|RHTD 43| Kembali

8.2K 429 125
                                        

Ku kira semuanya berjalan dengan semestinya tanpa derita dan hati yang terluka, tapi aku salah. Kembali dan menetap adalah lubang luka yang sebenarnya.

***
Halo? Ada yang nunggu RHTD up? Maaf ya guys baru bisa up sekarang. Jangan lupa untuk tetap dukung aku dengan komen ya 😭😭 GIVE ME 100 KOMENTAR UNTUK UP PART 44
FOLLOW ME!

***
Oke, happy Reading!

Tepat pukul 20.00 malam, kaki jenjang milik Raina memasuki sebuah rumah yang mungkin saat ini terasa asing baginya. Rumah yang cukup nyaman, tapi menimbulkan banyak kenangan yang tersimpan dalam memorinya. Setiap kakinya melangkah, banyak sekali senyuman yang seolah menatapnya saat ini juga. Senyuman yang mungkin tak akan pernah lagi ia temukan dalam kehidupannya. Ayah, wajah hanya bisa di pandang di bingkai foto tanpa bisa memeluknya, hanya bisa menahan rintihan rindu tanpa bisa menyapa. Saat pikirannya tak tahu arah, sebuah tangan tersampir di bahunya. Bersamaan dengan wajah yang selalu memberikan kekuatan baginya.

"Kenapa? Kamu rindu sama ayah?" tanya Surya ketika melihat langkah kaki adiknya terhenti tepat di sebuah bingkai foto besar keluarga mereka.

"Banget. Kira-kira ayah lagi apa, ya? Ayah rindu sama kita gak, ya, bang?"

Pertanyaan itu membuat Surya hanya bisa tersenyum. "Saat ini ayah pasti bahagia. Bahagia karena kamu udah bisa melewati semuanya. Udah, ya? Istirahat di kamar sana. Besok kita beli geprek Bensu mau?"

"Mau banget!" seru Raina antusias membuat Surya mengacak rambut Raina gemas.

"Ya, udah, naik ke atas aja."

"Oke, siap pak bos!"

Surya tersenyum melihat kedatangan Raina kembali hadir dalam keluarga mereka. Senyuman itu kembali murung, tatapan mata itu terarah pada bingkai foto yang menampilkan betapa bahagianya keluarga mereka dulu, sebelum kabar duka itu hadir di tengah-tengah rasa senang yang membara. Surya berdiri kaku, ia menatap wajah ayahnya dengan tatapan yang seolah berkata bahwa ia akan baik-baik saja.

"Yah, Surya janji. Surya akan jaga mama dan Raina. Sebisa dan sekuat Surya," ucap Surya penuh keteguhan dalam hatinya.

***

Semalam sudah Raina kembali ke rumah mereka. Udara pagi hari yang begitu segar untuk dinikmati tak disia-siakan oleh Raina yang sudah mengelilingi halaman rumah dengan daster besar yang ia kenakan saat ini. Matahari bahkan belum menyinari, samar-samar ia masih bisa melihat bulan yang akan tergantikan oleh sang matahari nanti. Raina terus berjalan, mengelus perutnya beberapa kali sembari mengatakan bahwa anaknya harus sehat dan baik-baik saja di dalam sana. Tak terasa umur kandungannya saat ini sudah menginjak empat bulan, begah itulah yang ia rasakan saat ini. Postur tubuhnya sudah berubah, ia yang awal mula kurus menjadi gendut dan berisi seperti ini. Tapi baginya ini adalah sebuah fase yang harus ia nikmati atas kesalahannya.

"Loh, Raina udah pulang?"

Pertanyaan itu membuat Raina yang berada sedikit jauh dari pagar rumahnya pun mendekat. Ia segera menutup perutnya menggunakan kardigan yang ia kenakan. Dengan senyuman ia membalas pertanyaan itu dengan tenang dan santai.

"Sudah, mbak. Semalam Raina pulangnya," balas Raina membuat dua wanita paruh baya yang kebetulan tetangganya pun mengangguk.

"Besok Dita mau daftar kuliah loh. Dia kakak kelas kamu dulu, kan?" tanya Mbak Yuni yang tak lain adalah tetangga samping rumah Raina, sekaligus mama dari teman satu sekolahnya juga.

Ekspresi Raina seketika berubah. Ia hanya menggelengkan kepala. Bingung harus menjawab apa, karena Saskia juga tak berkata satu hal pun pada dirinya. Mungkin Saskia sengaja menyembunyikannya untuk menjaga hatinya.

"Kamu sakit apa, sih, Na? Kok mbak lihat badan kamu makin berisi aja. Dita bilang kamu pindah karena sakit. Emang sakit apa?" Pertanyaan yang diiringi oleh sorot mata yang selalu menatap perutnya membuat Raina merasa tak nyaman.

"Dia, mah, bukan meriang, tapi hamil, Yun! Kamu gak ngerti, tah? Seng jadi penyebab ayahnya meninggal, ya gara-gara Iki. Hamil sebelum waktunya. Jelas syok sebagai orang tuanya. Aku, geh, nek punya anak kaya gini jelas syok, tapi untung wae Ridho lanang, uduk wedok," sahut Ratu yang tak lain adalah tetangga jauhnya.

"Sttt," potong Yuni dengan tangan yang menyuruh Ratu untuk diam.

"Lah, wong kenyataan," sahut Ratu lagi.

"Maaf, ya, Raina. Kami gak ada mak ----"

"Gak apa-apa, mbak. Raina paham kok. Titip salam buat Dita, ya. Semoga bisa mengejar segala impiannya," balas Raina dengan senyuman setegar baja.

"Iya, terima kasih, ya." Yuni kemudian menepuk pundak Raina lewat pagar pendek yang menjadi batas mereka bertiga. "Kalau ayahnya udah ada, jangan lupa kabarin. Kami siap bantu untuk nikahan kamu nanti."

Raina termenung. Kalau ayahnya sudah ada? Apakah itu semacam hinaan secara halus untuk dirinya? Atau hanya sekedar becanda saja?

"Iya, jangan lupa undang kami juga. Mau lihat pernikahan kamu seperti apa," sahut Ratu membuat Raina hanya terdiam saja.

"Ada apa, nak?"

Pertanyaan dan kemunculan Irin yang berjalan ke arah mereka membuat Ratu dan Yuni segera meninggalkan Raina. Irin yang seolah paham pun mendekati anaknya. Ia memastikan apakah Raina baik-baik saja atau terluka. Sudah jelas dua wanita gosip itu akan membawa dampak buruk bagi Raina yang saat ini sedang menata ulang kehidupannya.

"Mereka bilang apa sama kamu? Bilang ke bunda. Biar bunda lawan mereka," tanya Irin pada Raina yang kemudian mengarahkan pandangannya.

"Bilang apa, Bun? Gak bilang apa-apa. Cuman tanya kabar aja. Raina baik-baik aja kok," balas Raina membuat Irin sedikit lega.

"Kamu lebih baik di dalam saja. Tidak usah kemana-mana. Rumah tempat terbaik bagi kamu saat ini. Jangan keluar dan temui tetangga," sahut Irin membuat Raina menatapnya penuh tanda tanya.

"Terus Raina harus apa bunda? Bunda tahu, kan? Raina gak bisa diam aja di rumah. Raina juga butuh udara segar," ucap Raina dengan senyumannya.

"Raina ke dalam dulu, ya, Bun."

Raina pergi dari hadapan bundanya. Ia berjalan masuk dan melewati Surya tanpa sapaan yang biasanya Raina lakukan kepada dirinya. Raina terus melangkahkan kakinya, bergerak masuk ke dalam kamar dan meluapkan apa yang ia tahan sebenarnya. Bersamaan dengan cengkraman kuat di ujung kursi, Raina meneteskan air matanya. Apakah separah ini menjadi korban yang hanya bisa diam dengan penuh derita seperti ini? Di saat ia kembali, justru orang-orang di sekitarnya membuat ia harus terpuruk lagi. Bahkan saat ini ia sebenarnya tak mau meneteskan air mata, tapi mau bagaimana lagi? Semuanya sudah terjadi. Ia tak bisa menahan walau pun ia ingin bertahan, semuanya harus di lepaskan saat ini.

"Kamu harus kuat, Na. Gak ada yang buat kamu kuat, selain diri kamu sendiri. Kamu gak boleh lemah. Kamu harus bisa melewati ini semua tanpa Dion," lirih Raina menghapus air matanya secara kasar kemudian.

Bayangkan ada yang ia simpan untuk tetap terdiam, rasa sakit yang terus menjalar bahkan harus ia rasakan. Terdiam dan berpikir itu lah yang saat ini Raina lakukan. Tak bisa melakukan apa-apa selain berharap bahwa semuanya akan kembali seperti semula, kembali pada porsi dan akan ada bahagia yang menunggunya di ujung sana. Ia harap begitu.

#TBC

Tulis kata-kata motivasi untuk Raina di kolom komentar guys. Aku up di Instagram+ kasih nama Instagram kalian juga ya 👇

Visual Raina Tasya

Raina, Hujan Telah Datang (NEW VERSION)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang