Mendapatkan musibah adalah takdir yang diberikan Tuhan untuk manusia, namun perlu diingat setiap musibah pasti ada jalan keluarnya. Entah dipenuhi oleh air mata, duka, anala, itu semua takdir Tuhan yang harus diterima dengan lapang dada.
Terima kasih sudah komen di part 27. Give me banyak komentar di part kali ini guys. Btw komen dari kalian tuh mood banget buat aku sebagai authornya.
Follow me :
Instagram : Shtysetyongrm
Tik tok : Seblakkerupuk56
***
Happy Reading guys! Jangan lupa follow akun ini juga, ya. Makasih
Embun sudah tak lagi ada, burung yang berkicau sudah terhenti ketika matahari menampakkan diri. Celah jendela rumah sakit yang sedikit terbuka membuat wajah Raina terlihat cerah karena pantulan cahaya Hawa dingin sudah berganti dengan hangat, membuat Raina yang sudah cukup tidur membuka matanya. Hal yang pertama kali ia lihat adalah penjuru ruang yang kosong tak ada siapa pun, namun ketika ia menoleh tepat di sampingnya, seorang pria tengah tertidur pulas di sampingnya. Awalnya ia tak akan menyangka bahwa pria itu masih setia menemaninya dan menepati janjinya, tapi melihat bukti nyata yang ia lihat membuat ia percaya bahwa Dion benar-benar membuktikan perkataannya. Ketika ia ingin menyentuh wajah Dion yang tertidur pulas di sampingnya, suara pintu yang terbuka diikuti oleh dokter dan perawat membuat ia mengurungkan niatnya. Bahkan Dion yang awalnya tertidur pun terbangun ketika satu dokter dan perawat itu masuk ke dalam ruang inap Raina.
"Halo, selamat pagi. Hari ini sudah boleh pulang, ya, mbak Raina," ucap dokter membuat Raina sedikit lega. Karena dengan pulangnya ia, tak ada lagi rasa bersalah karena merepotkan orang-orang di sekitarnya.
"Pagi, dok. Alhamdulillah. Terima kasih dok," balas Raina tersenyum menatap ramah tenaga medis yang saat ini sedang melepaskan selang infus di tangannya.
"Iya, sama-sama. Oh, iya. Tapi jangan pulang dulu, ya. Pukul 08:00 nanti ada janji bersama psikolog untuk bahas kesehatan mental kamu," ucap dokter itu membuat Raina menautkan kedua alisnya.
"Siapa yang buat janji dengan psikolog, dok?" tanya Raina penasaran. Apakah sang Abang? Atau justru Saskia? Padahal ia baik-baik saja.
"Gue," sahut Dion membuat Raina menatapnya sekilas, lalu memalingkan wajahnya kembali.
"Makasih, ya, dok."
"Sama-sama. Kalau gitu saya permisi."
"Lo harus makan," ucap Dion yang tiba-tiba datang kembali membawa dua bungkus bubur ayam.
"Gak usah sok baik," balas Raina menolak bubur itu.
"Kenapa? Lo takut di dalam bubur ini ada obat bius?" tanya Dion pada Raina yang kemudian hanya diam saja. "Dari kemarin gue kaya ngomong sama tembok. Gue ajak ngobrol lo diam, giliran gue kasih perhatian salah juga. Kalau gak mau di makan gue buang aja, deh."
"Jangan," sahut Raina cepat, membuat langkah kaki Dion terhenti.
"Kenapa? Katanya jangan sok baik."
"Tapi itu makanan. Anak gue lapar," balas Raina cepat membuat Dion memberikan bubur itu lagi.
"Btw, itu anak gue juga."
KAMU SEDANG MEMBACA
Raina, Hujan Telah Datang (NEW VERSION)
FanfictionDipatahkan oleh keadaan Dianggap sampah oleh lingkungan sekitar Dijauhkan dari masa depan dan kebahagiaan Kata orang hal yang paling bahagia adalah bisa meraih segala asa. Satu persatu tujuan hidup tercapai, adanya kebahagiaan dan terus berjalan u...
