|RHTD 42| Takdir Mempertemukan Kembali

8K 447 106
                                        

Terjatuh saat melangkah itu tidak masalah, sebab kita perlu jatuh untuk bangkit.

***
Sahabat Raina terima kasih sudah bantu spam komen di part sebelumnya. Terima kasih juga untuk username akun yang selalu hadir dan komen. Tanpa komen dari kalian mungkin aku gak punya semangat buat rombak cerita ini. Terima kasih guys. 

GIVE ME 100 KOMENTAR GUYS. SEMAKIN KALIAN CEPAT TEMBUSIN KOMEN SEMAKIN CEPAT AKU UP PART 43. YUK SALING BANTU SPAM KOMEN. AKU TUNGGU YA GUYS. 

***
Happy Reading!

"Kamu gak ada niatan buat cek jenis kelamin anak kalian?" Mita sebagai orang tua Dion begitu menyambut kehadiran tanpa sengaja Raina dalam keluarganya. 

"Enggak ada ma. Biar jadi kejutan aja," jelas Raina. 

"Semoga suatu saat nanti kalian bisa menikah dan merawat anak ini sama-sama. Mama doakan agar hati Dion dilembutkan untuk mendengarkan kata hatinya sendiri, bukan mengikuti perintah papanya." Mita berdoa untuk kelangsungan hidup Raina dan anaknya. 

Raina menganggukan kepalanya. Ia mengamini setiap doa yang keluar dari bibir mama Dion, namun ia juga tak bisa menyanggah bahwa rasa kecewa dan takut itu masih membekas dalam ingatannya. Setiap manusia memang memiliki kesempatan kedua, tapi tidak semua manusia bisa memanfaatkannya. 

Tengah asik berbincang santai, suara bel yang terdengar membuat Raina meminta izin untuk melihat siapa yang datang. Raina melihat ada Saskia sedang menunggu pintu untuk terbuka. Ia pun segera membukanya. Namun tatapan mata Raina seolah tak percaya dengan apa yang saat ini ia lihat di depannya. Ya, di hadapannya saat ini ada abang, bunda, dan kakak iparnya. Apakah takdir Tuhan akan memberikan dirinya kebahagian?

"Ayo masuk ke dalam,"  ajak Dina kala ekspresi terkejut Raina terpampang nyata di hadapannya. 

Raina masuk lebih dulu, kemudian di susul dengan ketiga anggota keluarganya yang terlihat duduk di hadapannya. Mata Raina terlihat berkaca-kaca. Tatapan mata yang amat ia rindukan membuat ia tak bisa menahan air matanya. Awalnya hanya air mata, namun pelukan dari sang bunda membuat isakan itu lolos dari bibirnya. 

"Raina kangen bunda?" Irin bertanya dengan suara yang bergetar. 

Rasa kecewa yang ada membuat ia menyia-nyiakan anak perempuannya. Raina harus berjuang sendirian, tanpa pelukan hangat dari dirinya sebagai seorang ibu. Kedinginan dan kehampaan yang ia rasa ketika suaminya meninggal, membuat Irin memposisikan keadaan Raina sekarang tanpa kehadirannya. Dunia akan indah ketika ibu memberikan pelukan hangatnya, tapi dunia akan rapuh kala pelukan hangat itu tak lagi terasa. 

"Bunda," lirih Raina membuat Irin yang mendengarnya pun meneteskan air mata.

"Iya, sayang?" tanya Irin tak kuasa menahan air matanya. 

"Raina minta maaf. Bunda mau maafin Raina, kan? hidup Raina gak berarti apa-apa tanpa kehadiran bunda." Raina mengurai pelukannya. Ia menatap manik mata yang ia rindukan kehadirannya. Tatapan penuh kerinduan dan kasih sayang, bukan tatapan penuh kekecewaan. 

"Maaf Raina gagal menjadi seorang anak," lanjut Raina lagi.

Irin hanya bisa menangis mendengar permintaan maaf dari putri kecilnya. Ia mendekap erat tubuh Raina seolah merasa bersalah meninggalkan Raina. 

"Kalau Dion tidak menjelaskan apa yang terjadi, mungkin bunda akan benci kamu selamanya Na. Bunda sudah maafkan kamu. Semua yang terjadi bukan keinginan kita semua. Ini takdir yang harus kita terima dengan lapang dada."

Raina pun mengangguk. Ia tersenyum pada bundanya, lalu tatapan matanya terarah pada Abang dan kakak iparnya. Raina melangkah ragu ke arah Surya yang menatapnya dengan tatapan tajam. Tentu saja tatapan itu membuat Raina menghentikan langkahnya. Bahkan ia sempat ingin duduk kembali, sebelum pada akhirnya Surya menarik tangannya dan memeluknya.

"Kamu tetap adik Abang, Na. Mau bagaimana pun kondisi kamu, mau bagaimana pun kesalahan kamu, kamu adalah adik Abang. Raina masih mau jadi adik Abang, kan?" tanya Surya dalam pelukannya.

"Abang gak malu ---"

"Gak ada yang malu. Abang dan kak Dina akan menikah Minggu depan. Setelah Abang menikah kamu dan bunda akan ikut kami. Kamu adalah tanggung jawab Abang saat ini," potong Surya cepat membuat Raina memeluk abangnya erat.

"Maafin Raina," lirih Raina.

"Iya. Semua orang punya kesalahan, Na. Kalau gak punya salah bukan manusia dong," sahut Surya membuat Raina mengurai pelukannya dan tertawa.

"Untuk keluarga Raina saya mewakili Dion ingin meminta maaf kepada ----"

"Terimakasih, Bu. Kami pamit," ajak Surya yang memotong perkataan Mita sebelum berhasil melanjutkan kata-katanya.

"Bang," tegur Irin.

"Gak ada yang perlu di bahas lagi, Bun."

Surya menarik tangan Raina untuk keluar dari apartemen milik Saskia. Tentu saja Surya marah karena Dion sudah membunuh masa depan adiknya.

"Saya permisi Bu. Terimakasih sudah menerima Raina," ucap Irin merasa tak enak hati.

"Tidak apa-apa. Saya juga meminta maaf Bu."

Jangan lupa tinggalkan jejak, vote dan komen ya.

Follow:

Instagram: Shtysetyongrm
Wattpad: Shtysetyongrm
Tik tok: Seblakkerupuk56

SAMPAI BERTEMU DI PART SELANJUTNYA 🌼💜

Raina, Hujan Telah Datang (NEW VERSION)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang