Manusia itu terkadang aneh, datang secara tiba-tiba menyapa kemudian menyampaikan maksud yang sebenarnya.
(Raina Hujan Telah Datang)
***
Halo, sahabat Arum. Semoga selalu baik-baik saja ya. Gimana? Jangan lupa tinggalkan jejak komen dan vote kalian di sini ya. 😉 Aku tunggu kalian untuk komen ya guys.
***
Mau berterimakasih sama orang-orang yang sudah komen di part sebelumnya, semoga kebaikan kalian di balas sama Tuhan, ya. Amin 😘
"Raina!" panggil Leo yang baru saja melihat Raina ingin berjalan ke kantin sekolah.
"Kenapa kak?" tanya Raina ketika melihat Leo tiba-tiba ada di hadapannya.
"Sas, gue boleh pinjam sahabat lo sebentar aja, kan? Ada yang mau gue omongin," ucap Leo meminta izin pada Saskia yang menatap mereka berdua.
"Oke. Gue tunggu di kantin ya. Ayuk Nita!"
Raina menganggukan kepala. Ia mengikuti langkah kaki Leo yang membawanya ke teman dekat kantin sekolah. Mereka duduk di salah satu kursi, tepatnya di bawah pohon rindang yang menjadi payung mereka dari paparan sinar matahari.
"Mau ngomong apa, ya, kak?" Raina bertanya saat Leo justru hanya diam membisu di tempatnya.
"Lo mau jadi ketua OSIS gak?"
Pertanyaan yang Leo berikan secara tiba-tiba membuat Raina membulatkan matanya. Ketua OSIS? Dirinya? Yang benar saja.
"Kaget ya? tapi gue yakin lo kandidat yang pas. Lo murid berprestasi dan teladan di sini. Gue bimbing kok," jelas Leo seolah menumbuhkan rasa percaya Raina akan kata-katanya.
"Raina belum bisa kasih kepastian kak. Raina juga kurang tegas untuk memimpin," ujar Raina membuat Leo mengelus kepala Raina singkat seraya terkekeh.
Tingkah laku Leo berhasil ditangkap oleh seorang remaja pria yang bahkan terlihat kepanasan ditempatnya. Bahkan kedua bola matanya tak bisa teralihkan ke arah lain.
"Ada yang butuh kipas, nih," ujar Vino bermaksud untuk menyindir sahabatnya.
"Untuk apa anjir?" tanya Rian yang belum memahami situasi.
"Untuk Dion. Dia lagi panas nih, sekalian aja biar panas kita kipasin biar cepat mateng," celetuk Vino membuat Rian menatap sahabatnya.
"Di kira sate kali."
"Diam lo berdua. Siapa yang panas? Suhu badan gue masih normal." Dion yang merasa di bicarakan pun mencoba untuk biasa saja, walau saat ini yang ia rasakan adalah perasaan cemburu.
"Ingat, Yon! misi kita adalah merusak Raina, bukan jatuh cinta," celetuk Vino mengarahkan Dion pada tujuan pertama mereka.
"Gue tahu." Dion kemudian berbalik menatap dua sahabatnya yang selalu mendukung dirinya. "Vino lo ikut gue. Kita pura-pura lewat depan mereka, terus lo dorong gue, ya?"
"Untuk apa?"
"Udah ikut aja."
Dion bersama dua sahabatnya dengan sengaja melewati Raina dan Leo yang sedang melempar canda. Mendengar tawa renyah Raina membuat api cemburu itu semakin besar saja. Tepat ketika berada di hadapan mereka, Vino mendorong kuat Dion seperti permintaannya. Saat itu lah bermodalkan memanfaatkan situasi Dion melayangkan pukulan kuat hingga Leo terjatuh, dengan posisi Dion yang berada di atas tubuhnya.
"Sorry. Gue di dorong Vino. Sialan, ketos kita jadi kena tonjok, nih." Dion berdiri, kemudian melihat Leo yang saat ini tersungkur karena dirinya.
Leo berdiri, ia menghampiri Dion dan mencengkram kuat kerah baju seragamnya. "Maksud lo apa?"
"Hajar aja udah! Kelamaan kalau bacot doang, mah!" seru Vino menjadi kompor.
"Yon, udah. Inget catatan BK Lo udah kaya surat undangan numpuk," ujar Rian sempat-sempatnya membahas lelucon.
Dion dan Leo tak bergeming. Mereka saling tatap dengan mata yang saling menusuk tajam. Napas yang memburu dan cengkeraman kuat yang diberikan oleh Leo membuat Dion hilaf. Pria bertubuh tinggi dengan wajah sangar itu memberikan pukulan lagi, membuat Leo yang tak mau kalah pun memberikan tendangan, hingga Dion mundur satu langkah. Keduanya tak mau kalah, bahkan pertikaian panas mereka mengundang atensi dari siswa dan siswi yang berada di kantin sekolah untuk mendekat.
"Anj ***Ng!" Dion meludah, dan mengusap bibirnya, ketika Leo berhasil melayangkan pukulan.
"Na, pisahkan dong. Kasihan calon pacar gue," pinta Anita pada Raina yang tak bisa mencerna situasi yang ada di hadapan dirinya.
"Biar gue aja." Saskia kemudian maju, bermaksud untuk memisahkan mereka, namun di dorong oleh Dion begitu keras, membuat Saskia jatuh di tanah. "Sakit bego!"
"Lo gak usah ikut campur, Sas! kapan lagi lihat ketos berantem," seru Vino yang paling bersemangat atas pertikaian yang terjadi.
"Yon udah!" Rian bermaksud untuk melerai namun gagal.
"Stop! Udah!" teriakan Raina berhasil menghentikan pertikaian yang terjadi diantara Dion dan Leo.
Dion mengusap darah yang keluar dari bibirnya, sementara Leo yang merasa malu segera berlari meninggalkan taman sekolah. Untung saja tak ada guru yang melihat mereka, sehingga kasus ini tak akan sampai ke Bk. Raina ingin berjalan mendekati Dion yang juga terluka di sana, namun ia terdorong oleh Saskia yang menangis dan menyentuh wajah Dion di hadapannya.
"Yon! Jangan berantem lagi. Udah stop, ayo gue obati lo ke UKS," lirih Saskia merasa tak tega ketika melihat wajah Dion yang memar dan berdarah.
"Gak usah sok peduli!" sentak Dion membuat Saskia memundurkan tubuhnya.
Raina yang melihat itu hanya bisa berdiri diam.
"Ikut gue," ajak Dion segera menggandeng tangan Raina lalu pergi dari sana.
Kepergian Dion dan Raina membuat semua orang yang berada di sana bertanya-tanya. Ada apa? Apa mereka berdua memiliki hubungan khusus?
#TBC
Give me VOTMENT please 😍
Ayo lah cuman semangat aja gak apa-apa biar aku semangat up guys.
KALIAN TAHU CERITA RHTD INI DARI MANA GUYS?
TIK TOK?
ATAU REEL INSTAGRAM?
GIVE ME VOTMENT PLEASE 💜
KAMU SEDANG MEMBACA
Raina, Hujan Telah Datang (NEW VERSION)
FanfictionDipatahkan oleh keadaan Dianggap sampah oleh lingkungan sekitar Dijauhkan dari masa depan dan kebahagiaan Kata orang hal yang paling bahagia adalah bisa meraih segala asa. Satu persatu tujuan hidup tercapai, adanya kebahagiaan dan terus berjalan u...
