Sejak saat itu tak ada lagi harapan yang ada dalam benak dan pikirannya, hanya ada sebuah jalan pintas yang menuntut aku untuk membunuh, hilang, dan lenyap dari dunia yang begitu menyedihkan untuk aku rasa.
***
Halo, sebelumnya jangan lakukan atau meniru adegan ini saat kalian kehilangan motivasi ya. Ini cuman kisah Raina aja kok 🥰 btw, terima kasih yang sudah memberikan vote dan komen di part sebelumnya.
***
Happy Reading!
Sesak itu masih bersemayam di hati dan jiwa. Tak bisa di lupakan begitu saja, walau rasanya terus bertambah. Semakin hari, semakin ia rasa bahwa hidupnya tak lagi berguna. Harus di benci seumur hidup oleh pahlawan keluarganya, bahkan setelah tiada, di buang begitu saja, dan harus menjaga anak haram yang ada dalam rahimnya. Sudah hancur, harus tertimpa tangga pula. Banyaknya cobaan yang semakin Raina rasakan, seolah tak mau lagi untuk ia pendam dan berusaha untuk sabar. Hatinya, fisiknya, dan apa yang ada di pikirannya sudah lelah seketika. Semakin banyak kasus yang merajalela membuat ia trauma karena ia salah satu dari korban yang hanya bisa diam tanpa melaporkan para tersangka. Mau melaporkan pun tak bisa karena ia tak punya cukup bukti yang sah.
Pagi ini ia memutuskan untuk menemui Dion yang tak lain adalah pelaku utamanya. Setidaknya masih ada harapan, walau pun itu sangat sedikit untuk di rasa. Pagi ini juga ia datang ke sekolah tanpa sepengetahuan Saskia yang sedang mengurus surat pemberhentian dirinya ke sekolah bersama sang Abang. Ia sudah tak peduli lagi dengan semuanya, impiannya sudah lenyap seketika. Asanya sudah terkubur dalam ketika sang ayah pergi meninggalkan dirinya yang sudah kotor dan menjijikkan.
Dengan langkah kaki yang gusar ia mencoba untuk mengabaikan semua sapaan yang hadir menyapanya, hanya satu tujuan akhirnya, yaitu rootof sekolah. Di sana mungkin ia akan menemukan Dion yang akan menjadi tanggung jawab terakhir untuk dirinya dan calon anaknya ini.
"Ngapain lo ke sini?" Dion yang awalnya duduk langsung berdiri, ketika melihat Raina masuk tanpa permisi dan menatapnya dengan tatapan tajam saat ini.
"Aku hamil," balas Raina dengan mental nya yang sudah lelah. Ia mencoba berdiri dekat di hadapan Dion, walau pun raganya sudah tak mau lagi menatap wajahnya.
Dion terdiam di tempatnya. Untung saja ia di sini hanya sendirian dan tak ada cctv. Mungkin orang suruhan papanya tak akan tahu bahwa Raina saat ini hamil anaknya. Namun tatapan Dion itu kembali menjadi tatapan dingin tak tersentuh.
"Oke, lo mau berapa? Sebut aja nominalnya, setelah itu pergi dari kehidupan gue," balas Dion dengan santainya.
Plak!
Tamparan keras menjadi jawaban dari pertanyaan yang Dion ajukan pada Raina yang sudah terlanjur kecewa. Raina menampar Dion dengan sangat kuat, lalu menarik kerah baju Dion untuk lebih dekat dengannya. Tatapan Raina terus menatap ke retina Dion yang seolah terkunci dengan tatapan Raina yang begitu memilukan saat ini.
"Di mana hati kamu sebagai seorang pria? Di mana hati kamu sebagai seorang pria!" teriak Raina tepat di wajah Dion. "Kamu yang kasih aku benih, ini! Tapi kenapa kamu lari dari tanggung jawab? Gak semuanya bisa kamu beli pakai uang. Kalau semuanya bisa kembali pakai uang, kembalikan nyawa papa aku sekarang juga! Kembalikan nyawa papa aku sekarang juga, Dion!"
Tangisan Raina dan tangan yang senantiasa mengguncangkan tubuhnya membuat Dion hanya bisa terdiam di tempatnya. Ingin rasanya ia memeluk Raina yang kehilangan masa depannya, tapi jika ia melakukannya, maka ia juga akan kehilangan masa depannya sebagai seorang pria.
KAMU SEDANG MEMBACA
Raina, Hujan Telah Datang (NEW VERSION)
FanfictionDipatahkan oleh keadaan Dianggap sampah oleh lingkungan sekitar Dijauhkan dari masa depan dan kebahagiaan Kata orang hal yang paling bahagia adalah bisa meraih segala asa. Satu persatu tujuan hidup tercapai, adanya kebahagiaan dan terus berjalan u...
