Sulit untuk dijelaskan bagaimana ini terjadi, bermula dari seperti apa, karena apa, itu semua tidak bisa di jelaskan oleh kata-kata. Terdiam memikirkan bagaimana nasib ke depannya, bertindak juga selalu salah di mata semua orang yang memandangnya hina.
***
Halo sahabat Arum. Terima kasih, ya sudah komen dan memberikan vote di part 24. Baca komen dari kalian tuh energi buat aku sebagai penulisnya. Boleh gak di part ini tembusin 100 komentar guys? jangan lupa vote juga ya.
YUK TEMBUSIN 100 KOMENTAR GUYS. TERIMA KASIH SEHAT SELALU UNTUK KALIAN YANG UDAH BACA CERITA ARUM.
***
Happy Reading!
Selalu salah itulah yang di rasakan oleh Raina, sebagai korban kekerasan seksual dari tiga kakak kelasnya, masa depannya sudah tak usah di tanya, hancur lebur seperti kertas yang terbakar oleh Anala. Terkadang ia terus memikirkan, bagaimana jalan terbaik untuk hidupnya? Ia harus melakukan apa? Yang ada hanya jalan pintas dengan mengakhiri semuanya. Padahal bunuh diri sangat di benci oleh agama juga akan memberikan luka pada orang-orang yang begitu mencintai dan menyayangi nya. Terdiam dan terus terdiam itu lah yang Raina lakukan sekarang. Mendengar jawaban Dion yang tak akan pernah bertanggung jawab membuat ia kehilangan arah untuk melangkah ke depan.
"Apa Raina aborsi aja bang?" Pertanyaan tiba-tiba dari Raina memecahkan keheningan. Dua orang yang terdiam menoleh secara spontan dengan tatapan yang tak percaya pada Raina yang terus menundukkan kepalanya. "Raina gak tahu lagi harus gimana. Raina harus apa? Raina gak mau anak ini nantinya gak punya ayah."
Surya yang mendengar itu tentu saja emosi mendengar nya. Sejak lama ia sudah memendam emosi dan amarahnya pada Raina yang mengecewakan semua pihak termasuk ayahnya, hingga ia meninggal dunia. Kini apa lagi? Adiknya ingin mengakhiri darah dagingnya sendiri? Ini gila baginya.
"Kamu gak berpikir? imbas dari kamu melakukan aborsi akan menambah dosa bagi ayah. Jangan buat ayah lebih malu dan bersalah lagi di hadapan Allah, Na."
Raina diam. Ia mencengkram kuat sofa yang saat ini ia duduki. Pandangannya tak berani menatap abangnya, yang sudah jelas marah saat ini.
"Bener kata Abang kamu. Aborsi bukan jalan terakhir, Raina. Kamu gak boleh kaya gitu," sahut Saskia menyetujui apa kata Abang Raina.
"Terus aku harus gimana? Aku kehilangan semuanya. Abang dan Saskia gak tahu gimana jadi Raina saat ini. Omongan tetangga, hamil gak punya suami, bahkan ayah meninggal gara-gara Raina. Raina harus apa? Bahkan Raina merelakan mimpi Raina, mengakhiri olimpiade sekolah. Untuk apa Raina punya anak? Untuk apa!" seru Raina menatap Saskia dan Surya dengan mata yang berkaca-kaca.
"Kamu tanya ke kami? Seharusnya kamu berkaca kepada diri sendiri! Kamu bodoh Raina! Abang kira kamu perempuan yang bisa jaga kehormatan kamu sendiri, tapi Abang salah! Abang salah besar! Abang nyesel punya adik kaya kamu! Gara-gara kamu, Ayah meninggal! Nama keluarga kita jadi jelek. Sekarang kamu mau nambah beban Abang dan kasih hukuman berat buat ayah di sana? Seharusnya kamu mikir dari awal. Jangan pernah mau di sentuh oleh orang. Sudah berapa kali Abang kasih tahu ke kamu? Jauhi Dion! Tapi kamu tetap saja ngeyel. Sekarang menyesal, kan? Tidak mendengarkan Abang?"
"Jadi Abang salahkan Raina? Iya?" tanya Raina dengan air mata yang sudah menetes di pipinya.
"Jelas! Kamu itu aib keluarga kita! Gara-gara kebodohan kamu, ayah, Abang, dan Bunda tanggung malunya. Sudah jelas ini salah kamu. Kamu yang menjebak dirimu sendiri dalam masa depan yang gelap dan gak ada artinya lagi," sahut Surya dengan nada tinggi dan emosi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Raina, Hujan Telah Datang (NEW VERSION)
FanfictionDipatahkan oleh keadaan Dianggap sampah oleh lingkungan sekitar Dijauhkan dari masa depan dan kebahagiaan Kata orang hal yang paling bahagia adalah bisa meraih segala asa. Satu persatu tujuan hidup tercapai, adanya kebahagiaan dan terus berjalan u...
