|RHTD 34| Karma

8.8K 440 124
                                        

Mungkin memang harus begini, aku takut jika nantinya berbicara, maka semua yang ada seketika rusak tak terhingga.

***
Halo, gimana kabar kalian hari ini? Semoga baik-baik aja ya. Yang sudah memberikan komentar dan vote terima kasih. Please beb give me VOTMENT 🤩🤗

***
Udah follow akun wp ini? Kalau udah jangan lupa follow ya guys. Makasih.


Mungkin hanya bisa terdiam, mengikuti alur kehidupan yang sampai kapan akan membawa kehidupan tanpa kebahagiaan. Berulang kali putus asa, di terpa oleh semua masalah yang menghadang di depan mata, di paksa, dan terlihat baik-baik saja adalah kunci kuat untuk menjalankan hidup di dunia. Menyerah akan membuat semuanya selesai pada satu titik saja. Hari ini ia belajar satu hal, untuk menghilangkan rasa trauma yang ia punya, ia harus bisa memberikan rasa percaya walau hanya sedikit saja pada Dion yang berada di sampingnya. Walau pada dasarnya ia sulit untuk menerima semuanya.

Di tengah perjalanan menuju apartemen Siska, ponsel Dion berdering, membuat pria itu segera mengangkatnya sembari menjalankan mobil dengan kecepatan yang sedang. Ia bisa melihat raut wajah cemas, takut, serta terkejut mendengar itu semua. Ia hanya bisa menatap, karena Dion terus saja mengatakan bahwa ia akan segera ke sana.

"Vino ada di penjara," ujar Dion dengan wajah panik, ketika sambungan telepon itu terputus seketika. "Lo mau ikut apa enggak? Kalau gue antar lo dulu, gue bolak balik. Ini urgen, lo ikut, ya?"

Raina yang tak tahu apa-apa hanya bisa mengangguk saja. Apa lagi kantor polisi sebentar lagi akan mereka temui keberadaannya. Raina hanya bisa diam, dengan perasaan was-was dan hati yang mulai cemas ia mencoba untuk berdamai pada masalah yang pernah ia hadapi. Tentu saja pelaku lainnya adalah Vino sahabat Dion sendiri.

"Lo mau ikut masuk apa di mobil aja?" tanya Dion sembari memarkirkan mobilnya.

"Aku di mobil aja."

"Oke. Gue cuman sebentar aja."

Dion pun pergi. Raina memilih untuk diam saja di mobil, karena ketika ia melihat dua pelaku lainnya, yang ada rasa itu kembali dan kebencian itu akan bertambah ketika melihat wajah Dion yang ingin memperbaiki semuanya. Dion melangkahkan kakinya masuk ke dalam kantor polisi. Terus berjalan hingga ia melihat Rian berkunjung dengan sahabatnya yang sudah memakai baju tahanan kota. Dion tak percaya ini akan terjadi pada Vino yang baru semalam ia temui dan berbincang santai dengan dirinya.

"Lo ada kasus apa anjir? Pakai di tahan pula," tanya Dion pada Vino yang hanya menundukkan kepalanya seolah tak bersemangat atas semuanya.

"Sialan tuh cewek. Padahal gue cuman cium sama pegang sebentar, eh gak tahunya ke tangkap cctv. Gue di laporin dengan tuduhan pelecehan seksual. Anjir gak, tuh. Padahal mukanya gak cantik-cantik amat, tapi songong," balas Vino seolah menyesali semuanya.

"Ini bukan masalah gak terima anjir. Lo aja yang salah cari tempat. Lagian, ngapain ngelakuin hal kaya gitu di tempat umum? Peak emang lo," sahut Rian yang emosi karena sahabatnya ini tak bisa memilih tempat dan berujung di sini.

"Udah bukan itu masalahnya anjir. Sekarang gimana caranya gue keluar dari sini. Sebentar lagi kelulusan, gue harus kuliah. Kalau gue di sini, mau jadi apa gue? Bokap juga belum tahu. Kalau sampai tahu, habis gue sama mereka." Vino kemudian mengarahkan pandangannya pada Dion yang hanya bisa diam saja. "Bantuin gue, Yon! Ah, lu mah diam aja."

Diamnya Dion bukan tanpa alasan. Masalahnya ini bergantung pada korban pelecehan seksual itu. Walau mereka memainkan banyak uang, kalau korban tak bisa di ajak kerja sama, yang ada semua usaha akan sia-sia saja. Pelaku pelecehan seksual akan di jerat pasal 294 ayat (2) undang-undang KUHP dengan ancaman hukuman dua tahun delapan bulan, dan denda uang. Tapi kalau pelaku melakukan kekerasan seksual juga, maka hukuman akan berlaku hingga dua belas tahun penjara. Bisa dibayangkan bukan? Hukum di Indonesia sebenarnya memberlakukan hukuman yang setimpal, tapi ada beberapa pelaku dan korban yang kemudian memberlakukan kesepakatan di mana akan dinikahi setelah itu surat pengaduan akan di cabut kembali. Sebenarnya mau di hukum seberat apa pun, pelaku akan melakukan hal yang sama, karena pikiran yang mengendalikan. Selama pikiran itu terus ke arah tindakan di mana untuk memuaskan, maka hukuman apa pun tak akan berlaku di kemudian.

"Gue gak bisa bantu. Ini kasus berat, gue cuman bisa bantu sewa pengacara aja, setelah itu hadapi kasus lo sendiri," balas Dion kemudian, membuat Vino menggebrak meja dengan sangat kuat.

"Jadi ini arti sahabat buat lo? Gue lagi susah, tapi lo gak bisa bantu gue? Masa depan gue taruhannya di sini anjir. Please, lah, bantu gue kali ini aja," pinta Vino pada Dion. "Mungkin kalau Raina kaya gini, lo juga bakal ngerasain kehancuran. Untung aja Raina bego, jadi gak mau laporin lo."

"Kalau dia laporin gue, otomatis hukuman lo akan jadi dua belas tahun, dan Rian ikut di penjara. Lo mau di penjara, Yan?" tanya Dion pada Rian yang kemudian menggelengkan kepalanya.

"Gue gak mau lah. Seminggu lagi gue bakal daftar kuliah. Bisa hancur masa depan gue," sahut Rian yang sama-sama tak mau merasakan hal yang sama dengan apa yang Vino alami saat ini.

Vino pun tak menyangka, bahwa dua sahabatnya akan membiarkan ia mendekap di penjara. Sahabat macam apa ini? Sahabat apa yang membiarkan sahabatnya menerima hukuman seberat ini? Apa yang harus ia katakan pada ayahnya? Bisa gila ia jika terus berdiam diri di penjara dengan orang-orang yang bahkan tak pernah ia temui sebelumnya.

Ketika mereka ingin kembali berbicara, petugas polisi pun menghampiri mereka. "Maaf, jam besuk sudah melewati batas. Silahkan kembali ke dalam."

"Woy bantu gue, lah! Tolong gue!" seru Vino seolah mengemis pertolongan dari dua sahabatnya yang hanya bisa diam saja. Bahkan ketika Vino masuk ke jeruji besi pun mereka tak bisa berbuat apa-apa.

Dion dan Rian kemudian keluar dari kantor polisi. Mereka sempat berbincang sebentar di parkiran. Rian dan Dion yang sama-sama tak akan menyangka, bahwa Vino harus berujung di jeruji besi karena kebodohannya sendiri. Seharusnya Vino tak melakukan itu lagi. Bahkan untuk saat ini ia ingin memperbaiki semuanya dan bertanggung jawab atas Raina.

"Lo sama Raina gimana?" tanya Rian membuat Dion menatapnya. "Dia udah bisa terima lo?"

"Gue lagi berjuang, biar dia percaya sama gue. Setelah anak itu lahir, gue bakal nikahi dia. Kalau masalah nerima, dia kayaknya gak bakal terima gue. Gue paham, sih. Wanita mana yang mau menerima cowok sialan kaya gue? Tapi selama di kuliah nanti, gue bakal terus konsultasi dan memperbaiki diri gue lebih baik lagi," balas Dion membuat Rian mengangguk saja.

"Lo udah dewasa bro! Baguslah, kalau lo udah tobat," sahut Rian kemudian menatap mobil Dion. Ia melihat bahwa ada seorang wanita di dalamnya. "Raina ikut?"

"Iya dia ada di dalam."

"Gue boleh minta maaf sama dia?" tanya Rian pada Dion.

"Jangan sekarang. Dia masih ada di fase trauma. Nanti aja atau gue sampaikan salam lo buat dia," balas Dion yang mengerti kondisi Raina.

Rian pun mengangguk. Ia juga bersalah. Padahal ia mengatakan bahwa Raina tak pantas menjadi korban nya, tapi tetap saja.

"Lo sukses, ya, bro! Ketemu lagi sama gue empat tahun! Berubah lo! Gue juga mau berubah!" seru Rian kemudian memeluk Dion singkat. Hitung-hitung sebagai tanda persahabatan dan perpisahan di antara mereka berdua.

Dion pun mengangguk. Mungkin ini saatnya mereka sama-sama membuka pikiran untuk berpikir dewasa. Dion yang akan berjuang untuk menyembuhkan dirinya, dan Rian yang terus merasakan apa artinya hidup dan wanita. Mungkin masa lalu adalah pelajaran bagi mereka, tapi bagi satu remaja wanita, masa lalu itu adalah sebuah kehancuran yang tak akan bisa ia terima.

#TBC

Gimana pendapat kalian guys? Setuju kalau Vino di penjara?

Jangan lupa tinggalkan jejak.

Makasih guys.

Raina, Hujan Telah Datang (NEW VERSION)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang