Saat ini yang ada hanya luka, bahagia seolah tak mau menyapa, hanya kesedihan yang terus menerus di rasa, walau beberapa titik terendah dalam hidup sudah berhasil untuk dilewati dengan penuh duka dan sedikit bahagia.
***
Halo, maaf baru bisa up lagi guys.
Jangan lupa berikan dukungan kalian melalui komen ya guys. GIVE ME 100 KOMENTAR GUYS♥️
FOLLOW AKUN WP INI JUGA YA GUYS
***
Happy Reading!
Dua bulan kemudian ......
Hari-hari Raina masih penuh akan kesakitan dan kepedihan. Bahagia yang datang hanya singgah sebentar lalu pergi meninggalkan. Kondisi hati yang terus terguncang, badan yang kian membesar dan keberadaan Leo yang selalu mengusik dirinya membuat ia sulit meraih untuk bahagia. Usia kandungannya saat ini sudah menginjak tujuh bulan, dua bulan lagi ia akan melahirkan ini tanpa Dion yang mungkin tak akan kembali. Satu bulan yang lalu kakak satu-satunya sudah menikahi kekasihnya, mereka hidup bahagia dan hanya ia sendiri di rumah bersama sang bunda yang kian hari seolah membenci dirinya. Apa karena ia hamil tanpa suami? Tapi bukankah semuanya sudah terjadi? Bahkan jika boleh, ia ingin menukar nyawanya dengan sang papa yang sudah lama pergi.
Malam hari terasa begitu tegang untuk dirinya yang seolah disidang. Ia hanya bisa duduk di antara Abang dan keluarganya di ruang tamu. Kak Dina yang terus mengusap bahunya, sementara sang bunda yang terus mengomeli dirinya. Apa ia salah? Ia hanya ingin menghirup udara walau sebentar saja. Tak akan lama, hanya beberapa menit untuk menikmati hidupnya bersama terpaan angin dan ribunnya pohon hijau yang ada di halaman rumahnya.
"Apa kamu setuju, Na?"
"Setuju soal apa? Soal Abang dan kak Dina yang mau angkat anak ini?" tanya Raina sembari mengelus perutnya.
"Iya, Na. Kami berniat membantu kamu. Mungkin setelah ini kamu akan sekolah, kan? Jadi, Kak Dina di sini akan membantu kamu merawat anak kamu," balas Dina membuat Surya menganggukkan kepalanya.
"Tapi, di dalam surat perjanjian itu sudah tertera semuanya. Dion akan merawat anak ini bersama Raina. Raina gak mau nyakitin perasaan Dion," balas Raina membuat sang bunda yang terus melihat penolakan halus dari Raina membuatnya tak bisa menahan kesabarannya.
"Belum cukup, ya, Na? Belum cukup kamu mempermalukan bunda? Dulu kamu nurut, loh, nurut semua apa kata bunda dan ayah. Tapi sekarang bagaimana? Coba lihat diri kamu. Kamu bahkan gak bisa urus diri kamu sendiri, gimana caranya kamu urus anak itu?"
Sakit? Sudah jelas. Entah bagaimana, bundanya jadi lebih sensitif terhadap dirinya. Sejujurnya tempat terbaik untuk dirinya menatap adalah rumah Siska, tapi ia tak mungkin ke sana. Di satu sisi ia bingung mau mempertahankan yang mana, tapi bukankah kebahagiaan dirinya terletak pada keputusan dirinya? Melihat bagaimana bunda dan keluarganya sudah bertahan sejauh ini membuat Raina tak bisa berbuat apa-apa.
"Tapi, Dion ----"
"Kemana Dion, Na? Bahkan satu bulan ini kamu dan dia tidak berkomunikasi bukan? Di mana saat kamu butuh Dion? Apa dia datang ke sini? Enggak, kan? Kenapa kamu harus pikirkan orang gak jelas kaya dia? Yang terpenting saat ini adalah masa depan kamu. Masa depan anak itu biar kami yang jalankan," sanggah Surya dengan cepat.
"Kalau dia sayang sama kamu, dia gak mungkin ninggalin kamu tanpa kabar, dek. Sejahat apa pun seorang pria, dia gak mungkin tega sama anaknya sendiri," jelas kak Dina membuat Raina semakin berkecamuk di dalam hatinya. Apakah benar Dion seperti itu? Tapi memang benar apa yang dikatakan oleh keluarganya. Satu bulan ini tak ada satu pun keberadaan Dion, bahkan dalam rangka tujuh bulan usia kehamilannya. Jangankan untuk bertanya, menghubungi dirinya pun pria itu seolah tak bisa.
"Kamu harus kejar cita-cita kamu, Na. Cuman itu yang bunda mau dari kamu. Apa kamu gak sayang sama bunda? Apa kamu gak mau jadi anak yang baik buat bunda?" tanya Irin pada anaknya.
"Kenapa bunda mempertanyakan rasa sayang Raina? Raina sudah jelas sayang sama bunda," balas Raina dengan mata yang berkaca-kaca.
Sorot mata Raina kemudian tertuju pada Surya dan sang bunda yang ada di hadapannya. Air matanya jatuh begitu saja tanpa bisa di cegah. Ia yang berusaha untuk menghapusnya berulangkali air mata itu menetes deras membasahi pipinya tanpa bisa di cegah.
"Raina emang salah. Raina yang bunuh Ayah, tapi Raina akan sakit kalau ada yang mempertanyakan rasa kasih sayang seorang anak ke bundanya. Bunda yang jaga Raina. Raina tahu bunda kecewa, tapi jangan kasih jarak itu buat Raina. Raina minta maaf sama bunda. Raina salah karena telah membuat bunda malu. Raina salah sama Abang dan kak Dina di hari pernikahan. Seharusnya saat itu gak ada Raina, kan? Raina nyesel datang ke sana. Raina takut kalau ada insiden memalukan lagi, tapi Abang paksa Raina. Apa Raina gak boleh berpendapat? Apa Raina gak boleh punya pilihan?"
"Kamu itu masih anak kecil Raina! Anak kecil yang mengandung calon anak juga. Seharusnya kamu sadar kalau kamu yang merusak dirimu sendiri. Kamu yang menyebabkan ay ----"
"Stop, Bun." Surya mencegah bundanya untuk berbicara lebih dalam lagi. Melihat bagaimana Raina bertindak membuat Dina dan Surya tak tahan lagi. Mereka kasihan, makanya mereka ingin mengasuh anak Raina dengan baik.
"Yuk kita ke taman. Kita bicara berdua aja mau?" tanya Dina pada Raina yang kemudian menganggukkan kepalanya.
Dina membawa Raina di taman belakang rumah mereka. Ia membiarkan Raina menangis sendirian di sampingnya, menangis adalah pilihan terbaik untuk meluapkan semua yang kita rasa. Maka dari itu ia membiarkan Raina menangis sendirian di sampingnya. Ia tak mau Raina merasa tersakiti. Karena sejujurnya di sini Raina adalah korban yang selalu mendapatkan kesalahan.
"Raina, kamu tahu kenapa Tuhan ciptakan malam hari untuk manusia?" Dina memulai pembicaraan.
"Agar manusia bisa istirahat?" tanya Raina membuat Dina tersenyum dan menghapus jejak air mata milik Raina di sana.
"Betul. Kakak harap kamu jadi seperti malam. Kamu juga perlu istirahat kan? Kakak harap kamu bisa mendapatkan istirahat yang cukup sebelum malam berubah menjadi siang. Ada kalanya kita bergerak, ada kalanya kita hanya bisa terdiam. Bergerak atau pun terdiam memang sebuah pilihan hidup, tapi siang dan malam tanpa matahari dan bulan juga tidak akan terasa indah untuk dipandang."
Raina yang mendengar itu pun merasa bingung. "Maksudnya kak?"
"Manusia tanpa ujian dan kebahagiaan kurang lengkap tanpa usaha dan kesedihan, kan? Sama seperti kamu. Mungkin dulu kamu mendapatkan kebahagiaan, tapi sekarang Allah kasih kamu ujian untuk tetap dalam kesedihan dan berjalan menuju kebahagiaan. Pilihan itu berat, tapi lebih berat lagi kalau kita salah memilih," balas Dina sembari mengusap rambut panjang milik Raina.
"Kakak hanya ingin menjaga anak ini. Kamu harus kembali. Kamu harus kejar semuanya. Kamu harus buktikan ke mereka kalau kamu bisa menjadi Raina versi kamu sendiri. Anak ini akan aku jaga, Na. Aku dan Surya sudah siapkan semuanya. Siapkan semuanya untuk masa depan kamu dan anak ini. Kakak sayang sama kamu, kakak gak mau kamu kenapa-kenapa."
Raina yang mendengar itu segera menggenggam tangan Dina yang mengelus rambutnya. Ia bersyukur dalam hatinya, diberikan kakak perempuan sebaik Dina. Walau terlihat acuh, ada sisi yang tak bisa orang lain rasakan ketika dekat dengannya.
"Kenapa kakak peduli sama Raina?"
"Karena kamu adik kakak. Karena kamu alasan kakak berjuang saat ini."
Mendengar jawaban itu membuat Raina memeluk Dina cepat. Ia merasa bahagia berada di dekat Dina yang selalu ada untuknya selain Saskia.
"Aku mau kak."
***
Perut Raina semakin membesar guys
Jangan lupa untuk follow:
Instagram: Shtysetyongrm
Tik tok: Seblakkerupuk56
KAMU SEDANG MEMBACA
Raina, Hujan Telah Datang (NEW VERSION)
FanfictionDipatahkan oleh keadaan Dianggap sampah oleh lingkungan sekitar Dijauhkan dari masa depan dan kebahagiaan Kata orang hal yang paling bahagia adalah bisa meraih segala asa. Satu persatu tujuan hidup tercapai, adanya kebahagiaan dan terus berjalan u...
