Jangan terlalu percaya pada janji manis, jangan terlalu dalam mencintai, bisa jadi apa yang kamu jalani sekarang ini hanya jalan menuju luka dalam hati.
[Raina Tasya]
***
Halo, gimana kabar kalian? Semoga selalu baik-baik saja ya. Jangan lupa untuk tinggalkan jejak kalian berupa vote dan komen guys 😚 GIVE ME 400 KOMENTAR GUYS
***
Udah follow? Kalau belum cus lah follow akun ini sekarang juga.
Terik matahari di rooftof sekolah tak mereka hiraukan. Panas yang ada dan angin sepoy-sepoy yang mereka rasakan membuat keduanya tampak saling terdiam. Perkelahian yang terjadi tadi membuat keduanya membisu, hingga pada akhirnya Raina berinsiatif untuk mengobati luka Dion dengan obat merah dan plaster yang ada di tangannya.
"Ssstt ... pelan-pelan dong. Perih tahu," desis Dion kala obat merah itu mengenai ujung bibirnya yang terluka.
"Lagian kenapa kakak berantem? Kurang kerjaan banget," ujar Raina tanpa sadar membuat Dion menatapnya tajam.
"Gue cemburu." Dion menatap Raina yang tengah mengobati lukanya. "Lo, kan, pacar gue. Ngapain dekat sama dia juga?"
Raina membulatkan matanya. Pacar? sejak kapan mereka berpacaran?
"Pacar? sejak kapan ----"
cup. Dion mencium bibir Raina, membuat Raina batal melanjutkan kata-katanya. Raina tampak termenung di tempatnya. Kaget? sangat, bagaimana bisa ia dicium dengan pria yang bahkan bukan siapa-siapa baginya? melihat Raina yang terdiam membuat Dion merasa diberikan kesempatan, namun belum sempat menciumnya kembali suara tamparan keras terdengar membuat Dion kaget di tempatnya.
"Lo tampar gue?" tanya Dion seolah tak percaya. Pasalnya untuk pertama kalinya ia diberikan tamparan seperti ini.
Raina memalingkan wajahnya. Ia menutup mukanya dengan kedua telapak tangannya, sedetik kemudian ia terisak di tempatnya.
"Gue salah, ya? maaf biasanya gue ---"
Plak.
Dua tamparan sudah di layangkan oleh Raina, membuat Dion mengepalkan tangannya erat-erat. Apakah ia salah lagi? Bahkan Raina tak mau berbicara satu kata pun dengan dirinya yang merasa bingung seperti ini. Ketika ia ingin mendekati Raina, perempuan itu terlihat memundurkan tubuhnya. Tapi tangisan yang tersedu-sedu membuat ia ingin memeluknya sekarang juga. Tapi mau bagaimana lagi? Yang bisa ia lakukan saat ini hanya diam dan merasa kebingungan di tempatnya.
"Maaf, gue cuman bercanda," tutur Dion dengan kata maafnya.
"Bercanda? Menyentuh, merasakan, itu tidak boleh kak! Ini termasuk kekerasan seksual!" seru Raina lantang membuat Dion tak bergeming di tempatnya.
"Cuman lo yang mempermasalahkan dan mengategorikan tindakan gue tadi sebagai kekerasan seksual. Emang gue udah rampas apa dari Lo? Lo juga masih baik-baik aja sekarang. Kenapa harus di permasalahkan, sih, cantik?" tanya Dion ingin mendekati Raina, tapi peringatan tangan yang mengatakan agar Dion tetap di tempatnya membuat pria itu tak bisa berbuat apa-apa.
"Kalau mau bercanda tentang hal yang kaya gitu bisa sama mereka kak, tapi maaf jangan sama Raina," ujar Raina yang kecewa kemudian pergi meninggalkan Dion yang merasa bersalah.
"Raina tunggu!"
Dion meninggalkan rooftop dan mengejar Raina yang marah. Jika kebanyakan siswi akan senang, Raina ternyata sangat berbeda dengan mereka. Ia tak suka disentuh, ia memberi jarak ketika duduk adalah tipe seorang perempuan yang ia temui pada Raina.
Langkah kaki Dion terhenti, ketika secara tiba-tiba tangannya harus di tarik oleh seorang perempuan yang membawanya untuk berdiri di bawah tangga. Tatapan perempuan itu seolah ingin mengintrogasi dirinya. Ia sudah hafal benar, kalau ini akan terjadi pada dirinya.
"Apa yang lo lakuin sama Raina?" tanya remaja perempuan itu pada Dion.
"Bukan urusan lo," sahut Dion ingin pergi, namun segera di tahan oleh remaja perempuan yang terus saja mengurusi dirinya dan hidupnya.
"Ini jadi urusan gue, karena gue sayang sama lo! Gue mau lo sembuh! Gue mau lo kembali! Apa gue salah?"
Pertanyaan itu membuat Dion mengusap wajahnya secara kasar. Berapa kali orang-orang yang berada di dekatnya mengatakan bahwa ia harus sembuh dari gangguan seksual nya? Pada dasarnya keinginan itu muncul secara tiba-tiba membuat ia sulit mengendalikan dirinya. Mungkin ini adalah salah satu alasan kenapa ia menjauhi perempuan yang berada di hadapannya saat ini.
"Stop jadi cowok gak bertanggung jawab, Yon! Kalau lo butuh korban, jangan Raina. Gue terlalu sayang kalau dia sampai jadi korban Lo. Biar gue yang gantikan Raina, mungkin dengan cara ini Lo bisa sembuh," lirih perempuan itu kurang yakin atas kata-katanya.
Dion yang mendengar itu menatap tajam perempuan yang ada di hadapannya. "Gue gak akan pernah menyentuh atau pun menyakiti adek gue sendiri! Stop urusin hidup gue! Dari lima tahun lalu sampai sekarang gue hidup sendirian! Jadi stop untuk bersikap pengertian dan sayang ke gue!"
Dion tak akan pernah menyangka, bahwa adiknya mengatakan hal seperti itu di depannya. Pada dasarnya adiknya adalah cinta kedua setelah ibunya, ia tak mungkin merusak masa depannya demi kepuasan dirinya. Ia masih cukup sehat untuk mengerti kondisi keluarganya. Terpisahkan oleh keluarga dan di tuntut untuk menjadi pria yang sempurna tanpa cacat sedikitpun adalah makanannya sehari-hari di dunia. Ia tak perlu kasih sayang atau pun perhatian lagi dari orang-orang di sekitarnya. Termasuk adiknya.
#TBC
Guys kalian penasaran sama adiknya Dion gk sih? Kira-kira siapa hayo?
Next gak nih?
Jangan lupa komen guys.
KAMU SEDANG MEMBACA
Raina, Hujan Telah Datang (NEW VERSION)
FanfictionDipatahkan oleh keadaan Dianggap sampah oleh lingkungan sekitar Dijauhkan dari masa depan dan kebahagiaan Kata orang hal yang paling bahagia adalah bisa meraih segala asa. Satu persatu tujuan hidup tercapai, adanya kebahagiaan dan terus berjalan u...
