|RHTD 3| Perkara Hujan

12.4K 744 362
                                        

Tidak semua perhatian berarti sayang, terkadang orang lain membantu karena rasa ingin, bukan karena memiliki rasa

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Tidak semua perhatian berarti sayang, terkadang orang lain membantu karena rasa ingin, bukan karena memiliki rasa. 

(Raina Hujan Telah Datang)

***

Halo, sebelum baca part nya, tolong berikan vote, komen, dan tinggalkan jejak komentar kalian ya. Satu komentar dari kalian adalah penyemangat bagi author walau hanya komen next saja.

***

UDAH FOLLOW ME? KALAU BELUM GAS FOLLOW HEHE. 

Derasnya guyuran hujan membuat Raina yang mengendarai motor harus berteduh. Bulir-bulir yang terlalu besar dan terasa sakit untuk dirasakan membuat ia berhenti di sebuah halte bus, dekat sekolahnya. Ia melepaskan helm, membiarkan motor kesayangannya kehujanan. Sebenarnya, Raina sangat menyukai hujan. Namun hari ini ia tak berniat untuk kehujanan. Sesekali ia memfoto bagaimana pohon rindang harus tersapu oleh angin dan hujan yang datang secara bersamaan. Detik berikutnya ia tersenyum ketika air hujan bisa ia rasakan. Air tersebut menyambut telapak tangannya melalui rintikan genting yang menjadi tempatnya untuk berteduh saat ini. Namun senyum itu lenyap ketika sebuah mobil berwarna putih berhenti tepat di hadapannya, diikuti oleh kaca yang terbuka dan menampilkan seorang remaja pria. 

"Mau bareng gak?" tanya seseorang yang tiba-tiba membuka kaca, lalu menatapnya dengan senyuman.

Saat kaca terbuka sempurna, Raina menyadari bahwa pria tersebut adalah kakak tingkatnya. Pria yang memberikan semangkuk bakso untuk dirinya. 

"Gak usah kak. Aku bawa motor," balas Raina sembari menggelengkan kepalanya.

Melihat gelengan tersebut, Dion segera membuka pintu mobil. Ia berlari kecil karena air hujan membasahi bajunya. Ia berdiri di dekat Raina yang berangsur mundur karena jarak mereka. Tentu saja Dion menyadari hal tersebut. 

"Jangan overthinking. Gue cuman mau kasih jaket aja," ucap Dion menyampirkan sebuah jaket kulit di bahu Raina, lalu mengurai jarak di antara mereka. Dion memilih untuk duduk, seraya memperhatikan Raina yang terus berdiri.

"Emang kita ada masalah, ya?" tanya Dion membuat Raina menatapnya sekilas. 

"Enggak kok kak. Raina baru kenal kakak," jawab Raina membuat Dion tersenyum tipis. 

"Gue kira punya. Soalnya lo kaya gak mau dekat gitu. Duduk sini, gue gak akan ngapa-ngapain kok," ucap Dion membuat pertahanan Raina lenyap. 

Raina dengan perasaan canggung duduk di samping kakak tingkat yang terus menatapnya. Ya, tentu saja duduk menggunakan jarak. 

"Berasa musuhan kalau duduk pakai jarak," ujar Dion seraya mengarahkan pandangannya ke arah rintikan air hujan yang kian lama kian deras. 

Raina, Hujan Telah Datang (NEW VERSION)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang