Menyakitkan memang, di paksa untuk melepaskan seseorang yang bahkan belum pernah kita miliki hadirnya. Di paksa untuk terlihat baik-baik saja, padahal terluka parah. Kepedihan menjalar dan sulit untuk melupakan segalanya tentang dia.
***
TERIMAKASIH SUDAH TEMBUSIN KOMEN. GIVE ME 100 KOMENTAR LAGI GUYS DI PART KALI INI. BANTU AKU TEMBUSIN TARGET 🥰
SEHAT-SEHAT SELALU. AKU TUNGGU TEMBUS KOMENNYA ♥️🥰
Halo, jangan lupa tinggalkan jejak kalian ketika membaca. Jangan lupa berikan komentar dan vote ya guys. 😚🤩
***
Happy Reading! Jangan lupa follow akun ini ya.
Langit sudah mulai gelap, satu menit ia menunggu, dua menit ia jenuh, dan beberapa menit kemudian ia tak menemukan keberadaan Dion. Apakah selama itu pergi ke kamar mandi? Raina yang merasa khawatir segera bangun, ia melangkahkan kakinya dengan sangat hati-hati, menyusuri pasir pantai untuk mencari keberadaan Dion yang tak kunjung datang. Adzan bahkan sudah berkumandang, para pengunjung sudah mulai menepi, tapi yang ia lakukan justru mencari keberadaan pria itu yang bahkan tak lagi menemui dirinya. Dengan terpaksa, ia memeriksa setiap toilet, memastikan bahwa setidaknya Dion masih ada di dalam, tapi yang ia temui justru kekosongan. Tak ada satu pun orang, selain penjaga yang menunggu di luar.
"Loh, katanya tadi ke toilet. Kok gak ada, ya?" Raina tentu saja merasa heran. Baru beberapa menit yang lalu pria itu meminta izin padanya untuk pergi ke toilet, tapi ketika ia memeriksa satu persatu, tak ada satu pun orang di sini. Bahkan toilet terlihat kosong.
Berharap Dion sudah keluar lebih dahulu, membuat ia mengecek kembali tempat di mana mereka saling bertukar rasa. Lagi dan lagi tak ada satu pun orang yang ia temui. Udara yang semakin dingin, angin laut yang menerpa kencang wajahnya, dan bulan yang sudah mulai terbit di sana membuat ia cemas seketika. Ia tak tahu lagi harus mencari Dion kemana, ke toilet tapi tak menemukan keberadaannya. Lalu ia harus kemana lagi untuk menemukan pria itu?
"Apa aku harus pulang duluan? Tapi tadi udah janji bakal nunggu dia di sini. Serba salah, deh," keluh Raina yang serba salah. Jika nantinya ia pulang, ketika Dion kembali dan tak menemukan keberadaan dirinya bagaimana? Kasihan bukan?
Ketika ia ingin melangkahkan kakinya kembali, suara ponsel yang berdering nyaring membuat ia segera mengangkatnya. Terdengar jelas suara tangisan di sana, meminta agar ia menahan kepergian Dion yang ternyata terjadi saat ini juga. Suara seorang perempuan yang ia ketahui adalah Saskia membuat Raina dengan cepat berlari keluar dari pantai, menunggu kendaraan yang ia harap akan datang untuk membawa dirinya ke Bandara. Satu menit lamanya ia menunggu, akhirnya sebuah taksi menghampirinya.
"Bandara Soekarno Hatta, pak," ucap Raina segera masuk, membuat sopir itu mengangguk dan mengantarkan dirinya ke sana. Hati Raina di landa rasa cemas. Berdebar kuat, merasa bahwa ini adalah jalan yang tak ia inginkan setelah kebahagiaan datang menghampiri.
Tiba-tiba ia teringat sesuatu. Perhatian, permintaan Dion yang bahkan sempat ia tolak, membuat rasa bersalah timbul di dalam hatinya. Kenapa? Kenapa pria itu membohongi dirinya? Dion mengatakan besok, tapi Saskia memberi tahu bahwa tiga puluh menit lagi Dion akan segera berangkat dan meninggalkan Jakarta. Apakah ia masih ada waktu untuk sekedar memberikan semangat dan memeluknya? Membayangkan bagaimana sikap dan perhatian yang ada membuat rasa itu kembali ada di dalam hatinya. Rasa yang mungkin terkubur dalam pada kebencian yang mulai sirna tapi masih menetap di dasar hatinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Raina, Hujan Telah Datang (NEW VERSION)
FanfictionDipatahkan oleh keadaan Dianggap sampah oleh lingkungan sekitar Dijauhkan dari masa depan dan kebahagiaan Kata orang hal yang paling bahagia adalah bisa meraih segala asa. Satu persatu tujuan hidup tercapai, adanya kebahagiaan dan terus berjalan u...
