|RHTD 64| Menyerah Pada Takdir

11.8K 536 505
                                        

Aku menyerah pada takdir
Harapanku telah usai, tak lagi aku gantungkan pada ketidakpastian. Yang hancur biarlah hancur, yang berjalan biarlah menjadi sebuah perjalanan. Berharap pada manusia begitu menyakitkan, diberikan kepastian diawal berujung diberi luka kemudian.
|Raina Tasya|

🌼🌼🌼

Give me 400 KOMENTAR. Terima kasih yang sudah selalu komen. Aku buat saluran baru guys, yuk join buka Instagram Shtysetyongrm.

HAPPY READING

Tiga hari lalu semesta memberikan ia sebuah hadiah. Hadiah menjadi seorang ibu diusia muda, menerjang ribuan badai dan hujan ditengah perjuangan. Pengorbanan yang ia lakukan sangat berarti besar, tak akan lagi ia sia-siakan kehidupan yang telah diberikan oleh Tuhan. Kala takdir tak terduga menyapa ia hanya bisa menerima, pada akhirnya penerimaan itu memberikan ia pelajaran berharga. Pelajaran bahwa bergantung pada manusia adalah sumber luka yang sebenarnya.

Tuhan memberikan manusia cobaan sebagai tanda bahwa Tuhan sayang, namun cobaan itu lah yang pada akhirnya mengubah kehidupan Raina sekarang. Tiga hari yang lalu ketika ia ingin menyerah pada takdir semesta, Tuhan tak memberikan kesempatan untuknya. Ia justru diberikan kesempatan untuk hidup dan merawat anaknya seperti sekarang.

"Tiga hari gue nungguin kabar dari lo, Na. Gue takut banget lo kenapa-kenapa," tutur Saskia yang kembali hadir di kamar Raina, setelah usaha yang ia lakukan untuk membujuk bunda Raina.

"Maaf, ya. Bunda gak bermaksud kaya gitu," sahut Raina yang tengah berbaring di atas kasur.

Saskia menganggukkan kepalanya. Tak masalah, orang kecewa wajar jika berperilaku seperti itu. Ia juga tak bisa berbuat banyak, padahal ia anggota keluarga dari Dion. Wajar jika bunda Raina ikut kecewa pada dirinya.

"Jahitannya masih sakit, Na?" tanya Saskia seraya berjalan mendekati Raina.

Raina menatap Saskia seraya tersenyum. "Aku gak mau kasih tahu rasa sakitnya seperti apa, nanti kamu gak mau punya anak lagi."

"Serius gue tanya," ucap Saskia lagi.

Raina menganggukkan kepalanya. Ia lahiran normal saat umurnya menginjak 16 tahun. Ada banyak hal yang telah ia lalui dalam hidupnya, namun hal yang paling mengerikan baginya adalah fase dimana ia berjuang untuk melahirkan anaknya. Seluruh tubuhnya begitu tegang, ia merasa tulang dan syarafnya begitu sakit, bahkan rasa sakit nya tiga kali lipat ketika kita jatuh dari sebuah sepeda.

Tak hanya itu saja, ia kira penderitaan nya cukup ketika ia melahirkan sang anak, namun ia salah sangka dijahit setelah melahirkan juga begitu sakit untuk dirasa. Bahkan kata sang bunda ia sempat tak sadarkan diri karena pendarahan yang ia alami.

"Ternyata gini, ya, Sas. Melahirkan itu menyenangkan tapi juga menyakitkan. Pantas saja ibu kita suka nangis kalau di lawan anaknya sendiri. Melahirkan itu ibarat diambang kehidupan dan kematian, rasa sakitnya tidak bisa digambarkan namun hanya bisa di rasakan. Suatu saat nanti kamu akan merasakan, karena pada dasarnya setiap wanita pasti diberikan kesempatan untuk memiliki keturunan."

"Serius sesakit itu?" tanya Saskia lagi.

"Jahitan sepuluh, karena tubuh bayinya besar bayangkan saja rasa sakitnya," jawab Raina tersenyum disaat Saskia menatapnya takut.

Raina, Hujan Telah Datang (NEW VERSION)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang