Lewat kamu aku belajar
Bahwa perihal mengikhlaskan tak pernah seburuk yang dibayangkan.
🌼🌼🌼
TERIMAKASIH YANG SUDAH BANTU SPAM KOMEN DI PART SEBELUMNYA. MAAF BARU UP KARENA SEMALAM ADA KEGIATAN LAIN GUYS. GIVE ME 200 KOMENTAR DI PART INI 🤗
FOLLOW AKU INI YA BESTI.
SEMOGA YANG BACA DAPAT MANFAATNYA
HAPPY READING 🌼💜
Mengikhlaskan adalah salah satu hal yang sulit untuk dilakukan. Belajar menerima kenyataan, tapi hati tak benar-benar mengikhlaskan apa yang telah terjadi. Tak semua orang bisa memilikinya, hanya orang-orang yang sudah menyerah pada keadaan yang cenderung mengikhlaskan apa yang sudah ada. Mengikhlaskan memang sulit untuk dilakukan, tapi bukan berarti tak bisa dilakukan. Hanya perlu waktu untuk benar-benar melupakan.
Malam ini bertepatan dengan yasinan dan selamatan rumah abangnya, Raina dibantu Saskia akan menemui Dion yang diketahui berada di apartemen. Hati yang terus diliputi oleh rasa bersalah membuat Raina berani meminta pertanggungjawaban Dion atas kehamilannya. Kali ini ia harus melakukan hal yang sebelumnya tak pernah ia lakukan, demi masa depan. Uang yang diberikan Dion tak cukup menjamin bahwa dirinya terbebas dari makian, yang ada justru hinaan lebih besar karena anaknya lahir tanpa seorang ayah.
"Sas, batal aja, deh. Aku takut dia marah," ucap Raina kala pintu lift terbuka.
"Lo gila? Justru yang seharusnya marah itu Lo. Gue juga gak akan nyangka kalau Dion kaya gitu sama lo," balas Saskia sembari menarik tangan Raina untuk keluar. "Ayo kita demo sama dia. Gue mau ponakan gue lahir ada ayahnya."
Mau tak mau Raina yang pasrah berusaha untuk mengumpulkan keberaniannya. Benar kata Saskia, yang seharusnya marah adalah dirinya bukan Dion yang tak mau bertanggung jawab atas kehamilannya. Dengan tangan yang terus menggandeng tangan Saskia, akhirnya mereka berhasil menemukan letak apartemen Dion yang berada dekat jendela dengan posisi berada paling ujung dari apartemen lainnya.
"Udah lo diam aja. Biarin gue yang labrak dia," ucap Saskia seraya menekan bel yang ada.
Satu kali bel apartemen Dion ia tekan, tak ada satu pun respon yang ia dapatkan. Saskia yang merasa kesal tentu saja menekan bel berkali-kali, namun tetap tak ada jawaban dari dalam.
"Kok gak ada yang jawab, ya?" tanya Saskia menoleh pada Raina yang memegang erat tasnya.
"Mungkin gak ada orang," balas Raina membuat Saskia menggelengkan kepalanya.
"Gue yakin dia di dalam. Gue coba lagi," ucap Saskia kembali menekan bel yang ada di apartemen kakaknya saat ini.
Saskia kembali menekan bel yang ada di sana, tapi lagi dan lagi tak ada satu pun jawaban yang ia dapati. Jujur saat ini ia bingung, apakah Dion benar-benar tak ada di dalam? Atau laki-laki itu sengaja mengabaikan mereka yang datang?
"Dion! Buka pintunya!" teriak Saskia tak mau mengalah dengan keadaan yang ada saat ini. "Woy, anjir emang! Buka gue bilang!"
Namun lagi dan lagi tak ada satu pun jawaban yang ia dapatkan. Hingga cukup lama berdiam, akhirnya pintu apartemen itu terbuka lebar. Menampilkan seorang pria yang mereka cari, namun berpakaian berbeda dan formal saat ini. Ada banyak orang didalam, namun Dion yang melihat kedatangan Saskia dan Raina memilih untuk menutup pintunya dan meraih tangan Raina untuk mengikutinya saat ini.
"Lo ngapain ke sini?" tanya Dion pada Raina.
"Lo sadar bilang kaya gitu? Mana janji, Lo? Katanya kalau lo pulang, Lo bakal nikahin Raina. Tapi apa yang Raina dapat?" Pertanyaan secara tiba-tiba itulah yang menjadi jawaban atas pertanyaan Dion saat ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
Raina, Hujan Telah Datang (NEW VERSION)
FanfictionDipatahkan oleh keadaan Dianggap sampah oleh lingkungan sekitar Dijauhkan dari masa depan dan kebahagiaan Kata orang hal yang paling bahagia adalah bisa meraih segala asa. Satu persatu tujuan hidup tercapai, adanya kebahagiaan dan terus berjalan u...
