[RHTD 49] Bayangan Masa Depan

7K 354 90
                                        

Berulang kali memastikan apakah saat ini apa yang ia lakukan sudah benar? Hidup bersama seolah sendirian. Ada beberapa orang yang mendukung, tapi tak membuat hidupnya tenang dan nyaman. Ternyata masa lalu itu akan teringat sampai kapan pun, sementara masa depan adalah bayangan yang seolah menjadi sebuah ketakutan.
🌼🌼🌿🌿

Happy Reading! Jangan lupa berikan komen dan vote kalian ya guys. Terimakasih. GIVE ME 100 KOMENTAR GUYS.

🌼🌿🌿

Perjalanan terasa membosankan. Tak ada satu pun kata yang keluar dari Raina yang terus berdiam diri, padahal ia ada di sampingnya. Sahabatnya itu hanya bisa terdiam sembari menatap ponsel yang bahkan tak menyala. Dalam hati ia berkata, ada apa dengan Raina? Apakah pria yang di mall tadi sangat menganggu dirinya? Tapi itu bukan Dion bukan? Kalau Dion pulang ke Indonesia ia sebagai adiknya tentu saja tahu tentang kepulangannya. Tapi sampai saat ini apa? Bahkan untuk menghubungi kakak sendiri pun sangat susah untuk dilakukan olehnya.

"Lo masih mikirin soal pria yang mirip kakak gue?" tanya Saskia pada Raina.

Raina terlihat menoleh kepalanya. Anggukan kepala terlihat jelas di sana. "Aku gak mungkin salah lihat. Aku tahu itu Dion."

Saskia yang mendengar hanya bisa tersenyum. Ini mustahil. Dion baru saja beberapa bulan di sana, tak mungkin lulus dengan mudah. Apa lagi pria itu sangat bodoh. Papa juga tak mungkin membiarkan pria itu kembali ke Indonesia dan bertemu dengan sahabatnya.

"Gue yakin, itu bukan Dion. Kalau dia pulang ke Indonesia, gak mungkin dia gak hubungi lo sebagai calon istrinya," ucap Saskia membuat Raina terdiam di tempatnya.

Perkataan Saskia memang bisa telaah, tapi firasat dan matanya tak pernah salah. Hari dimana ia ketakutan adalah hari dimana ia kehilangan papanya, tapi sekarang? Kecemasan dirinya apakah itu sebuah pertanda bahwa apa yang ia lihat itu nyata? Sudah beberapa bulan lamanya Dion tak pernah menghubungi dirinya, padahal pria itu yang berjanji bahwa ia akan selalu menghubungi dirinya untuk tahu kabar anaknya bagaimana. Tapi sampai sekarang apa yang ia temui? Bahkan untuk membalas pesannya saja pria itu sangat sulit melakukan nya.

Kalau pun apa yang ia pikirkan adalah sebuah fakta, bukan berarti Dion tak bisa mengingkari segala janjinya kan? Terlebih lagi Dion dan dirinya adalah dua orang yang saling menerima takdir bersalah atas apa yang mereka lakukan kala itu. Mungkin kalau waktu bisa ia putar, hanya satu yang ia inginkan, pergi ke tempat kejadian itu dan merubah segala takdir yang sudah direncanakan. Tapi itu semua hanya ilusi yang tak akan menjadi sebuah  kenyataan di dunia ini.

"Lo jangan terlalu mikirin, Na. Kalau terus Lo pikirkan yang ada Lo stress bayi lo juga ikut Stress," ucap Saskia pada sahabatnya sendiri.

"Aku gak mikirin kok," balas Raina sembari menoleh pada Saskia yang sedang mengemudikan mobilnya.

"Terus kenapa lo diam?" tanya Saskia. "Jangan mikirin apa pun yang akan buat hidup lo jauh lebih sulit. Nikmati aja apa yang sudah terjadi."

"Kamu bisa bilang kaya gitu, karena kamu gak paham  apa yang aku alami atau rasakan saat ini," ucap Raina pada Saskia.

"Gue cuman becanda, Na. Lo jangan baper dong," ucap Saskia pada Raina. Ia tak salah berkata-kata bukan? Ia hanya memberikan sebuah motivasi pada Raina yang terus menerus menyalahkan dirinya yang pada dasarnya hanya korban dari Dion kakaknya.

Raina, Hujan Telah Datang (NEW VERSION)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang