|RHTD 58| Dipaksa Menikah

8K 415 269
                                        

Menghakimi adalah salah satu cara manusia untuk menjatuhkan manusia lainnya. Tak peduli seberapa jauh penjelasan yang diberikan, nyatanya apa yang ia lihat adalah kebenaran baginya. Sementara penjelasan hanya 1 persen dari semua kata-kata.
🌼🌼🌼

Happy Reading.
Jangan lupa untuk follow akun Wattpad aku Yo guys.
Setuju gak kalau aku buat grup pembaca RHTD?

UDAH FOLLOW AKUN INI? BELUM?
TERIMAKASIH ATAS SPAM KOMEN DI PART SEBELUMNYA. DI PART INI GIVE 200 KOMENTAR. SEMAKIN CEPAT TEMBUS SEMAKIN CEPAT PULA AKU UP. YUK SALING BANTU 🥰

🌼🌼🌼

Nyatanya sebisa mungkin mereka menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya, orang-orang yang tak paham akan tetap menghakimi mereka berdua. Mereka yang sama-sama saling merindukan, tapi baru saja terkena musibah. Dua orang tetangga yang tanpa di sangka-sangka tega untuk memfitnah dirinya. Mengatakan pada semua orang bahwa ia melakukan maksiat, padahal yang terjadi sebenarnya hanyalah sebuah pelukan. Orang yang sudah berpandangan negatif tentang kehamilannya kini menjadi lebih buruk kala isu maksiat itu berkelana. Tepat di pos satpam beberapa tetangga komplek seolah sedang menjadikan dirinya sebagai bahan tontonan gratis. Tak ada satu pun dari mereka yang berniat membantu apa lagi meredam cacian demi cacian yang ditujukan pada dirinya.

Dion yang berusaha untuk menjelaskan juga tak dianggap oleh mereka. Faktor lingkungan dan keadaan yang mendukung membuat mereka berdua tak bisa lagi membela diri. Mungkin jika ada cctv semuanya akan selesai tanpa bukti, tapi tak adanya cctv membuat mereka harus menahan malu seperti saat ini.

"Mbak, jangan telepon bunda. Raina gak berbuat seperti itu mbak. Raina gak ngapa-ngapain," pinta Raina kala tetangga rumahnya yang bernama Yuli berusaha untuk menelpon bundanya.

Yuli tak bergeming. Wanita paruh baya yang begitu berapi-api untuk mengadu domba anak dan ibu itu terus saja mencoba untuk menghubungi orang-orang terdekatnya saat ini.

"Mbak, demi Allah saya gak melakukan hal seperti itu. Saya ----"

"Kalau kamu bukan orang yang seperti itu, mana mungkin kamu hamil tanpa suami," sahut tetangga yang lainnya membuat Raina tak sanggup melanjutkan kata-katanya.

Dion yang mendengar itu hanya bisa terdiam. Ternyata di saat seperti ini, suap yang ia tawarkan pada satpam dan dua tetangga Raina tak berfungsi. Dengan adanya kejadian seperti ini, ia paham satu hal. Bahwa uang akan di butuhkan, tapi tidak semua kejadian bisa di selesaikan menggunakan uang. Terlalu banyak penjelasan yang sudah ia utarakan untuk menjelaskan semuanya, tapi orang-orang yang sudah terlanjur salah paham hanya bisa berceloteh tanpa mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Apa yang sebenarnya mereka lakukan.

"Udah kalian di sini aja. Bunda sama keluarga kamu sebentar lagi ke sini," ucap Yuli membuat Raina menggelengkan kepalanya. "Kamu itu sekali-kali harus di kasih hukuman. Bikin malu aja. Jujur saya malu, loh, punya tetangga kaya kamu. Masih sekolah tapi udah hamil duluan. Eh, sekarang mau melakukan maksiat sama pria lain. Padahal keluarga kamu alim, loh."

"Iya, Bu. Saya juga gak nyangka. Dulu orang tuanya selalu banggakan dia karena prestasi, tapi saya baru tahu kalau meninggalnya pak Budi itu karena dia malu dan gak sanggup kalau anaknya hamil duluan. Ya, Allah, saya gak nyangka loh Bu," balas salah satu ibu-ibu kompleks.

Perkataan demi perkataan yang harus di terima membuat Raina hanya bisa duduk sembari mencengkeram erat ujung bajunya. Bahkan air matanya sudah menetes ketika orang-orang silih berganti menghina dirinya dan menjatuhkan mentalnya. Saat ini harga dirinya benar-benar di injak oleh beberapa kejadian yang tak sesuai dengan fakta aslinya. Opini orang yang selalu menyudutkan dirinya selalu ia terima dengan baik, tapi kali ini untuk berbicara saja bahkan ia tak sanggup. Hanya bisa menangis di samping Dion yang bahkan tak bisa berbuat apa-apa di kerumunan masyarakat yang menjadikan mereka santapan saat ini.

Raina, Hujan Telah Datang (NEW VERSION)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang