|RHTD 41| Anala dan Derita

7.5K 427 75
                                        

Takdir itu tak pernah salah
Yang berduka akan mendapatkan bahagia
Yang berjuang akan mendapatkan keberhasilannya yang mereka inginkan, dan yang bertahan akan mendapatkan hasil dari apa yang telah dilalui walau pada dasarnya menyakitkan.

***
GIVE ME 100 KOMENTAR YA BEB. TERIMAKASIH SUDAH TEMBUSIN KOMEN DI PART SEBELUMNYA YA BEB.

GIMANA PART SEBELUMNYA BEB?

***
Yang sudah komen terima kasih. Happy Reading!

Percaya atau tidak, akan ada kata bahagia setelah derita. Akan ada sebuah perjalanan dari mereka yang mengalami kesulitan dan kesengsaraan. Pada dasarnya kita tak pernah tahu kapan bahagia akan terjadi, menerpa dan menggenggam tangan kita dan melangkah bersama dalam ruang lingkup yang sebenarnya tak akan pernah kita bayangkan akan terjadi lagi. Siang hari ini Saskia mengajak Raina kembali ke apartemennya. Melangkah dan bercerita untuk menghilangkan semua duka yang ada pada hati Raina. Berusaha untuk menghibur satu sama lain, walau pada dasarnya sama-sama terluka parah.

"Ternyata gini, rasanya sendiri. Saskia sekolah, aku di rumah sendiri. Tapi, sebentar lagi dia libur, kan, ya? Jadi aku bisa main sama dia." Raina mengelus perutnya setelah menatap seisi kamarnya yang terlihat sepi. Bahkan tak ada satu pun suara selain dirinya saat ini. "Coba aja ada kak Dion di sini, pasti aku gak kesepian. Tapi gak apa-apa Raina. Kamu harus semangat. Empat tahun gak lama kok, lagian pas anak ini lahir, kak Dion pasti bakal ke sini."

Berusaha berpikir positif, walau pada dasarnya ia tak yakin kalau Dion benar-benar akan menepati segala janjinya. Tapi tidak ada salahnya bukan? Kalau kita berekspektasi lebih walau pada saatnya takdir akan membuktikan apa yang terjadi nanti.

Saat ia sedang berpikir, tiba-tiba suara telepon yang berdering membuat ia segera mengangkatnya. Ia tak akan menyangka, setelah dua hari lalu tak mengabarinya, hari ini wajah tampan milik Dion sudah terlihat walau dari panggilan Vidio saja. Ia bisa melihat senyuman itu, bisa melihat mata yang kala itu menatapnya tajam, kini berubah menjadi berbinar-binar.

"Hay. Apa kabar?"

Kata-kata yang keluar dari mulut Dion menjadi simbol bahwa Dion ingin memulai pembicaraan.

"Gue tepati janji, kan? Walau gue telepon lo waktu gak sibuk aja. Lo udah makan? Udah minum susu?"

Raina yang mendengar itu pun tersenyum. Ia merasa sepi yang awal mula datang kini berganti dengan titik terang. Setidaknya beberapa menit ke depan ada Dion yang akan mengusir sepi itu hilang.

"Iya, makasih, ya kak. Udah semua kok. Kakak sendiri?"

"Gue? Udah makan. Ini lagi ngerjain tugas kuliah. Ternyata sekolah bisnis itu rumit, ya? Sekolah jauh-jauh ke sini cuman buat ngeluh doang gue."

"Kenapa telepon aku kak? Padahal lagi ngerjain tugas. Aku takut ganggu kakak."

"No. Lo gak ganggu, justru gue makin semangat. Gue tahu Lo kesepian di sana. Maafin gue, ya."

Raina yang mendengar itu mengerutkan keningnya. Kenapa harus minta maaf? Bahkan sepi ini mengajarkan dirinya tentang banyak hal. Banyak hal yang mungkin tak pernah ia rasakan sebelumnya. Dalam sepi ia bisa merenung apa pun yang ia perbuat dan salah dirinya selama ini. Selama ini ia merasa bahwa ia bukan manusia yang baik seperti pada umumnya. Hanya manusia yang jauh dari kata sempurna, namun berusaha untuk menjadi manusia versi terbaik untuk dirinya.

"Kenapa minta maaf, kak? Kakak gak salah."

Ia bisa melihat, senyuman Dion pudar. Laki-laki itu sempat mengalihkan pandangannya, sebelum pada akhirnya kembali lagi untuk menatapnya.

"Lo gak boleh bohong. Gue tahu rasanya tak ada siapa pun di saat kita sedih kaya gimana. Cuman benar-benar sendirian, cuman bisa lihat seisi ruangan yang kosong dan cahaya matahari lewat jendela. Rasanya sesakit itu. Lo pasti juga ngerasain itu saat ini kan? Jauh dari keluarga lo, jauh dari teman-teman lo, gak bisa sekolah, dan itu semua salah gue."

Raina terdiam. Ia tak bisa berkata-kata lagi. Semua yang dikatakan oleh Dion adalah sebuah kebenaran yang saat ini ia rasakan begitu dalam. Sepi itu adalah rasa yang tak bisa dijabarkan namun hanya bisa ia rasakan. Mendengar bagaimana Dion berkata seperti itu, membuat ia tak sanggup membayangkan bagaimana jadinya kalau pria itu tahu? Tujuan papanya mengirimkan Dion ke sana adalah untuk menghindari kemarahan Dion atas kelumpuhan sang mama. Bahkan selama itu pula Dion tak pernah tahu atas kelumpuhan sang mama.

"Jangan sedih. Gue gak bisa lihat lo sedih, rasanya gue mau peluk lo dari sini, tapi gak bisa. Gue harap lo bisa ngertiin gue, ya, Na. Gue cinta sama lo."

Seketika ada ribuan kupu-kupu yang seolah hinggap di perutnya, menggelikan. Tapi ada perasaan hangat yang kemudian menjalar, tidak. Ia tidak boleh mencintai Dion bukan? Hatinya tentu saja masih sakit, sakit ketika tahu masa depannya sudah tak lagi berbentuk untuk ia miliki. Hanya bisa menjalankan kehidupannya seperti ini tanpa tahu ke depannya akan bagaimana nanti.

"Raina, kamu di mana, nak?"

Suara dan panggilan itu membuat Raina membulatkan matanya. Ia tak percaya bahwa mama Dion akan kemari tanpa memberi tahu dirinya. Kalau mama Dion ke sini memberi tahunya, ia bisa menjemput nya dengan taksi ke rumah.

"Iya, ma!" Raina kemudian berdiri dan pergi dari hadapan kamera. Tentu saja Dion yang ditinggal tanpa kejelasan pun memilih untuk diam dalam pikiran yang penuh tanda tanya. Siapa? Mama? Ia bahkan tak menemukan keberadaan Raina lagi di hadapannya. Hanya suara-suara kecil dan tertawa yang ia dengar adalah suara Raina. Tapi siapa yang dianggap mama oleh Raina?

"Loh, kamu lagi ngapain di kamar sendirian? Kamu, kan, bisa ke rumah mama nak. Mama juga bosen kalau di rumah sendirian," ucap wanita paruh baya itu sembari memasuki kamar Raina, di bantu oleh Raina yang mendorong kursi rodanya.

"Iya, ma. Besok aku ke sana, ya? Aku ke sana sebentar," balas Raina yang tersadar atas keberadaan Dion di sana sedang mendengarkan mereka. Raina segera menatap Dion yang sudah jelas penuh tanda tanya.

"Aku tutup, ya. Dah!"

"Eh, Ra ----"

Telat sudah. Belum sempat ia menanyakan siapa perempuan itu, Raina sudah menutup panggilannya. Perasaan Dion tentu saja dilema saat ini. Seribu macam pertanyaan jelas ada di pikirannya saat ini. Siapa wanita yang hanya bisa ia lihat rambutnya saja? Tapi ia mendengarkan bahwa suara itu tak asing baginya. Tapi siapa? Apa mama Raina? Tapi bukankah Raina memanggilnya bunda? Yang jelas saat ini Dion bingung siapa dan penasaran siapa wanita itu.

#TBC

FOLLOW ME :
Ig/WP: Shtysetyongrm
Tik tok: Seblakkerupuk56

FOLLOW IG KHUSUS CERITA RAINA GUYS:


Raina, Hujan Telah Datang (NEW VERSION)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang