Memulai dari awal sendiri
Melakukan semua hal sendiri
Berdiri dan berjalan sendiri adalah definisi dewasa untuk diri sendiri.
🌼🌼💜💜
Makasih teman-teman sudah bersedia komen & vote. Jangan lupa berikan vote yang sama dan komen di part kali ini ya 🌼
🌼🌼🌼
UDAH FOLLOW AKUN INI FRENDDDD? GIVE ME 200 KOMENTAR UNTUK UP PART SELANJUTNYA YA GUYS. TERIMAKASIH YANG SUDAH KOMEN DI PART SEBELUMNYA ♥️🥰
Happy Reading
Hari ini cahaya matahari begitu terang. Hawa panas tentu saja menjalar, apa lagi kota Jakarta dikenal sebagai kota penuh polusi di siang hari. Cuaca panas tak mampu membuat niat Raina untuk memeriksakan kandungannya sirna begitu saja. Kondisi kehamilannya yang sebentar lagi akan menginjak 7 bulan pas membuat ia harus extra hati-hati dalam merawat kandungannya. Saat ini tepat saat jam di dindingnya menunjukkan pukul 09.00 pagi, Raina tengah bersiap-siap membawa perlengkapan untuk pemeriksaan kehamilannya nanti. Ia membawa tas berisi uang, dompet, power Bank dan yang terakhir adalah buku kehamilannya. Hamil di usia muda membuat ia sangat takut dengan kondisinya.
Raina yang akan bersiap berangkat menghentikan langkahnya. Ia terlihat menghubungi seseorang yang ada di ponselnya. Panggilan pertama tidak ada respon, namun kala panggilan kedua respon itu pun kemudian diberikan.
"Assalamualaikum, Bun."
"Walaikumsallam. Ada apa?"
"Bunda sibuk gak? Raina mau minta temenin ke rumah sakit untuk cek kehamilan. Kebetulan hari ini Saskia sekolah, jadi gak bisa."
"Bunda sibuk. Malam ini mau ada pengajian untuk ayah dan rumah baru Abang. Kamu pergi sendiri saja jangan manja."
"Tapi ----"
Tut. Belum sempat ia meneruskan kata-katanya, panggilan itu sudah di akhiri secara sepihak oleh sang bunda. Raina hanya bisa tersenyum saja, mungkin memang benar kondisi di rumah abangnya begitu sibuk. Tak apa-apa dari awal hingga akhir ini adalah kesalahan dirinya. Tetap melangkah sendiri walau terasa berat itu sudah konsekuensi dari kesalahannya.
"Hari ini kita periksa ya, nak. Tolong jangan nakal ketika di jalan," ucap Raina seraya mengelus perutnya yang sudah mulai membesar.
Raina yang sudah mengunci pintu rumahnya berjalan menuju keluar pagar. Ia berjalan menuju jalan raya yang tak berada jauh dari halaman rumahnya. Kondisinya yang tak memungkinkan untuk naik sepeda motor membuat ia terpaksa untuk naik angkutan umum yaitu bus. Kira-kira lima belas menit jarak antara rumah dan halte bus saat ia melangkahkan kakinya. Baru saja ia duduk sudah ada bus yang berhenti dengan tujuan yang akan ia tuju. Tentu saja Raina segera naik dengan perut besar yang membuat ia kesulitan untuk menaiki bus yang tinggi.
Mata Raina mengedar, semua kursi di bus yang ia tumpangi penuh dan tak ada satu pun peluang kursi untuknya duduk.
"Bang, maaf, apa gak ada kursi untuk saya duduk?" tanya Raina pada kenek bus.
"Waduh, neng. Penuh semua. Saya gak bisa nyuruh mereka tukeran karena sama-sama bayar," balas kenek bus itu pada Raina.
"Oh, iya, bang. Makasih bang."
KAMU SEDANG MEMBACA
Raina, Hujan Telah Datang (NEW VERSION)
FanfictionDipatahkan oleh keadaan Dianggap sampah oleh lingkungan sekitar Dijauhkan dari masa depan dan kebahagiaan Kata orang hal yang paling bahagia adalah bisa meraih segala asa. Satu persatu tujuan hidup tercapai, adanya kebahagiaan dan terus berjalan u...
