|RHTD 24| Anala dan Asa

11.4K 524 69
                                        

Perempuan itu harus di jaga, bukan di rusak dengan dasar cinta. Dilindungi dengan hati yang tulus, bukan mengharapkan imbalan setelahnya. Pada dasarnya setiap manusia akan lahir dari rahim seorang wanita, sudah seharusnya perempuan di lindungi dan dijaga.

***
Halo, guys. Gimana kabar kalian? Semoga selalu baik-baik saja ya. Jangan lupa tinggalkan jejak berupa komen dan vote ya guys. Yang sudah komen dan vote terima kasih 😍

***
Happy Reading!

"Lo gak pantas untuk bunuh diri," ucap pria itu membuat Raina memeluknya sangat erat. Bahkan ia luapkan semua yang ada di hatinya, termasuk rasa sakitnya. Yang ia butuhkan saat ini adalah pelukan, pelukan yang nantinya akan membuat ia tenang dan sedikit berkurang tentang sesak dan kepedihan yang ia rasakan.

Tangan Leo melingkar indah di pinggang Raina, memeluk erat Raina yang juga membalas pelukannya. Sampai saat ini ia masih tak menduga bahwa Raina bermaksud untuk mengakhiri hidupnya, jika ia tak cepat-cepat naik dan menyelamatkannya. Pelukan dan air mata Raina yang menetes deras di pipi dan bajunya membuat Leo tak tega melihatnya. Untuk saat ini hanya sebuah pelukan yang bisa ia lakukan agar menenangkan hati Raina yang tanpa di duga-duga nekat mengakhiri hidupnya.

"Lo kenapa? Cerita sama gue," tanya Leo sembari melepaskan pelukannya, menatap wajah Raina dengan sorot mata yang bertanya-tanya.

Raina terduduk seketika. Perempuan itu tak menjawab apa-apa. Hanya gelengan yang bisa ia lakukan untuk mewakili semuanya. Jika ia bercerita tentang luka dan apa yang ia rasa, maka orang lain akan tahu hal yang sebenarnya. Hal di mana sudah cukup para tetangganya saja yang tahu, bahwa saat ini ia tengah hamil muda, kehilangan Asa, kehilangan hidupnya dan saat ini yang ada dalam benaknya adalah bagaimana ia mengakhiri hidupnya untuk selama-lamanya. Jujur ia tak sanggup menahan malu, tak sanggup jika harus memiliki anak di usia muda, dan tak sanggup jika nantinya ia hanya bisa menjadi wanita lemah tak berdaya.

"Kalau lo mikirin olimpiade, lebih baik kita mundur bersama-sama. Lo pasti tertekan, ya? Gue juga sama, tapi jangan sampai bunuh diri juga, Na. Lo perempuan cerdas, gak seharusnya lo kaya gini," ujar Leo pada Raina, padahal ia tak pernah tahu fakta yang sebenarnya.

"Raina gak sanggup, kak. Raina gak bisa hidup lagi, Raina malu, kak," lirih Raina sembari terus menundukkan kepalanya. Bahkan untuk menunjukkan mukanya lagi pada kakak kelasnya ia tak bisa, walau pada dasarnya kakak kelasnya itu tak tahu apa-apa.

"Lo gak bol ----"

"Lo harus tanggung jawab!"

Tiba-tiba suara teriakan bersamaan dengan tubuh Dion yang jatuh tersungkur tepat di hadapan Leo dan Raina, membuat perempuan yang sedikit takut dengan Dion itu menolehkan kepalanya. Ia berdiri, melihat bagaimana abangnya yang emosi membuat ia menahannya untuk meneruskan kata-katanya lagi. Surya yang paham akan kode Raina pun segera menarik tangan Dion untuk berdiri, menarik tangan pria itu bagaikan kucing yang tak bernyawa untuk mengikuti setiap langkahnya. Sementara Leo yang melihat kepergian Raina secara tiba-tiba dengan wajah Dion yang babak belur membuat ia diam dan hanya bisa bertanya-tanya.

Saskia yang ingin menyusul Raina ke atas pun harus menghentikan langkahnya ketika ia melihat jelas wajah kakaknya babak belur dan saat ini di paksa untuk mengikuti langkah kaki Abang Raina. Sontak saja ia berbalik arah dan mengikuti mereka bertiga yang ternyata pergi ke parkiran sekolah.

"Masuk lo an --jing!" seru Surya mendorong Dion untuk masuk ke dalam mobilnya.

"Bang, gue gak salah!" sanggah Dion yang terus saja mengelak, tapi Surya terus mendorongnya dan memberikan pukulan mentah beberapa kali, bisa dilihat wajah Dion kini tak ganteng lagi. Ada luka lebam dan darah yang membiru di ujung bibirnya.

Raina, Hujan Telah Datang (NEW VERSION)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang