Dipatahkan oleh keadaan
Dianggap sampah oleh lingkungan sekitar
Dijauhkan dari masa depan dan kebahagiaan
Kata orang hal yang paling bahagia adalah bisa meraih segala asa. Satu persatu tujuan hidup tercapai, adanya kebahagiaan dan terus berjalan u...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Kesan pertama adalah awal dari perasaan. Tidak bisa dipungkiri mata yang memandang akan turun menjadi perasaan dalam hati."
(Dion Bagaskara)
****
Halo, sebelum baca part nya, tolong berikan vote, komen, dan tinggalkan jejak komentar kalian ya. Satu komentar dari kalian adalah penyemangat bagi author walau hanya komen next saja.
***
UDAH FOLLOW ME? KALAU BELUM GAS FOLLOW HEHE.
"Pesenin gue bakso kaya biasa, ya, Vin." Pria berjambul yang baru saja duduk segera memberikan perintah pada salah satu temannya bernama Vino.
"Oke, siap," jawab Vino yang tak lain adalah sahabat dekat dari pria tersebut.
Pria yang identik dengan jambulnya itu bernama Dion Bagaskara. Dion sendiri dijuluki sebagai most wanted sekolah karena parasnya yang menawan. Bagaimana tidak? tatapan mata yang tajam, kulit yang putih, memiliki postur tubuh tinggi, sedikit berotot, dan caranya berjalan tak lepas dari sorotan. Karena itu lah, ia dijuluki most wanted sekolah SMA Citra Bangsa. Hanya dengan mendengar namanya orang-orang akan tahu bagaimana parasnya. Tak jarang ketika ia keluar akan banyak siswi yang memandang. Selain di juluki sebagai most wanted sekolah, ia juga dijuluki karena sifat playboynya. Bahkan primadona sekolah pun pernah menjadi mantannya, kabarnya saat ini primadona itu masih mencintainya.
Ya, seperti saat ini secara terang-terangan salah satu siswi yang sedang berkunjung ke kantin menatapnya dengan rasa kagum. Melihat hal itu, Dion menanggapinya dengan mengedipkan mata. Secara spontan siswi tersebut menjerit histeris di buatnya.
"Gila! Semua aja lo gebet. Gak puas sama yang kemarin apa?" tanya Rian yang tak lain adalah sahabat kedua dari Dion. Rian sendiri dikenal sebagai pria yang lebih alim dibandingkan dua sahabatnya yang lain. Ia memiliki tubuh yang sedikit berisi, tampan, bulu mata lentik, namun memiliki sifat yang dingin ketika bertemu dengan orang lain. Ia dikenal sebagai seseorang yang tak mudah dekat dengan orang lain.
"Yang kemarin gak seru, jadi gue putusin aja. Lagian di ajak ke club malam gak mau," sahut Dion dengan senyumannya.
"Pantesan aja gak mau, orang lo ngajak dia gak bener," balas Rian pada sahabatnya. Tak banyak yang tahu sisi gelap dari seorang Dion. Namun yang ia sesalkan dari perlakuan sahabatnya adalah merusak masa depan, untuk hal-hal yang seharusnya tak dilakukan.
"Gue ----"
"Gak bisa gitu, dong! Ini bakso punya teman gue!"
Dion menghentikan kata-katanya. Secara spontan ia menolehkan kepalanya saat suara yang begitu familiar ia dengar. Melihat siapa yang baru saja berteriak, Dion pun berdiri dan berjalan mendekati sumber suara.
"Ada apa, sih? Anjir suara cempreng lo kedengaran dari sana," tanya Dion santai.
Remaja perempuan bernama Saskia itu segera memukul lengan milik Dion, membuat Dion merasakan sakit. Ia ingin sekalinya membalas dengan tamparan, namun hal itu ia tahan karena hubungan dirinya dengan Saskia yang tak boleh diketahui oleh banyak orang.
"Gue udah antri lama, tapi teman lo tiba-tiba ambil bakso punya gue sama temen gue. Gak adil dong namanya!" seru Saskia merasa tak terima.
"Siapa cepat dia dapat anjir!" seru Vino juga tak terima, karena ia merasa punya hak untuk mengambil bakso itu di sini.
"Udah, Sas. Aku gak apa-apa. Kasih aja buat kakak ini, biar aku cari makanan yang lain," ujar seorang perempuan yang berdiri di belakang Saskia, membuat Dion menatapnya.
Dion yang mengetahui keberadaan siswi itu segera mengambil semangkuk bakso dari tangan Vino. Ia berjalan mendekati Saskia dan terlihat menyodorkannya.
"Untuk gue, nih?" tanya Saskia dengan tingkat kepedean yang ia punya.
Mendengar itu senyum Dion lenyap. Ia segera menggeser tubuh Saskia dan menyodorkan semangkuk bakso itu pada seorang remaja perempuan yang berada di belakang Saskia.
"Untuk lo. Di terima, ya. Gue ikhlas kok kalau lo yang makan," ucap Dion dengan kedipan matanya.
"Gak usah, kak. Kita di sini sama-sama punya hak untuk beli, jadi buat kakak aja," balas Raina yang merasa tak enak hati.
"Gak apa-apa. Terima aja, nih. Gue lebih ikhlas kalau lo yang makan," ujar Dion membuat Raina pun mengangguk dan mengambilnya. "Kalau lo butuh apa-apa chat gue aja. Minta nomor gue ke Saskia ya."
Raina pun mengangguk. Ia kemudian menarik tangan Saskia untuk pergi dari hadapan mereka. Ketika Raina kembali, tatapan Dion pun berubah menjadi dingin. Pria itu seolah tak mau memberikan senyuman manisnya pada siapa pun, kecuali pada target nya. Ia berjalan menuju meja dengan tangan yang tak membawa apa-apa. Sementara dua sahabatnya makan bakso dengan begitu lahapnya. Tatapan itu tak pernah teralihkan. Yang bisa ia lihat hanya perempuan itu yang makan dengan tenang. Ada keinginan untuk memiliki nya, tapi mungkin bukan sekarang karena mereka tak saling kenal. Melihat sahabatnya menatap adik tingkatnya membuat Vino menepuk bahunya.
"Dia inceran ketos. Lo gak ada apa-apanya sama dia. Dia pinter sementara lo bandel," ucap Vino membuat Dion menatap sahabatnya dengan tatapan tajam.
"Lo gak kenal gue siapa?"
"Kali ini dia bukan mainan lo, dia terlalu baik buat di jadikan mainan sama lo, Yon! Dia juga selama ini gak ada gosip dekat sama siapa-siapa, yang ada berita tentang prestasi dia," sahut Rian menimpalinya. Ya, memang benar. Hal yang begitu identik dengan Raina adalah prestasi dan murid kebangaan sekolah.
"Gue kasih tantangan buat lo. Kalau lo bisa jadian atau tidur bareng dia, gue bakal kasih lo mobil," ucap Vino membuat Rian dan Dion menatapnya tak percaya. Walau tiga orang itu kaya, tapi tantangan dari Vino membuat Rian ingin mengikutinya juga.
"Serius lo?"
"Serius gue, tapi berlaku buat Dion aja," balas Vino dengan senyuman miringnya.
"Oke. Berapa hari?"
"Satu Minggu, Lo harus bisa dapatkan dia. Deal?"
Dion dengan bangga menjabat tangan sahabatnya. Baginya ini adalah tantangan yang sangat mudah bagi dirinya. Menaklukkan hati seorang perempuan adalah kebiasaan dirinya. Tak akan ada satu pun perempuan yang bisa menolak pesonanya. Ia yakin, ia bisa mendapatkan perempuan itu dengan sangat baik. Ia yakin itu, walau rumor mengatakan dia tidak tertarik dengan seorang pria, tetap saja ia akan menaklukkannya.