|RHTD 35 | Terbongkar

9.4K 438 166
                                        

Aku tidak menyalahkan keadaan
Aku tidak menyalahkan waktu
Aku tidak menyalahkan sebuah pilihan yang aku ambil
Jika waktu di putar ke masa lalu
Aku akan tetap memilih pilihan ku yang sekarang. Karena menyalahkan dan menyesali semuanya sudah terjadi.

***
Halo guys. Gimana kabar kalian? Semoga selalu baik-baik aja, ya. Terimakasih yang sudah memberikan komentar di part sebelumnya, part kali ini beri aku komentar lagi ya guys.

***
HE BESTI
KALIAN SUDAH FOLLOW AKUN INI?
BELUM? KOK BISA?
GAS FOLLOW 😍
Happy Reading 🌼

"Raina tunggu," ucap Dion sembari menyekal tangan Raina yang ingin membuka pintu mobil.

"Kenapa kak?" tanya Raina yang bingung, karena tiba-tiba Dion menahan tangannya untuk keluar dari mobil, padahal saat ini ia sudah tiba di kawasan apartemen milik Siska tinggal.

"Gue boleh tanya satu hal?"

Raina pun mengangguk mantap. Melihat betapa seriusnya wajah Dion, membuat ia mengurungkan niatnya. Ia menatap Dion dengan tatapan penuh tanda tanya. Ada apa sebenarnya? Apa yang akan ditanyakan Dion pada dirinya?

"Kenapa lo minta gue tanggung jawab? Sementara lo bisa laporkan gue kapan pun itu," tanya Dion dengan tatapan yang penuh penasaran. Ia baru sadar selama ini. Sadar kenapa Raina tidak melaporkan dirinya dan memilih untuk meminta pertanggungjawaban atas kesalahannya? Padahal saat itu ia tak mau menikahi Raina atau bertanggung jawab atas anak yang ada di sana. Tapi ketika ia mendengar dan melihat keterangan dari surat itu, hati dan jiwanya sudah menaruh rasa sayang pada calon anak yang Raina kandung di dalam perutnya.

"Kenapa kakak tanya ini?"

"Vino di penjara atas kasus pelecehan seksual. Gue jadi bingung dan penasaran, kenapa saat itu lo cuman bisa diam? Sementara lo bisa aja laporkan gue dengan kasus kekerasan seksual?"

Raina terkejut? Tentu saja. Hatinya berdebar kencang, apakah ini sebuah karma atas apa yang Vino lakukan pada dirinya? Karma atau bukan, yang jelas saat ini ia merasa lega. Lega ketika salah satu pelaku mendapatkan pelajaran berharga dan menerima konsekuensi dari setiap tindakan buruknya. Takdir Allah itu sungguh indah, mereka yang terluka akan di kuatkan, sementara mereka yang bahagia di awal akan diberikan luka setelah bahagia itu telah selesai. Mungkin ada satu hal yang selama ini menjadi sebuah pendirian. Pendirian di mana ia tak akan melaporkan Dion atas tindakan kesusilaan yang telah dilakukan. Satu hal yang mungkin ia harap tak akan memberikan luka lagi di kemudian dan masa depan nanti.

"Bener kata kakak, kalau aku mau, mungkin aku bisa melakukan hal yang sama. Tapi aku memilih untuk tidak. Diam bukan berarti kalah, hanya saja menyiapkan hati yang terluka untuk mendapatkan kebahagiaan setelahnya. Banyak pelaku dan orang dengan gangguan seksual seperti kakak melakukan hal yang sama, walau sudah diberikan hukuman berat oleh hukum di Indonesia. Di berikan hukuman penjara, kebiri, dan denda, itu tak akan berpengaruh nantinya. Kalau pun mau di kasih hukuman, seharusnya di kasih hukuman mati saja. Kenapa? Karena pikiran mereka yang gak sehat. Aku gak akan memenjarakan kakak, tapi aku bakal rubah pikiran kakak. Merubah untuk tidak lagi menjadikan wanita sebagai korban. Cukup sampai di sini aja. Cukup aku korban terakhir kakak. Setelah itu, aku minta kakak berhenti dan urus anak ini sama-sama."

Kata-kata itu, tatapan yang penuh makna seolah menyadarkan dan menyentuh hati Dion tepat sasaran. Dion hanya bisa terdiam, sementara Raina tersenyum menatap Dion yang sedang memikirkan kata-katanya.

Raina, Hujan Telah Datang (NEW VERSION)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang