|RHTD 32| Kejutan Setelah Kepedihan

9.1K 490 196
                                        

Ada yang hilang tergantikan sesak
Ada yang datang di saat hati dan rasa pedih butuh kebahagiaan.

***
BERI AKU 100 KOMENTAR GUYS. TERIMA KASIH, DI PART SEBELUMNYA NEMBUSIN 100 KOMENTAR SEMOGA KALIAN SEHAT SELALU AMIN. 

UDAH FOLLOW AKUN WP ARUM? KALAU BELUM YUK FOLLOW AKUN AKU GUYS BIAR GAK KETINGGALAN KALAU AKU UP. 

***
Happy Reading!

"Gue tahu lo sedih, tapi setelah ini gue janji, gue akan buat lo bahagia," ucap Dion sembari memeluk Raina yang kemudian berusaha untuk melepaskan pelukannya.

"Lepas, kak. Aku udah gak mau nangis lagi. Udah cukup," sahut Raina berusaha untuk tegar saat ini.

Dion melihat jelas sorot mata itu terlihat tak percaya akan kata-katanya. "Lo masih gak percaya sama gue, Na?"

"Kasih tahu alasan kenapa Raina harus percaya sama kakak?" Raina menatap ke lain arah. 

Sulit ternyata menumbuhkan rasa percaya di saat orang lain sudah terluka atas sikapnya. Ia bodoh? Tentu saja. Baru menyadarinya saat ini di saat semua cemoohan dan kata-kata yang tak pantas ia ucapkan pada Raina. Dion yang melihat kepedihan di sana membuat ia meraih sesuatu dari belakang jok mobilnya. Sebuah buket bunga dan coklat ia berikan pada Raina yang menatapnya bingung tapi menerima pemberian dirinya.

"Mungkin ini gak bisa menghapus semuanya, tapi gue mohon bahagia ke depannya dan perlahan lupakan semuanya. Coklat bisa buat mood lo makin baik. Makan aja kalau mau, kalau gak mau buang aja," ujar Dion kemudian melajukan mobilnya.

Mobil yang ditumpangi melaju membelah jalanan ibu kota yang cukup ramai dan lancar. Dion fokus pada jalanan, sementara Raina menatap sesekali lalu melihat satu buket bunga dan coklat kesukaan dirinya. Dengan ragu dan merasa bersalah, ia membuka coklat itu dan memakannya. Dalam diam dan mata yang terus mengamati jalanan, ia memikirkan sebuah perkataan. Benar kata Dion, bagaimana pun setelah ini ia harus bahagia, menaikan kembali motivasi hidupnya, dan kembali menjalankan hidupnya walau hanya sendirian tanpa keluarga yang biasanya selalu ada. 

"Kok berhenti di sini, kak?" Mata Raina kemudian tertuju di sebuah Indomaret di mana Dion membawanya secara tiba-tiba.

"Ayo turun. Jangan lupa pakai masker. Pakai topi gue, ya, biar gak ketahuan," balas Dion kemudian memakaikan topi milik nya, seraya memberikan Raina masker. 

"Ketahuan sama siapa?"

"Udah ikut gue aja," balas Dion mematikan mobilnya dan meraih dompetnya.

Ketika mereka ingin keluar dari mobil, tiba-tiba dering ponsel Raina berbunyi, membuat Dion yang akan turun menghentikan langkahnya dan menatap Raina penuh tanda tanya.

"Siapa?" tanya Dion penasaran.

"Siska kak."

"Jangan bilang kalau ada gue di sini. Jangan bilang juga kita lagi jalan," ucap Dion pada Raina, membuat Raina menganggukkan kepalanya.

Raina kemudian mengangkat telepon itu. Raina mencoba untuk tenang walau Siska sebenarnya sudah menaruh rasa curiga ketika ia pulang dalam keadaan basah dan memakai Hoodie yang dikatakan milik Dion.

"Halo. Lo di mana? Kak Surya bilang lo gak masuk ke dalam mobilnya. Lo di mana? Jangan buat gue khawatir."

"Aku lagi jalan-jalan. Aku butuh sendiri dulu. Bilangin ke Abang, ya."

"Butuh gue jemput?"

"Gak usah. Aku bisa pulang sendiri. Gak akan lama kok, janji."

"Oke, hati-hati, ya."

Raina, Hujan Telah Datang (NEW VERSION)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang