|RHTD 27| Surat Perjanjian

9.2K 506 90
                                        

Pada masanya kita kembali di pertemukan
Di pertemukan dengan situasi yang berbeda dari sebelumnya dengan orang yang sama.

***
Halo? Gimana kabarnya? Semoga selalu baik-baik aja ya guys. Jangan lupa untuk tinggalkan jejak kalian dengan memberikan komen dan vote ya guys.

***
EH, KETEMU LAGI
UDAH FOLLOW AKUN INI?
BELUM? KOK BISA?
YUK JANGAN LUPA FOLLOW GUYS 💜

"Besok kamu sendirian gak apa-apa? Katanya besok Saskia mau sekolah karena ada hal penting. Sementara Abang harus kerja karena ada rapat," tanya Surya yang saat ini menjaga Raina sendirian karena Saskia sudah pulang ke rumahnya.

Raina pun mengangguk. Baginya sendiri juga tak apa-apa, dari pada ia harus merepotkan orang lain di sekitarnya. Ia kemudian melihat pemandangan langit yang sudah menggelap karena waktu sudah menunjukkan pukul 20:00 malam. Tentu saja saat ini abangnya harus pulang, karena esok hari akan kembali berkerja. Raina kemudian menatap sang Abang yang saat ini sedang menatapnya juga.

"Abang pulang sekarang aja. Raina juga mau tidur, Abang juga pasti lelah, kan? Raina gak apa-apa sendirian. Bunda juga butuh Abang di rumah," ucap Raina membuat Surya dengan berat hati berdiri, lalu mengecup dahi adiknya dengan penuh kasih sayang yang ia punya.

"Abang pulang dulu, ya. Kalau ada apa-apa jangan lupa telepon Abang. Assalamualaikum!"

"Walaikumsallam."

Kembali lagi pada keheningan dan kesepian yang ia rasakan. Di seluruh penjuru ruangan hanya ada alat medis dan dirinya yang hanya bisa terbaring di ranjang dengan infusan yang belum habis untuk ia rasakan. Raina mulai memejamkan matanya, merasakan bagaimana hidupnya sudah hancur dan tak lagi ada. Namun suara pintu yang terbuka membuat ia mengira bahwa itu adalah abangnya, sehingga ia masih tetap memejamkan matanya.

"Ada yang ketinggalan bang?" tanya Raina dengan mata yang masih terpejam.

Hening, tak ada jawaban. Yang ia dengar justru pintu yang kembali tertutup dengan langkah kaki seseorang yang kemudian terhenti tepat di sampingnya. Raina kemudian membuka mata, alangkah terkejutnya ia ketika menemukan seorang pria yang ternyata bukan abangnya berdiri menatapnya dengan sebuket bunga dan kertas di sana. Melihat kehadirannya ekspresi Raina menjadi sendu bercampur takut. Ia bahkan segera duduk. Ia berulang kali untuk tenang, tapi ternyata hatinya gelisah tak karuan.

"Mau apa kamu ke sini?" tanya Raina dengan bibir yang bergetar hebat. Ia takut, takut melihat bagaimana wajah itu kembali ia kenali dan saat ini berada di sampingnya.

Pria itu tak menjawab lagi. Tangan pria itu kemudian menyodorkan buket bunga kepada Raina dengan senyuman, seolah pria itu tak merasa bersalah atas hancurnya ia dan segala masa depan yang sudah ia rancang sejak lama. Bahkan melihat senyum itu, wajah itu, membuat ia kembali teringat akan masa-masa dan malam di mana semuanya hancur tak tersisa. Memori itu bagaikan sebuah kaset yang terputar dalam memorinya, menyakiti perasaan dan pikirannya. Raina kemudian menutup telinganya, memejamkan mata bahkan terus menggelengkan kepalanya. Efek kejadian yang pernah menimpanya membuat rasa trauma itu masih ada dalam dirinya.

"Enggak! Aku mohon jangan kak! Aku gak mau!" teriak Raina kemudian, ketika bayang-bayang aksi bejat yang Dion pernah lakukan terputar di pikirannya. "Enggak! Aku mohon jangan!"

Teriakan itu, gelengan kepala dan air mata yang menetes di sana membuat Dion merasa tak tega. Ia tahu sedalam apa rasa sakit yang harus Raina rasakan saat ini karena ulahnya. Mengalami trauma secara psikis itu sudah pasti, seperti saat ini ia harus melihat bagaimana Raina kesakitan dan harus mengalami beban itu sendirian. Dion yang datang ke sini dengan baik-baik pun segera menaruh buket bunga, dengan sekuat hati dan mencoba untuk menurunkan egonya ia memeluk Raina saat ini. Awalnya Raina memberontak, tapi berkat rasa tulus yang ia berikan dan semuanya yang telah ia sesali membuat Raina terdiam dan sedikit tenang dalam pelukannya saat ini. Benar kata Saskia, keadaan Raina tidak baik-baik saja. Kalau korbannya bisa menikmati uang karena kehancuran masa depannya, berbeda dengan Raina yang justru berusaha untuk menyakiti dirinya sendiri untuk tiada. Semua itu tentu saja karena ulahnya.

Raina, Hujan Telah Datang (NEW VERSION)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang