Umur manusia itu hanya Allah yang tahu, diberikan kesempatan untuk melihat kenyataan atau kebahagiaan, rasa sakit dan kepedihan, sebelum pada akhirnya pergi meninggalkan.
***
Halo, gimana kabar kalian? Semoga selalu sehat ya guys. Terimakasih yang sudah memberikan komentar dan vote di part sebelumnya. Kali ini beri aku vote dan komentar lagi ya guys.
***
Happy Reading!
Rasa sakit itu berhenti berlayar sekarang, di berikan kesesakan untuk tahu betapa dalamnya rasa kehilangan. Kenangan indah yang sudah terancang, harus sirna oleh kegelapan dan amarah yang sempat hadir kemudian. Mata sudah tak lagi bisa melihat indahnya dunia, hanya bisa terpejam rapat-rapat untuk selamanya. Tak ada lagi detak jantung yang bernyawa, hanya keheningan dan tubuh yang terbujur kaku, dengan banyak orang yang menyertakan doa untuk kepergian ayahanda Raina.
Pedih, luka, sesak, itu yang saat ini harus Raina rasakan sepanjang hidupnya. Merasakan bagaimana rasa benci seorang ayah pada anaknya telah bersemayam dalam untuk selamanya. Tak akan ada lagi pintu maaf untuk Raina, bahkan untuk sekedar mengucapkan kata maaf dan menggenggamnya pun sudah tak bisa. Melihat wajah sang ayah yang sudah terbujur kaku dengan jarik di atasnya, membuat hati Raina tak lagi berbentuk. Ia menangis sejadi-jadinya, kenapa? Kenapa setelah takdir memberi tahu semuanya, orang yang ia sayangi justru pergi meninggalkan dirinya. Kini hanya kenangan pahit yang ada dalam hidupnya.
Bayangan harapan kini sudah hancur, bersamaan dengan dunia Raina yang tak lagi ada. Hanya penyesalan yang ia dapatkan sepanjang hidupnya. Kejadiannya begitu cepat, ayahnya yang ingin di antar ke rumah sakit, justru menghembuskan napas terakhir di perjalanan, tentu saja tanpa dirinya yang berbeda mobil dengan sang ayah. Benci? Sudah jelas. Ia benci pada dirinya yang tak tahu malu, menjadi anak dari pria baik yang selalu menjaga dirinya. Tak ada lagi penguat untuk hidupnya, abangnya, bunda, dan bahkan kakak iparnya tak mau lagi berdekatan dengannya. Hanya suara tangisan dari mereka yang membuat ia hancur sejadi-jadinya sebagai seorang anak kotor yang tak pantas berada di dalam keluarga.
"Lo yang kuat, ya. Lo pasti bisa melewati ini semua. Lo pasti bisa jalankan kehidupan selanjutnya. Ayah lo pasti udah maafin lo," ucap Saskia sembari terus menguatkan sahabatnya yang terguncang karena kabar duka dan positif nya ia hamil. Ia tak tahu lagi harus seperti apa menyakinkan Raina, bahwa perempuan ini bisa melakukan semuanya.
Raina terdiam. Tatapan matanya kosong seolah raga tak lagi ada untuk kehidupan.
"Matinya mendadak, ya?"
"Dengar-dengar anaknya hamil duluan, Bu. Lah, gak nyangka, ya? Pak Budi padahal didik anaknya benar-benar loh, tapi justru anaknya yang gak bener."
"Iya, anaknya hamil di luar nikah. Gak tahu malu, ya? Masih bisa dateng ke sini seolah gak ada muka."
Bisik-bisik dari para pelayat terdengar tepat di kuping Raina yang lagi-lagi harus merasakan hukum alam. Sudah di benci oleh keluarganya, kini harus menjadi bahan cemoohan bagi semua tetangganya. Entah bagaimana kabar itu bisa tersebar dengan kuat, yang jelas saat ini ia merasa manusia paling hina di lingkungannya. Sudah masa depannya hancur, kini harus menahan malu karena para tetangganya sudah tahu yang sebenarnya.
Surya yang mendengar jelas bisik-bisik itu menatap adik satu-satunya yang terus mencoba untuk kuat di sana. Ia tahu rasanya jadi Raina seperti apa, yang jelas saat ini ia harus bisa menyelamatkan mental adiknya, sebelum Raina juga ikut menyusul sang ayah. Surya menarik tangan Raina untuk berdiri dan mengikutinya. Tak lupa juga ia memberi kode pada Saskia untuk mengikutinya. Surya menaiki anak tangga, membawa Raina yang bahkan tak lagi bisa hidup di dunia. Perempuan itu hanya bisa melangkah, tapi pikirannya tak lagi ada di dunia.
KAMU SEDANG MEMBACA
Raina, Hujan Telah Datang (NEW VERSION)
FanfictionDipatahkan oleh keadaan Dianggap sampah oleh lingkungan sekitar Dijauhkan dari masa depan dan kebahagiaan Kata orang hal yang paling bahagia adalah bisa meraih segala asa. Satu persatu tujuan hidup tercapai, adanya kebahagiaan dan terus berjalan u...
