|RHTD 44| Untuk Apa?

7.1K 383 172
                                        

Satu kesalahan memang bisa merubah pola pikir orang berpandangan, tapi satu kebaikan tak akan bisa menutupi kesalahan.

***
Sahabat Raina terimakasih banyak sudah spam komen di part sebelumnya. Semoga kalian sehat selalu ya. Give me 100 KOMENTAR di part kali ini guys. 🥰

***
Happy Reading! Follow, komen, dan vote guys. Terimakasih. Bantu share cerita ini ya guys siapa tahu teman-teman kalian mau baca juga hehehe.

"Bun, Raina kenapa lagi? Aku tanya diam aja," tanya Surya ketika melihat bunda masuk dan duduk di hadapannya dengan wajah yang kurang bahagia.

Irin terlihat menghela napasnya. Sulit baginya menerima kondisi Raina yang tak biasa, tapi mau bagaimana lagi? Sudah seharusnya seorang ibu menjadi tempat bersandar, walau pada dasarnya ada kekesalan yang mungkin tak bisa ia ungkapkan pada Raina.

"Bun," panggil Surya lagi ketika tak mendapatkan respon apa pun.

"Bunda bingung. Harus gimana, ya? Bunda malu sama tetangga, tapi bunda juga gak bisa biarin Raina sendiri di rumah orang pula. Tapi kalau di sini, yang ada bunda nahan malunya. Tapi bunda gak tega," balas Irin serba salah.

"Biarin aja omongan mereka, bun. Kasihan Raina, omongan orang itu gak akan merubah apa pun, yang ada malah memperburuk suasana aja."

"Tapi, bunda malu, Surya! Punya anak dua, yang buat keluarga kita tercemar justru adik kamu. Ayah meninggal juga gara-gara Raina, sekarang bunda juga harus nanggung malu karena ulah dia. Gak habis pikir, kenapa dia bisa diam aja waktu tiga orang it ----"

"Bunda!" potong Surya cepat ketika ia melihat adiknya yang baru saja turun dari tangga. Wajah lesu dan tertekan membuat ia tak kuasa untuk tetap diam saja. Bahkan Surya segera berdiri, menyudahi makannya, dan menarik tangan Raina untuk ikut dengannya.

"Bang mau kemana?" tanya Irin melihat anaknya yang tiba-tiba membawa Raina pergi dari hadapannya.

"Jalan-jalan bun."

Surya membawa Raina masuk ke dalam mobilnya. Hanya berdua, tapi entah kenapa membuat Raina gelisah di tempatnya. Ia menatap bagaimana wajah serius abangnya saat membawa mobil mereka meninggalkan halaman rumah, padahal mereka sedang baik-baik saja, tapi ia takut setelah ini akan ada bencana yang membuat abangnya malu seperti sang mama.

"Abang gak malu bang?"

"Loh, malu kenapa? Pakaian Abang masih lengkap, kenapa harus malu?" tanya Surya sempat menoleh sekilas ke arah Raina.

"Raina seharusnya di rumah aja. Raina gak boleh pergi ke lingkungan sosial, tapi malah Abang ajak pergi sekarang," balas Raina dengan tatapan lesunya.

"Kata siapa?" tanya Surya penasaran.

"Kata bunda. Raina takut, Abang bakal malu juga punya adik seperti Raina," balas Raina cepat membuat Surya terdiam di tempatnya.

Perjalanan mereka masih terus berlanjut, suasana yang hening tetap dibiarkan hening. Udara yang sedikit panas membuat mereka tak terhanyut. Surya yang memilih untuk menghabiskan waktu bersama Raina, memberhentikan mobilnya di sebuah kedai yang tak lain adalah geprek Bensu kesukaan dari Raina. Surya pun turun meninggalkan Raina yang hanya terdiam di mobilnya. Terdiam yang hanya memikirkan bagaimana respon dari orang-orang ketika melihat dirinya hamil tanpa seorang suami.

Raina, Hujan Telah Datang (NEW VERSION)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang