dipaksa. Bisa kena kasus lo berdua," jawab Rian dengan pikiran rasionalnya.
"Diam aja udah. Anggap aja lo gak pernah terlibat dalam misi ini," ucap Dion membuat Rian mengangguk saja.
Dion yang tanpa beban langsung menuang minuman itu ke dalam gelas kecil miliknya. Lagi lagi ia tersenyum merasa bahwa Vino sangat membantu dirinya. Ia juga tak perlu repot lagi untuk memikirkan bagaimana caranya. Ketika ia akan menenggak minuman yang kedua, suara dering ponsel membuat ia segera mengangkatnya. Ketika sebuah suara terdengar, Dion menaruh minumannya.
"Halo, Dion. Papa sudah berada di depan apartemen. Papa tunggu di ruang makan seperti pertemuan kita sebelumnya."
Kalimat perintah yang ia dengar membuat Dion segera meninggalkan teman-temannya. Ia menuju kamar mandi, membasuh muka dan menata rambutnya agar terlihat rapi.
"Beresin mejanya. Asbak, rokok, minuman buang dulu aja. Bokap pasti cek kamar gue," pinta Dion buru-buru, membuat kedua sahabatnya yang sudah paham melaksanakan permintaannya.
Langkah kakinya begitu tergesa-gesa menuju salah satu ruangan yang sejujurnya tak pernah ia sambangi, kecuali jika papanya meminta. Ia membuka pintu ruangan itu. Pemandangan yang pertama kali ia lihat adalah makan malam yang sudah siap.
"Papa dengar kamu banyak masalah. Suka merokok, minum, bahkan melakukan seks bebas dengan adik kelas kamu. Mau sampai kapan kamu seperti ini?"
Baru saja duduk, ia sudah diberi pertanyaan seperti itu. Tatapan mata dan ekspresi yang tidak bersahabat membuat Dion hanya bisa menunduk dan mengepalkan tangannya. Bagaimana pun sikap papanya, ia tak bisa melawan.
"Jawab papa!" sentak Andro yang tak lain adalah papa kandung dari Dion.
"Papa dapat info dari mana?" tanya Dion.
"Dion, Dion. Kamu lupa siapa papa? Papa bisa melakukan apa saja, termasuk menghancurkan kamu. Apa kamu ingin membuat papa malu? Sudah tiga perempuan yang papa suap untuk menutup mulut mereka. Tidak puas dengan satu perempuan saja?"
Dion mengangkat kepalanya. "Termasuk selingkuh dengan banyak wanita, pa?"
"Dion!" teriak Andro marah.
"Masa depan kamu itu ada ditangan papa. Kamu bisa hidup mewah seperti ini karena siapa? karena papa!" seru Andro pada anaknya.
"Kamu itu penerus papa, Dion," ucap Andro lagi.
Dion muak. Hanya kata-kata ancaman yang selalu ia dapatkan ketika bertemu. Dion terlihat berdiri, ia menatap papanya yang juga memberikan tatapan tajam untuk dirinya.
"Dion mau Raina jadi guru les Dion. Ini permintaan terakhir Dion, setelah itu Dion akan mengikuti perintah papa," ucap Dion beranjak pergi meninggalkan papanya.
#TBC
TAHU CERITA INI DARI MANA TEMAN-TEMAN?
YUK ABSEN KALIAN DARI MANA AJA?
FOLLOW ME:
AKUN WATTPAD INI
INSTAGRAM: Shtysetyongrm
TIK TOK: Seblakkerupuk56
FOLLOW LAH BIAR MAKIN SAYANG 💜🌼
Semoga suka dengan ceritanya. Terimakasih yang sudah membaca
Sehat selalu
Semangat selalu
Dan sampai bertemu di part selanjutnya 🌼
💜💜💜💜💜💜💜
KAMU SEDANG MEMBACA
Raina, Hujan Telah Datang (NEW VERSION)
FanfictionDipatahkan oleh keadaan Dianggap sampah oleh lingkungan sekitar Dijauhkan dari masa depan dan kebahagiaan Kata orang hal yang paling bahagia adalah bisa meraih segala asa. Satu persatu tujuan hidup tercapai, adanya kebahagiaan dan terus berjalan u...
