|RHTD 30| Hancur

10.6K 482 99
                                        

Yang pergi tak akan bisa kembali, hanya bisa berdiam diri dengan berbagai kenangan yang menyakitkan untuk diakui.

***
KOMEN DONG DI PART MANA KALIAN NGERASA SEDIH BANGET ATAU PART INI BERKESAN BANGET. TULIS DI PART BRPA DAN ALASAN NYA YA BEB🥰👇

Halo, gimana kabar kalian? Semoga selalu baik-baik aja ya guys. Jangan lupa untuk memberikan komen dan vote ya. Makasih.

***
Happy Reading!

"Ini makam ayah kamu, kan?"

Pertanyaan itu membuat Raina hanya bisa menundukkan kepalanya. Untuk pertama kalinya ia bisa menemui ayahnya dengan situasi yang berbeda dan tak lagi sama. Canda, tawa, senyuman, dan wajahnya tak bisa ia lihat lagi di depan mata. Yang bisa ia lihat saat ini hanyalah sebuah gundukan dengan bunga dan nama ayahnya di nisan yang membuat ia begitu terluka karenanya. Raina menutup mulutnya, ia kemudian berjongkok dan menelungkupkan wajahnya di sela-sela tangannya. Tangisan tak terbendung lagi, tegarnya ia sudah tak lagi bisa dimiliki. Hanya bisa menangis sejadi-jadinya dan meluapkan apa yang ia rasa. Entah berapa kali ia menangis dan terus saja menangis, hatinya tak bisa tegar sekuat baja, hanya bisa lemah seperti tanah yang terinjak saat basah.

Mata Dion tentu saja tak buta. Ia melihat bagaimana Raina menangis sendirian di sana dengan wajah yang sengaja di tutupi untuk tidak terlihat lemah. Dengan gerakan perlahan Dion pun mendekati Raina. Ia berjongkok tepat di hadapan Raina yang tak kunjung menunjukkan wajahnya pada ia yang menunggunya. Mata Dion ikut berkaca-kaca, tak akan menyangka bahwa rasa sesak yang Raina rasakan kini seolah mengalir deras di hatinya.

"Ayo sapa ayah lo," ucap Dion kemudian mendapatkan gelengan kepala dari Raina yang seolah tak sanggup untuk berkata-kata.

"Kematian ayah lo itu takdir. Di sini lo gak salah. Gue yang seharusnya salah, karena gue, ayah lo meninggal dan itu buat lo merasa bersalah. Ungkapin semuanya di sini. Minta maaf sama ayah lo sekarang, walau pun gue gak tahu apa yang terjadi," jelas Dion akhirnya mampu membuat Raina menunjukkan wajahnya. Tatapan perempuan ini kemudian mengarah pada gundukan dan nisan sang ayah yang ada di sana. Tanpa basa-basi, Raina yang sudah sangat merindukan sosok ayahnya berjalan dan duduk bersimpuh di depan makam sang ayah. Air mata yang terus mengalir di sana ia hapus dengan cepat agar ayahnya tak berat untuk meninggalkannya.

"Yah," panggil Raina dengan suara yang bergetar hebat. "Raina ada di sini, yah." Raina segera membendung air matanya dengan melihat ke atas, supaya air mata itu tidak jatuh di makam ayahnya.

Tangan Raina terulur untuk mengusap nisan milik sang ayah. Mencium nisan itu dengan mata yang terpejam, membayangkan bahwa saat ini wajah sang ayah yang ia berikan ciuman. Elusan tangan yang ia bayangkan sebagai tangan sang ayah yang menggenggam lembut dan erat, juga gundukan tangan yang ia peluk seolah itu adalah badan milik sang ayah yang selalu memberikan dirinya sebuah pelukan untuk tetap semangat. Namun saat mata kembali terbuka lebar, hanya gundukan tangan serta kayu yang ada di hadapannya saat ini. Hatinya hancur? Sudah jelas. Ayahnya meninggal tentu saja karena dirinya yang membuat keluarganya harus menanggung malu atas aib keluarga.

"Ungkapin semuanya, Na. Biar lo lega," ucap Dion sembari menatap Raina dari samping dengan penuh sesak di hatinya. Ia juga merasakannya, merasakan bagaimana seorang anak tak lagi bisa bercengkrama dengan orang tuanya. Apa yang Raina rasakan saat ini, tentu saja dialami oleh dirinya yang menahan rindu untuk bertemu sang mama yang sudah lama hidup terpisah dengannya.

Raina, Hujan Telah Datang (NEW VERSION)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang