|RHTD 26| Belum Terlambat

8.9K 513 54
                                        

Tidak ada yang tidak mungkin, tidak ada yang terlambat untuk dilakukan, tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki semuanya. Karena terlambat yang sesungguhnya adalah ketika kita sudah tak bisa lagi menghirup udara.

***
Halo? Gimana kabarnya? Untuk para pembaca yang lagi ulangan semangat ya. Yang lagi sekolah juga jangan lupa semangat. Baca cerita ini ketika istirahat 😁 oh, iya, jangan lupa berikan komen dan vote ya guys.

***
UDAH FOLLOW WP AKU?
BELUM?
KENAPA GAK FOLLOW?
GAS FOLLOW ME 💜

🌴🌴🌴🌴
HAPPY READING

"Yah ... Ayah ... Raina minta maaf. Raina minta maaf karena bikin ayah marah dan malu," lirih Raina dalam kondisi mata terpejam dan belum sadarkan diri, namun sejak beberapa menit yang lalu setelah di tangani, remaja perempuan itu terus saja meminta maaf pada ayahnya. Alam bawah sadar Raina seolah bertemu dengan ayahnya yang sudah tiada.

Tangisan, air mata yang terus menetes deras di pipinya membuat hati Surya sebagai seorang Abang sakit seketika. Dengan telaten ia menghapus air mata yang terus bercucuran deras di sana. Hanya bisa terdiam sembari mengamati wajah tirus milik adiknya. Dulu ia bisa mencubit pipi Raina yang gembul, tapi sekarang pipi itu sudah tidak lagi menggembul. Tekanan, Stress yang dialami oleh Raina membuat berat badannya turun. Nafsu makannya juga tak lagi ada, padahal saat ini adiknya sedang mengandung di usia muda. Untung saja bayinya tak kenapa-kenapa, kalau ada apa-apa bisa di pastikan ia akan marah.

"Bang, aku pergi dulu, ya. Ada urusan yang harus aku selesaikan," ucap Saskia membuat Surya mengangguk saja.

Saskia dengan terpaksa harus pergi dan meninggalkan Raina untuk sementara. Hari ini ia tak berangkat sekolah. Padahal tepat hari ini juga adalah ujian terakhir untuknya. Ujian di mana penentuan apakah ia bisa naik ke tahap selanjutnya atau tidak. Ia berdiri di halte, menunggu bus yang akan lewat nantinya. Setelah ini dapat ia pastikan, bahwa ia akan terkena masalah setelah nya. Bus terhenti tepat di hadapannya membuat Saskia segera melangkah ke dalam dan duduk di salah satu bangku dekat pintu bus itu. Sepanjang perjalanan hanya bisa terdiam menatap jalanan yang ia lalui menuju sekolah Citra Bangsa saat ini. Ia yang tak memakai seragam dan baju yang terdapat bercak darah di dekat kerahnya tak peduli bagaimana orang lain memandangnya saat ini. Yang ia pedulikan adalah bagaimana ia bisa bertemu Dion dan membicarakan sesuatu tentang Raina.

"Yuk! SMA Citra Bangsa!" seru kenek bus membuat Saskia berdiri dan memberikan uang ongkos lalu keluar dari dalam bus yang membawanya masuk ke daerah sekolah.

Saskia melangkahkan kakinya. Ia yakin bahwa saat ini kakaknya pasti berada di warung samping dekat gerbang sekolah. Walau ia merasa tak yakin akan menemukan Dion di sana, tapi bagaimana pun jalannya ia harus bisa menemukan kakaknya yang sudah menghancurkan sahabatnya. Tanpa ragu Saskia masuk ke dalam warung, asap yang menyapa wajahnya bahkan tak ia pedulikan lagi saat ini. Tatapan matanya kemudian melihat sesosok pria yang ia yakini ikut mengambil peran atas apa yang sudah Dion perbuat pada Raina. Ia pun menepuk pundaknya, membuat pria itu menatapnya dengan penuh tanda tanya.

"Lihat Dion gak?" tanya Saskia tanpa basa-basi.

"Lo sahabatnya Raina, kan?" tanya pria itu membuat Saskia menganggukkan kepalanya.

"Dion gak sekolah hari ini. Dia di apartemennya sama Vino di sana. Ada urusan apa lo?" tanya Rian pada Saskia.

"Makasih."

Raina, Hujan Telah Datang (NEW VERSION)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang